Dear my good trash, kau tahu? BP2M kini makin sepi…
Permasalahan makin rumit aku rasakan. Seringkali keinginan
muncul bagaimana aku lebih baik tak terlalu memikirkan persoalan yang hanya
membuat hati makin keruh, karena objek yang menjadi permasalahan sulit
dikendalikan. Tapi bagaimana sebaiknya aku fokus pada menggali wawasan dan ilmu
yang bisa aku dapatkan di BP2M, sebanyak yang aku bisa. Namun, itu sulit.
Secara tak sengaja dan tak terencana, pikiranku tetap dibebani tugas bagaimana
mencari solusi atas permasalahan yang ada di BP2M. Mungkin ini salah satu ritme
kehidupan, yang harus aku jalani saat ini. J
Ya, aku belajar banyak dari semuanya. Permasalahan yang ada di
BP2M, khususnya mengenai keanggotaan, memberiku pelajaran bahwa ternyata setiap
orang memang memiliki cara pandang yang
berbeda-beda terhadap sesuatu. Dan aku harus menghargai itu. Perjumpaan dengan
orang-orang yang mempunyai keberagaman dalam segala aspek ini tentu akan aku
temui kembali di kehidupan mendatang, dalam keadaan yang lebih beragam bahkan.
Dengan mengetahui hal tersebut, semestinya dapat aku
mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana aku jangan langsung
memandang negatif pada sesuatu yang sedang aku hadapi sekalipun terlihat sudah
jelas mengarah pada negatif. Semestinya aku dapat memandang sesuatu menggunakan
berbagai cara pandang, dari berbagai sisi, perpektif yang tak sempit lagi, tapi
berusaha memperluasnya. Kemudian kembali sadar, bahwa setiap orang punya
pandangan yang berbeda. Lalu berusaha mencari alasan yang positif pada
persoalan yang sedang aku hadapi tersebut. Setelah itu, aku akan menjadi
sedikit lebih lega, permasalahan tak terasa berat lagi. Bersyukur dan
menyerahkan segalanya pada Allah, itu membuat hati dan jiwa merasa lebih baik.
Dear, ada kawan yang pernah bercerita, dia anggota BP2M juga.
Dia pernah mengatakan, bahwa beberapa tahun terakhir ini BP2M
dalam kondisi sakit, dan tahun ini sakitnya semakin parah. Entah tahun depan
menjadi tahun kebangkitan atau malah kematian bagi BP2M. Begitu katanya.
Pernyataan yang menggangguku sampai saat ini. Ho ho ho…
Memang sulit, sungguh. Mengubah mereka yang kontra dengan
pemikiran kita menjadi pro. Kita tak dapat memaksanya. Dulu akupun begitu, tak
begitu suka dengan beberapa orang yang dikatakan sebagai ‘senior’ yang selalu
ada untuk BP2M, mereka terlalu serius dan kurang menghibur. Pikirku dulu.
Namun, setelah aku membuka mata, telinga, dan hati lebih lebar.
Aku menjadi semakin tahu, bahwa sebenarnya yang ada dalam diri mereka baik.
Bahkan mungkin kita belum mampu seperti mereka. Yang begitu peduli dengan BP2M,
yang memikirkan masa depan BP2M, yang selalu berusaha membimbing adik-adiknya.
Mereka tak pernah mengeluh, meski sudah tentu mereka lelah. Memikirkan solusi,
mengonsep acara, untuk seluruh anggota BP2M. Demi re-generasi, demi
keberlanjutan organisasi yang kami cintai ini. Organisasi yang mengajariku
banyak hal.
Belum lama ini, ada kakak senior, salah satu dari yang telah aku ceritakan, dia mengungkapkan sesuatu yang cukup mengejutkanku.
“Aku akan berusaha menjadi teman yang menyenangkan bagi kalian.
Jika memang harus seperti ini: aku terlihat jorok, orang-orang memandangku
buruk, tak apalah. Karena biasanya jika menjadi baik, sulit dianggap. Justru
dengan menjadikan diriku terlihat buruk itulah orang-orang akan menganggap
keberadaanku. Biarlah… aku berbelok dari sifat asliku, dari prinsipku, dari
diriku yang sebenarnya. Demi dekat dengan kalian,” begitu katanya.
Entahlah, jika menurutku, tak ada sedikitpun niatan buruk mereka
untuk kita di BP2M ini. Mungkin cara dan sikap mereka saja yang selama ini
kurang diterima kebanyakan anggota yang lain.
Setelah aku tahu dan mencoba memahami mereka, aku menjadi kebal,
bahkan aku tak tega jika masih harus membiarkan mereka mengurusi tetek-bengek
urusan organisasi, padahal semestinya mereka sudah bisa fokus pada urusan akhir
kuliah mereka, meninggalkan dunia kampus dengan iringan para juniornya yang
bersedia meneruskan perjuangan.
Yah, Dear, organisasi pers memang sulit. Penuh tekanan dan hanya
mereka yang kuat yang mampu bertahan.

Ini pun pernah kurasakan. :)
ReplyDeleteHihi masa to mas? terus gimana kelanjutannya? gantian cerita dong mas :D
ReplyDeleteSehat, Pram?
ReplyDeleteSebagai anak muda yang baru belajar, saya hanya mengangguk sembari berkata hemmm -__-
ReplyDelete