Rutinitas PPL atau Praktik Pengalaman
Lapangan, alias latihan jadi guru di sekolah tertentu, membuatku tak jarang
merasa jenuh dan sesekali harus me-refresh diri. Kali ini sepulang sekolah, aku
mengajak salah satu partner mainku ke salah satu objek tak jauh dari kosku.
Bermula dari foto display picture BBM
seorang teman, yang berlatar belakang objek keren banget dan membuatku
ingin
mengunjungi tempat tersebut. Akhirnya sepulang PPL, hanya dengan mampir
sebentar ke kos berganti sepatu dan tas, kami meluncur ke lokasi yang disebut
temanku itu. Kau tahu apa itu, Mans? Untuk kesekian kalinya aku melawan rasa
malu dan rasa khawatir memasuki tempat ibadah agama lain, demi menebus rasa
penasaran dan membahagiakan diri. Hihi. :D![]() |
| Foto pembuka. Hihi. Assalamu'alaikum, Mans.... |
Sebelumnya ada beberapa tempat ibadah
yang juga sudah menjadi objek kunjungan wisata di Semarang dan sekitarnya.
Beberapa yang sempat aku kunjungi seperti Vihara (sebenarnya Vihara atau Wihara sih? Di KBBI hanya ada kata Wihara,
namun kenapa di lokasi yang pernah aku temui bertuliskan ‘Vihara’? Duh -_-) Buddhagaya
Watugong yang terletak di Banyumanik, lalu Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama,
Gereja Goa Maria di Ambarawa, Klenteng di dekat Johar yang aku lupa namanya, dan
yang sudah sangat populer adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan Klenteng
Sam Poo Kong.
Kali ini, aku bersama partnerku
mengunjungi Vihara Tanah Putih yang tentu jelas terletak di daerah Tanah Putih.
Vihara ini termasuk belum begitu populer dan banyak dikunjungi warga. Justru itulah
yang membuatku maju mundur saat sudah memasuki gerbang Vihara tersebut. Bagi
yang belum tahu daerah Tanah Putih, nih aku kasih bocoran. Tahu Java Mall? Nah,
dari situ lurus aja ke arah jalan yang nanjak / arah Tembalang. Setelah
melewati bangjo, di tanjakan sebelah kiri, akan ada gerbang berwarna putih yang
lumayan besar, di atasnya terpampang tulisan ‘Vihara Tanah Putih’. Masuk aja,
Monggo... ;)
Setelah aku berusaha keras melawan
rasa malu dan khawatir, akhirnya aku tetap berusaha pede mengajak partnerku masuk
dan parkir di samping beberapa motor dan mobil yang sudah terparkir. Benar,
gawat, jadi deg-degan nih tiba-tiba ada Pak Satpam yang mendekat ke arah kami.
Aku kira Satpam itu akan langsung memarahi kami, ternyata Pak Satpam hanya
menanyakan tujuan kami dan meminta salah satu dari kami meninggalkan kartu
tanda pengenal. Kuserahkanlah KTP ku yang mengandung foto wajah termanis
sepanjang sejarah peradaban manusia. Wuahaha. Baiklah, abaikan. >=)
Aku bersama Pak Satpam dan seorang
bapak-bapak yang tiba-tiba muncul, bahkan menjadi sangat akrab dan berguyon-ria
untuk beberapa saat sebelum akhirnya kami ditunjukkan jalan menuju lantai atas.
![]() |
Dari bawah dan jalan raya tempat ini
memang terlihat tidak menarik. Namun siapa sangka, baru menginjak lantai ke dua
saja kami sudah disuguhkan pemandangan yang gak mengecewakan. Terlebih bagiku
yang suka sekali melihat lautan rumah dari atas, apalagi jika malam hari. Aku
bisa melihat lautan lampu dari tempat yang cukup nyaman untuk aku berdiri
seperti ini, wow amazing!
![]() |
| Serius motret dari lantai 2 |
Di lantai ini juga banyak
patung-patung yang memiliki arti khusus yang sayang sekali belum kuketahui
maknanya. Ada juga ruangan utama untuk beribadah yang saat aku berkunjung,
pintunya sedang terbuka namun dari luar aku tidak melihat siapa-siapa di ruang
ibadah yang megah itu.
![]() |
| Ruang ibadah yang lengang... |
Lanjut menaiki anak tangga ke lantai
tiga, aku kembali dibuat tercengang. *lebay tapi jujur. Meski siang ini panas terik matahari sedang berada dalam puncaknya, aku tak peduli. Pemandangan yang
disuguhkan membuatku berkali-kali terpesona dan begitu menikmati. Ada beberapa kubah
berwarna putih dari segala macam ukuran berjejer rapih yang memiliki aura megah
dan anggun saat ditatap. Tak ketinggalan yang begitu memanjakan mataku adalah
pemandangan lautan rumah yang semakin membuatku takjub berkali-kali. <3<#
Aku berpikir ingin sesekali
mengunjungi tempat ini lagi saat sedih dan butuh ketenangan, terutama pada
malam hari. Agar aku bisa menikmati lautan lampu yang bahkan bisa membuat air
mataku menggenang karena terharu melihatnya. Namun, di papan pengumuman tempat
ini hanya dibuka pukul 07.00 – 18.00 (kalau tidak salah).
Yaa, semoga saja selalu ada cara untuk
membuat hati ini bahagia, dimanapun, dengan siapapun, dan dalam momen
bagaimanapun. Syukur suatu saat bisa setiap hari menikmati lautan lampu bersama
lelaki yang kucintai, sampai tua, sampai mati. Aamiin. <3
Okay, itu sedikit cerita pengalaman
yang bisa aku bagikan. Semoga ada hal baik yang bisa dipetik yaa Mans, meskipun
sekecil biji zarah. Hehe. Sampai jumpa di cerita pengalaman berikutnya! ^_^
By: KDP










0 Response to " Nikmatnya Melihat Lautan Rumah dari atas Tempat Ibadah "
Post a Comment