Nikmatnya Melihat Lautan Rumah dari atas Tempat Ibadah

adsense 336x280

Rutinitas PPL atau Praktik Pengalaman Lapangan, alias latihan jadi guru di sekolah tertentu, membuatku tak jarang merasa jenuh dan sesekali harus me-refresh diri. Kali ini sepulang sekolah, aku mengajak salah satu partner mainku ke salah satu objek tak jauh dari kosku.
Bermula dari foto display picture BBM seorang teman, yang berlatar belakang objek keren banget dan membuatku
ingin mengunjungi tempat tersebut. Akhirnya sepulang PPL, hanya dengan mampir sebentar ke kos berganti sepatu dan tas, kami meluncur ke lokasi yang disebut temanku itu. Kau tahu apa itu, Mans? Untuk kesekian kalinya aku melawan rasa malu dan rasa khawatir memasuki tempat ibadah agama lain, demi menebus rasa penasaran dan membahagiakan diri. Hihi. :D

Foto pembuka. Hihi. Assalamu'alaikum, Mans....

Sebelumnya ada beberapa tempat ibadah yang juga sudah menjadi objek kunjungan wisata di Semarang dan sekitarnya. Beberapa yang sempat aku kunjungi seperti Vihara (sebenarnya Vihara atau Wihara sih? Di KBBI hanya ada kata Wihara, namun kenapa di lokasi yang pernah aku temui bertuliskan ‘Vihara’? Duh -_-) Buddhagaya Watugong yang terletak di Banyumanik, lalu Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Gereja Goa Maria di Ambarawa, Klenteng di dekat Johar yang aku lupa namanya, dan yang sudah sangat populer adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan Klenteng Sam Poo Kong.

Kali ini, aku bersama partnerku mengunjungi Vihara Tanah Putih yang tentu jelas terletak di daerah Tanah Putih. Vihara ini termasuk belum begitu populer dan banyak dikunjungi warga. Justru itulah yang membuatku maju mundur saat sudah memasuki gerbang Vihara tersebut. Bagi yang belum tahu daerah Tanah Putih, nih aku kasih bocoran. Tahu Java Mall? Nah, dari situ lurus aja ke arah jalan yang nanjak / arah Tembalang. Setelah melewati bangjo, di tanjakan sebelah kiri, akan ada gerbang berwarna putih yang lumayan besar, di atasnya terpampang tulisan ‘Vihara Tanah Putih’. Masuk aja, Monggo... ;)

Setelah aku berusaha keras melawan rasa malu dan khawatir, akhirnya aku tetap berusaha pede mengajak partnerku masuk dan parkir di samping beberapa motor dan mobil yang sudah terparkir. Benar, gawat, jadi deg-degan nih tiba-tiba ada Pak Satpam yang mendekat ke arah kami. Aku kira Satpam itu akan langsung memarahi kami, ternyata Pak Satpam hanya menanyakan tujuan kami dan meminta salah satu dari kami meninggalkan kartu tanda pengenal. Kuserahkanlah KTP ku yang mengandung foto wajah termanis sepanjang sejarah peradaban manusia. Wuahaha. Baiklah, abaikan. >=) 

Aku bersama Pak Satpam dan seorang bapak-bapak yang tiba-tiba muncul, bahkan menjadi sangat akrab dan berguyon-ria untuk beberapa saat sebelum akhirnya kami ditunjukkan jalan menuju lantai atas.


 
halaman ruang ibadah di lantai 2
Dari bawah dan jalan raya tempat ini memang terlihat tidak menarik. Namun siapa sangka, baru menginjak lantai ke dua saja kami sudah disuguhkan pemandangan yang gak mengecewakan. Terlebih bagiku yang suka sekali melihat lautan rumah dari atas, apalagi jika malam hari. Aku bisa melihat lautan lampu dari tempat yang cukup nyaman untuk aku berdiri seperti ini, wow amazing!
Serius motret dari lantai 2

Di lantai ini juga banyak patung-patung yang memiliki arti khusus yang sayang sekali belum kuketahui maknanya. Ada juga ruangan utama untuk beribadah yang saat aku berkunjung, pintunya sedang terbuka namun dari luar aku tidak melihat siapa-siapa di ruang ibadah yang megah itu.

Ruang ibadah yang lengang...

Lanjut menaiki anak tangga ke lantai tiga, aku kembali dibuat tercengang. *lebay tapi jujur. Meski siang ini panas terik matahari sedang berada dalam puncaknya, aku tak peduli. Pemandangan yang disuguhkan membuatku berkali-kali terpesona dan begitu menikmati. Ada beberapa kubah berwarna putih dari segala macam ukuran berjejer rapih yang memiliki aura megah dan anggun saat ditatap. Tak ketinggalan yang begitu memanjakan mataku adalah pemandangan lautan rumah yang semakin membuatku takjub berkali-kali. <3<#




Aku berpikir ingin sesekali mengunjungi tempat ini lagi saat sedih dan butuh ketenangan, terutama pada malam hari. Agar aku bisa menikmati lautan lampu yang bahkan bisa membuat air mataku menggenang karena terharu melihatnya. Namun, di papan pengumuman tempat ini hanya dibuka pukul 07.00 – 18.00 (kalau tidak salah).

Yaa, semoga saja selalu ada cara untuk membuat hati ini bahagia, dimanapun, dengan siapapun, dan dalam momen bagaimanapun. Syukur suatu saat bisa setiap hari menikmati lautan lampu bersama lelaki yang kucintai, sampai tua, sampai mati. Aamiin. <3


Okay, itu sedikit cerita pengalaman yang bisa aku bagikan. Semoga ada hal baik yang bisa dipetik yaa Mans, meskipun sekecil biji zarah. Hehe. Sampai jumpa di cerita pengalaman berikutnya! ^_^


By: KDP
adsense 336x280

0 Response to " Nikmatnya Melihat Lautan Rumah dari atas Tempat Ibadah "

Post a Comment