Cerita Makan di Restoran yang Bisa Menghabiskan Gaji Satu Bulan untuk Sekali Makan

adsense 336x280
Sebelumnya, masih di bulan yang sama, untuk tanggal 10 Maret 2016 lalu, saya sebagai adik yang insyaAllah solehah mengucapkan Sugeng Ambal Warsa buat kedua kakak perempuan tercinta, Vanny Martianova Yudianingtyas dan Sukmariana Elok Sekarsari. Kalau meminjam istilah anak hits jaman sekarang, saya mengucapkan Selamat Hari Menetas, Jangan jadi tua yang menyebalkan. Hehee..doanya sudah panjang lebar saya berikan yaaa (di dalam hati. Denger gak?) 
***

Baiklah Sobat yomaca.id, ceritanya waktu itu karena kedua kakak saya ber-ultah bebarengan, akhirnya sebagai adik yang manja lan mentel (?) saya mengajak mereka untuk melaksanakan kegiatan wajib (baca: makan-makan) di tempat yang berbeda dari biasanya. Saya sedang menginginkan suasana romantis rumah makan yang dari sana dapat melihat lautan lampu kota Semarang. Awalnya saya merekomendasikan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi bersama... *tiiiit*, tetapi saya pikir tempat makan tersebut kurang sesuai untuk makan acara keluarga karena suasana romantis gelap yang lebih cocok diimplementasikan oleh sepasangan kekasih yang lagi kasmaran. *AZEK... =D

Saat masih ribut berdiskusi, akhirnya Mbak Nia (calon kakak ipar) yang pendiam mengeluarkan suaranya. Dia mengusulkan satu nama yang pernah dia kunjungi bersama teman-temannya, tempat makan yang katanya bisa melihat lautan lampu juga. Karena saya pernah mendengar nama tempat makan itu, dan merasa tertarik karena belum pernah mencoba makan di tempat tersebut, akhirnya saya setuju dengan usul Mbak Nia dan otomatis yang lain pun harus setuju. Haha.

Kami berangkat kira-kira pukul 9 malam ke lokasi yang jaraknya sangat dekat dari tempat berkumpul (kos saya). Kesan pertama sampai di lokasi, seperti sudah memberikan aba-aba “Awas! Ini tempat makan mahal!”. Hal itu diperlihatkan parkiran yang berisi puluhan mobil dan hampir tidak ada kendaraan roda dua yang terparkir. Koena-Koeni Cafe Gallery nama tempat makan yang kami kunjungi.

foto pembuka....

Sejak pertama menginjakkan kaki ke pintu masuk, kami merasa seperti berada di hotel bintang lima. Setelah berkeliling sembari mencari spot yang pas untuk kami bertujuh duduk, akhirnya kami tahu, ternyata tidak ada tempat duduk yang benar-benar langsung menghadap lautan lampu. Nuansa di bagian halaman belakang seperti kafe yang cocok untuk nongkrong anak muda, ada panggung yang menyajikan lagu-lagu live perform. Kami akhirnya memilih tempat duduk di dalam ruangan yang dingin sekaligus terkesan mewah, glamour, dan kuno!


 
pintu masuk
 
suasana halaman belakang
di salah satu sisi, ada atap yang biasa untuk pertunjukan pentas gamelan, gitu2


Saat kami akan duduk, seperti di restoran-restoran mahal, para pelayan langsung membuka kursi yang akan kami dudukki, memberikan buku menu, dan pelayan lain datang memberikan jamu mirip kunyit asam menggunakan gelas-gelas kecil, serta menyuguhkan keripik singkong satu wadah besar. Benar-benar seperti pelayanan di hotel bintang lima! B-)



Seperti namanya, ornamen-ornamen bangunan bergaya sangat kuno, furnitur yang digunakan hampir keseluruhan menggunakan kayu jati yang memberi kesan eksotik, lantainya bermotif batik yang memberi kesan mewah, pun dengan barang-barang yang dipajang di berbagai sudut ruangan. Mulai dari motor, mesin ketik, mesin jahit, radio, cangkir, teko, lukisan, almari, dan lain-lain semuanya benar-benar kuno! Jadul! Antik! Apapun itu istilahnya.



Setelah membuka buku menu, barulah kami dikejutkan dengan harganya yang, ehm. WOW! Bukan berarti sombong, sejujurnya ini bukan kali pertama kami makan di tempat mahal. Namun mahal yang tipe seperti ini benar-benar baru kami rasakan. Biasanya restoran lumayan mahal yang pernah kami kunjungi seperti D’Cost, Kedai Beringin, Gama, IBC, Djowo Deles, dan lain-lain memiliki tipe menu makan utama yang satu porsinya bisa dimakan beberapa orang. Sehingga meskipun harganya terbilang mahal untuk satu porsi bisa lumayan hemat karena dimakan untuk beberapa orang.

Namun, di Koena-Koeni Cafe Gallery ini harganya benar-benar fantastis untuk porsi kecil yang hanya bisa dinikmati satu orang. Contoh paling memperlihatkan betapa mahalnya harga menu di restoran ini adalah dari es teh yang satu gelasnya dihargai Rp. 18.000. Serta Beef Steak yang dihargai 260 K. X_X ... yang biasa beli di WS pasti tahu yaa harga Beef Steak di WS berapa.



Akhirnya kami memesan menu jajanan ringan yang tak terlalu mahal dibanding menu lainnya. (Efeknya? Jujur, hanya kenyang sesaat. Akibatnya, sepulang dari Koena-Koeni ada sesi makan malam kedua di kucingan, yang murah dan mengenyangkan. Hahaha.)
Setelah puas menyantap sajian, kami berfoto-foto ria di balkon yang memberi latar belakang lautan lampu, dan tak lupa meminta pelayan untuk mengabadikan momen kami bertujuh di dalam ruang makan.
 
OMG salah kostum beneran deh... gak sukkkaaaa..
Lautan lampu bisa dilihat dari balkon parkiran belakang



Oh iya, di beberapa sudut ruangan terdapat patung-patung yang cukup membuat kami kaget karena ukurannya yang cukup besar dan terlihat nyata. Yaitu beberapa patung Anjing, Singa, dan manusia. OMG, untuk kedua kalinya kami merasa bersalah karena makan di tempat yang sangat terlihat jelas pemiliknya bukan saudara kami (dalam hal agama). Sebenarnya gak masalah, tetapi kalau ingat Audio Motivasi dari Enterprenenur Bagus Hernowo berjudul “Boikot”, Ah, jadi sedih dan merasa bersalah lagi. Tetapi memang cukup sensitif dan perlu diperhatikan kalau dalam hal makanan, karena berkaitan dengan halal-haram. :(



Tetapi yasudah, akhirnya, pesan kali ini (ciye), mahal memang relatif. Mungkin bagi sebagian sobat yomaca.id yang membaca artikel ini berpikiran harga menu di Koena-Koeni Cafe Gallery standar saja dan cerita saya berlebihan. Intinya, apapun yang sudah dijalani tak perlu disesali karena tak ada gunanya, cukup dinikmati dan diambil pelajaran. Setidaknya kami pernah menikmati makanan dengan nuansa mewah seperti itu dan pengetahuan kami bertambah bahwa ada tempat makan dengan harga seperti itu. Tentunya ada banyak restoran mahal seperti itu, bahkan pasti ada yang lebih mahal lagi. Bukan hanya soal rasa yang mereka jual, tapi juga pelayanan, desain tempat yang menarik (dan saya rasa modal untuk desain tempatnya pun sangat besar!), serta prestise yang banyak diinginkan orang-orang jaman sekarang.

Penampakan pintu dari halaman belakang. Di samping kanan dan kiri nongol patung Singa yang gede+item banget. Hiiiiiiii

 
narsis dulu sebelum pulang. ini semua saudara kandungku, kurang satu kakak cowo yang lagi berjuang di tanah rantau mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membeli berlian. haha

Oke, semoga bisa jadi bahan pertimbangan yang mau nguliner di Semarang dan boleh dipertimbangkan bagi yang mau bisnis kuliner... ;)
***
 Ini beberapa wujud menu yang kami pesan dan sempat dipotret. Mengenai judul postingan yang lebay ini hanya berlaku jika sobat membawa rombongan seperti kami ini. :D
 
pudding stroberi apa gituu



es pisang ijo
es campur apa gituu
sup buah
lupa. mashroom apa gituu
****** Semua foto dalam postingan ini diambil menggunakan HP kakak saya, Oppo Find 5 mode HDR. <3

Oh iya, ini alamat lokasi dari beberapa nama tempat makan yang sudah saya sebutkan di atas:

Koena-Koeni Cafe Gallery:
Jalan Tabanan No. 4, Candi Baru (Jonas Photo naik, belok kiri)
D’Cost:
Jl. Pemuda No. 94-96 Kembang Sari Semarang Tengah Semarang, dan Jalan Depok (kalor ga salah, pernah lihat)
Kedai Beringin:
Jl. Imam Bonjol no 114 (Seberang Stasiun Poncol) Semarang
Gama Ikan Bakar & Seafood:
Jl. MT. Haryono No 870A Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Ikan Bakar Cianjur (IBC):
Jl. Teuku Umar No. 8, Semarang dan Kawasan Kota Lama
Djowo Deles:
Jln. Kedungmundu Raya No. 83, Semarang
adsense 336x280

0 Response to " Cerita Makan di Restoran yang Bisa Menghabiskan Gaji Satu Bulan untuk Sekali Makan "

Post a Comment