November 2012, aku mengikuti sebuah acara yang begitu menarik
perhatianku sejak pertama kali melihat selebaran yang memuat informasi acara
itu. Datang dengan membawa banyak pertanyaan yang tersimpan baik di
pikiran-sebagai bentuk rasa penasaran. Lalu
duduk manis di salah satu sudut ruangan, mengenal beberapa orang, dan mencatat apa yang aku rasa layak untuk dicatat-saat aku memperhatikan. Aku berperan sebagai penggembira, partisipan, penikmat-dalam sebuah acara. Begitu saja.
duduk manis di salah satu sudut ruangan, mengenal beberapa orang, dan mencatat apa yang aku rasa layak untuk dicatat-saat aku memperhatikan. Aku berperan sebagai penggembira, partisipan, penikmat-dalam sebuah acara. Begitu saja.
![]() |
| 2012-Terlihat sebagai peserta yang sok serius, dan entah memperhatikan pemateri atau apa. -_- *rotfl* |
November 2013, aku kembali mengikuti acara itu, dengan tema
berbeda, dengan peran berbeda. Bukan hanya sebagai penikmat, namun ikut serta
mempersiapkan acara itu. Aku mendapat sedikit wacana, mengenai hal teknis
bagaimana acara itu dapat terlaksana dengan baik. Aku menjadi panitia,
mengenakan seragam kebesaran dengan logo di bagian lengan kiri bertuliskan
“Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa” yang amat berat untuk aku pakai. Berat
berkaitan dengan tanggung jawab. Sebagai panitia, kerjaku sama dengan panitia
lain, memiliki tanggung jawab masing-masing yang telah dibagi. Bahkan mungkin
kerjaku tak seberapa, hanya membuat desain stiker, itu saja yang aku ingat. Ada
satu hal lagi peranku kala itu, yang cukup memberi kesan dalam hidupku, yaitu
menjadi moderator pembicara dalam acara yang diikuti oleh lebih dari 100
peserta itu. Mungkin terlihat biasa saja bagi banyak orang, namun bagiku, itu
hal baru-bagiku yang tergolong bukan orang percaya diri berbicara di hadapan
khalayak umum.
| 2013-Menjadi moderator salah satu pemateri, Syamsul Huda, Kepala Sekolah Jurnalistik Semarang (lupa-lupa ingat, semoga gak salah -_-) |
Oktober 2014, aku merasa tak bisa sepenuhnya tenang saat mengikuti
acara itu (lagi). Bahkan, perasaan itu sudah aku rasakan sejak jauh-jauh hari sebelum
pelaksanaan. Kali ini, peran yang aku dapat menuntutku mendapat wacana banyak
mengenai persiapan teknis acara. Aku pastikan segala hal yang mendukung acara
itu dapat terlaksana dengan cukup baik-aku tahu. Meski tak semua lini aku
masuki dengan terjun langsung ke lapangannya. Tapi di sini aku berperan sebagai
pemberi komando, yang bertugas memberi arahan para prajurit. Tak pernah aku
bayangkan sebelumnya akan mendapatkan peran ini-mungkin memang karena
terbatasnya awak yang masih aktif di organisasi, entahlah.
Alhamdulillah, steering
commite menilai, banyak hal baru yang ada di acara tahun ini, dan
membedakan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tentang pameran lukisan, pameran
foto, pameran foto esai, pengisi hiburan, diadakannya beberapa lomba yang
menjadi serangkaian acara, dan pemateri dengan sistem penyampainnya-yang
terdapat sedikit perubahan. Namun aku
sadari, aku masih memiliki kekurangan di sana-sini selama mengomandoni acara
itu. Yang paling kentara aku rasakan, aku belum cukup mampu berbincang dengan
tamu, kesempatan mengambil banyak ilmu dari mereka-entah dia sebagai pembicara,
wartawan yang datang meliput, delegasi LPM, atau beberapa peserta yang bisa dikatakan
‘spesial’ dibanding peserta umumnya. Entahlah. Yang pasti, aku kembali melewati
momen baru, tantangan baru, sepanjang hidupku. Setelah memberi sambutan sebagai
ketua panitia di hadapan lebih dari 100 orang-dengan gaya yang masih kaku
karena baru kali pertama, kemudian menuntaskan serangkaian acara sampai pada
evaluasi panitia, aku merasa sangat lega-setidaknya untuk sementara, aku
menjadi seperti baru melahirkan seorang bayi. Rasanya sangat lega, ya begitu.
Tapi aku tahu, banyak tantangan lain yang masih menunggu dan harus aku
hadapi-sebagai orang yang katanya penyuka tantangan.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukanku
dengan mereka. Kawan-kawan yang hebat. Juga dengan dunia yang mengajariku arti
pentingnya sebuah proses. Kini aku semakin yakin bahwa apa yang Engkau rencanakan untukku
memang yang terbaik. Selama ikhtiar sudah dilakukan, aku hanya ingin melakukan
apa yang memang harus dilakukan dan tanpa mengurangi rasa nyaman yang tumbuh dari
dalam hati. I feel thanks for you all, the big family of BP2M Unnes ;) ({})
*Acara rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh BP2M Unnes sejak tahun 2009.
Acara bertajuk 'Pendidikan Dasar Jurnalistik' yang tahun ini mengambil tema 'Pers Era Timeline'.
Mau tau lebih lengkap lagi? Tanya langsung aja :p Haha

0 Response to " Cerita Sebuah Acara* "
Post a Comment