Cerita Perjalanan ke dan di Tuban #2

adsense 336x280

Baca dulu cerita sebelumnya



Sepanjang pinggiran jalan keluar masuk tepi pelabuhan, kami melewati bangunan mirip saluran pipa-pipa besar yang disebut
Belt Conveyor. Bangunan yang berfungsi sebagai jalur pengangkut sumber bahan-bahan ke lokasi produksi. Tujuan dibangunnya jalur tersebut agar lebih ramah lingkungan, sehingga tidak perlu menggunakan truk sebagai pengangkut.


Selanjutnya, kami diajak ke lokasi reklamasi batu bara. (Hmmm... sebenarnya sepanjang perjalanan muter-muter pabrik semen ada yang kurang bisa dipahami juga, karena menggunakan istilah-istilah yang asing dan tidak semuanya dijelaskan satu per satu oleh pemandu. Hihi. Semoga apa yang menjadi catatan kecilku bisa tepat memberikan gambaran apa yang aku lihat. Hihi.)

Dalam KBBI, reklamasi diartikan sebagai usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna. Daerah yang aku lewati penuh dengan debu. Namun yang menakjubkan adalah sebagian besar dalam pabrik dipenuhi berbagai pepohonan hijau. Bahkan di beberapa titik yang dekat dengan kantor dan jauh dari bahan-bahan pembuat semen, banyak tanaman hijau yang benar-benar bersih dan cocok untuk dijadikan latar berfoto. Hihi.

Menurut pemandu, inilah usaha dari pabrik berupa komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat (CSR). Terdapat istilah green belt yaitu untuk kawasan di sekitar pabrik berupa tanah yang luasnya berhektar-hektar untuk dimanfaatkan oleh para petani green belt. Siapa petani green belt? Mereka adalah 350 warga yang tinggal di sekitar pabrik lalu dibina dan diberi kesempatan untuk menanami area green belt dengan berbagai macam tanaman. Kemudian mereka sendiri yang mengelola dan menikmati hasilnya tanpa dipungut pajak sedikitpun. Beberapa tanaman yang sempat saya lihat antara lain jagung, cabai, dan pohon jati, serta tanaman campuran lain yang banyak jenisnya. Katanya pemandu lagi nih, semua usaha itu bekerjasama dengan Perhutani.

Sepanjang perjalanan berkeliling area pabrik, sebanyak 5 bis rombongan dari WEGI 3 selalu dikawal mobil polisi yang terus-menerus mengeluarkan bunyi nguing nguing.. hihi.
Di pinggiran pabrik, aku melihat banyak sekali karikatur yang terpampang di tembok. Gambar itu berisi nasihat-nasihat mengenai pentingnya memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Pantesan, saat berkeliling pabrik meski di dalam bis, kami tetap harus mengenakan masker dan helm pelindung. Ternyata keselamatan bekerja sangat diperhatikan. Padahal lucu yaa di dalam bis tetap mengenakan masker dan helm. Hihi.


Menurut pemandu, produksi di pabrik semen tidak pernah berhenti. Hal itu disebabkan pabrik semen harus memenuhi target permintaan yang tinggi di pasar dan jangan sampai terisi oleh perusahaan lain. Terdapat tiga shift waktu kerja bagi karyawan yang bisa menghasilkan 40 ribu ton semen per hari atau 31 juta ton per tahun. Tak heran Semen Gresik menjadi pabrik semen yang produksinya paling besar se-Asia (kata pemandu loh yaa.. hihi.)

Untuk pengetahuan saja, PT. Semen Indonesia memiliki 4 anak perusahaan yaitu Semen Gresik yang berlokasi di Tuban dan Gresik Jawa Timur, Semen Padang, Semen Tonasa di Sulawesi Selatan, dan Thang Long Cement Company yang berlokasi di Vietnam.

Menurut pemandu lagi, keberadaan pabrik semen yang berada di Tuban sudah sangat berpengaruh bagi perkembangan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sebanyak 16 ribu mitra usaha binaan dari PT. Semen Indonesia, 15 ribu di antaranya ada di Tuban.
Untuk membuktikan pernyataan pemandu, kami diajak ke salah satu mitra usaha binaan di Desa Kerek, desa yang paling dekat dengan pabrik (mengehmat waktu. Hihi) . Di sana kami bertemu dengan Ibu Uswatun Khasanah pemilik usaha batik tulis dan Sanggar Batik Sekar Ayu.






Menurut ibu Uswatun, sejak 2007 PT. Semen Indonesia telah menunjukkan kepedulian dengan menyediakan pelatihan desain, pewarnaan, hingga promosi melalui pameran-pameran. Berkat bantuan dari PT. Semen Indonesia itulah usahanya menjadi terkenal sampai sekarang. “Ya Alhamdulillah... Gerai usaha batik saya selalu menjadi langganan wisatawan yang berkunjung ke Tuban. Bahkan saya pernah mendapat penghargaan dari Pak SBY, dan mendapat upakarti yang dinilai oleh juri mulai dari profesor, sejarawan, sampai desainer terkenal,” cerita Ibu Uswatun.

Adapun untuk motif khas adalah gedog yang juga berasal dari bahan kain yang ditenun dengan alat yang bunyinya dog..dog.... Sebelum gedog muncul, ada motif yang bernama lurik. Setelah cina masuk membawa motif lokcan yang menambah keragaman motif batik Tuban. Motif lainnya adalah burung hong, daun, dan motif padi yang menjadi ciri khas batik tuban dengan pewarna alami seperti mahoni, kunyit, dan lain-lain.


Lagi ya, aku sendiri tipe orang yang gak suka baca tulisan panjang dalam satu halaman penuh, karena membuat mata lelah. Untuk baca keseruan cerita selanjutnya mending ganti halaman yuuuk...
adsense 336x280

0 Response to " Cerita Perjalanan ke dan di Tuban #2 "

Post a Comment