Baca dulu cerita sebelumnya
Sepanjang
pinggiran jalan keluar masuk tepi pelabuhan, kami melewati bangunan mirip saluran
pipa-pipa besar yang disebut
Belt Conveyor. Bangunan yang berfungsi sebagai jalur pengangkut sumber bahan-bahan ke lokasi produksi. Tujuan dibangunnya jalur tersebut agar lebih ramah lingkungan, sehingga tidak perlu menggunakan truk sebagai pengangkut.
Belt Conveyor. Bangunan yang berfungsi sebagai jalur pengangkut sumber bahan-bahan ke lokasi produksi. Tujuan dibangunnya jalur tersebut agar lebih ramah lingkungan, sehingga tidak perlu menggunakan truk sebagai pengangkut.
Selanjutnya,
kami diajak ke lokasi reklamasi batu bara. (Hmmm...
sebenarnya sepanjang perjalanan muter-muter pabrik semen ada yang kurang bisa
dipahami juga, karena menggunakan istilah-istilah yang asing dan tidak semuanya
dijelaskan satu per satu oleh pemandu. Hihi. Semoga apa yang menjadi catatan
kecilku bisa tepat memberikan gambaran apa yang aku lihat. Hihi.)
Dalam
KBBI, reklamasi diartikan sebagai usaha memperluas tanah (pertanian) dengan
memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna. Daerah yang aku lewati penuh
dengan debu. Namun yang menakjubkan adalah sebagian besar dalam pabrik dipenuhi
berbagai pepohonan hijau. Bahkan di beberapa
titik yang dekat dengan kantor dan jauh dari bahan-bahan pembuat semen, banyak
tanaman hijau yang benar-benar bersih dan cocok untuk dijadikan latar berfoto.
Hihi.
Menurut
pemandu, inilah usaha dari pabrik berupa komitmen terhadap lingkungan dan
pemberdayaan masyarakat (CSR). Terdapat istilah green belt yaitu untuk kawasan di sekitar pabrik berupa tanah yang
luasnya berhektar-hektar untuk dimanfaatkan oleh para petani green belt. Siapa petani green belt? Mereka adalah 350 warga yang
tinggal di sekitar pabrik lalu dibina dan diberi kesempatan untuk menanami area
green belt dengan berbagai macam
tanaman. Kemudian mereka sendiri yang mengelola dan menikmati hasilnya tanpa
dipungut pajak sedikitpun. Beberapa tanaman yang sempat saya lihat antara lain
jagung, cabai, dan pohon jati, serta tanaman campuran lain yang banyak jenisnya.
Katanya pemandu lagi nih, semua usaha itu bekerjasama dengan Perhutani.
Sepanjang
perjalanan berkeliling area pabrik, sebanyak 5 bis rombongan dari WEGI 3 selalu
dikawal mobil polisi yang terus-menerus mengeluarkan bunyi nguing nguing..
hihi.
Di pinggiran
pabrik, aku melihat banyak sekali karikatur yang terpampang di tembok. Gambar
itu berisi nasihat-nasihat mengenai pentingnya memperhatikan keselamatan dalam
bekerja. Pantesan, saat berkeliling pabrik meski di dalam bis, kami tetap harus
mengenakan masker dan helm pelindung. Ternyata keselamatan bekerja sangat
diperhatikan. Padahal lucu yaa di dalam bis tetap mengenakan masker dan helm.
Hihi.
Menurut
pemandu, produksi di pabrik semen tidak pernah berhenti. Hal itu disebabkan pabrik
semen harus memenuhi target permintaan yang tinggi di pasar dan jangan sampai
terisi oleh perusahaan lain. Terdapat tiga shift waktu kerja bagi karyawan yang
bisa menghasilkan 40 ribu ton semen per hari atau 31 juta ton per tahun. Tak
heran Semen Gresik menjadi pabrik semen yang produksinya paling besar se-Asia (kata pemandu loh yaa.. hihi.)
Untuk
pengetahuan saja, PT. Semen Indonesia memiliki 4 anak perusahaan yaitu Semen
Gresik yang berlokasi di Tuban dan Gresik Jawa Timur, Semen Padang, Semen Tonasa
di Sulawesi Selatan, dan Thang Long Cement Company yang berlokasi di Vietnam.
Menurut
pemandu lagi, keberadaan pabrik semen yang berada di Tuban sudah sangat
berpengaruh bagi perkembangan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat
sekitar. Sebanyak 16 ribu mitra usaha binaan dari PT. Semen Indonesia, 15 ribu
di antaranya ada di Tuban.
Untuk
membuktikan pernyataan pemandu, kami diajak ke salah satu mitra usaha binaan di
Desa Kerek, desa yang paling dekat dengan pabrik (mengehmat waktu. Hihi) . Di sana kami bertemu dengan Ibu Uswatun
Khasanah pemilik usaha batik
tulis dan Sanggar Batik Sekar
Ayu.
Menurut
ibu Uswatun, sejak 2007 PT. Semen Indonesia
telah menunjukkan kepedulian dengan menyediakan pelatihan desain, pewarnaan,
hingga promosi melalui pameran-pameran. Berkat bantuan dari PT. Semen Indonesia
itulah usahanya menjadi terkenal sampai sekarang. “Ya Alhamdulillah... Gerai
usaha batik saya selalu menjadi langganan wisatawan yang berkunjung ke Tuban. Bahkan
saya pernah mendapat penghargaan dari Pak SBY, dan mendapat upakarti yang dinilai
oleh juri mulai dari profesor, sejarawan, sampai desainer terkenal,” cerita Ibu
Uswatun.
Adapun
untuk motif khas adalah gedog yang juga berasal dari bahan kain yang ditenun
dengan alat yang bunyinya dog..dog....
Sebelum gedog muncul, ada motif yang bernama lurik. Setelah cina masuk membawa
motif lokcan yang menambah keragaman motif batik Tuban. Motif lainnya adalah burung
hong, daun, dan motif padi yang menjadi ciri khas batik tuban dengan pewarna
alami seperti mahoni, kunyit, dan lain-lain.
Lagi ya,
aku sendiri tipe orang yang gak suka baca tulisan panjang dalam satu halaman
penuh, karena membuat mata lelah. Untuk baca keseruan cerita selanjutnya
mending ganti halaman yuuuk...






0 Response to " Cerita Perjalanan ke dan di Tuban #2 "
Post a Comment