Plompong,
14 Juli 2015.
Bagi yang udah pinter, sibuk, gak punya banyak
waktu luang buat baca tulisan gak mutu, abal-abal, monggo abaikan tulisan ini. hihi :p
Bulan Juni telah berlalu. Namun, banyak sekali cerita perjalanan
atau perbincangan menarik yang belum aku
tulis rapih hingga layak dibaca banyak orang. Entahlah, akhir-akhir ini semangat menulisku menurun. Bahkan jauh sekali dari kepantasan seseorang yang katanya ingin disebut ‘Penulis’. Saat ini, saat aku mulai kembali menulis non-curhat diary pun masih terasa sangat kaku dan tidak yakin akan layak dipublikasikan, meski di blog pribadi. Namun, aku rasa ada satu perjalanan yang musti aku tulis, meski sekadarnya, hanya berdasar catatan yang sempat aku tulis di gawai yang aku miliki.
tulis rapih hingga layak dibaca banyak orang. Entahlah, akhir-akhir ini semangat menulisku menurun. Bahkan jauh sekali dari kepantasan seseorang yang katanya ingin disebut ‘Penulis’. Saat ini, saat aku mulai kembali menulis non-curhat diary pun masih terasa sangat kaku dan tidak yakin akan layak dipublikasikan, meski di blog pribadi. Namun, aku rasa ada satu perjalanan yang musti aku tulis, meski sekadarnya, hanya berdasar catatan yang sempat aku tulis di gawai yang aku miliki.
06 Juni 2015. Aku bersama beberapa kawan dari universitas atau
lembaga lain melakukan perjalanan yang cukup mengesankan. Tunggu dulu, aku
ceritakan kronologi awal mulanya. Akhir maret lalu, saat aku ribet dengan
urusan nikahan saudara dengan kedatangan keluarga besar ke Semarang. Tiba-tiba
ada sms masuk dari salah seorang senior dari LPM lain di salah satu Universitas
di Semarang. Sudah lama sekali tidak berkomunikasi dengannya. Dia meng-sms yang
isinya aku harus mengirimkan beberapa data pribadi yang dia minta, karena aku
dan fatimah-teman BP2M, diminta mas Yadi (PU BP2M 2015) menjadi delegasi ke
acara tersebut bulan Juni nanti. Karena posisiku sedang riweh dan senior yang
meng-sms itu sepertinya sangat mendesak membutuhkan segera biodataku, akhirnya aku
turuti perintahnya.
Aku tak lagi membahas soal sms yang diminta mengirim biodata
itu. Mendadak, H-2 keberangkatan, aku, fatimah, dan mas Yadi mendapat sms
berisi informasi acara yang akan dilaksanakan tanggal 6 Juni 2015
itu.
Bla...bla...langsung sampai pada 6 Juni 2015 yaa. =D
Pagi, kira-kira pukul 06.00 aku dan teman-teman dari Semarang
berangkat dari masjid Simpanglima, menuju Tuban menggunakan satu bis berukuran
sedang.
Dalam rangka apa ya jauh-jauh
ke Tuban, Jawa timur? Ini dia informasi yang aku tahu satu hari sebelum
keberangkatan dan membuatku kaget. Ternyata acara bertajuk WEGI 3 (Wisata Green
Industry 3) ini berisi serangkaian acara yang akan membuat para peserta lebih
mengenali pabrik semen, khusunya Semen Gresik yang kini sudah menjadi anak dari
Semen Indonesia milik BUMN Indonesia.
Pikiran negatif langsung menghampiri otakku. Seolah-olah kegiatan yang akan aku ikuti ini adalah tindakan jahat sebagai mahasiswa. Sangat kontra dengan apa yang sedang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa lain yang melakukan aksi tidak pro dengan pabrik semen. Terlebih masalah pembangunan pabrik semen di Rembang yang menjadi kontroversi karena banyaknya pro kontra yang menjalar di masyarakat. Aku memang kurang mengikuti perkembangan berita masalah pabrik Semen Rembang itu. Tahu sedikit, tapi jika disuruh berdebat masalah itu, aku lebih memilih angkat tangan. Hee. (begini nih yang katanya calon wartawan. Hiks. Memprihatikankan.)
Lanjut...
Namun, seperti biasa, karena aku berpikir tak ada salahnya untuk pengalaman baru, dan setelah tahu dari website milik WEGI, ternyata tidak semua orang bisa mengikuti kegiatan ini, akhirnya aku lanjutkan untuk mau ikut, lagipula gratis....#maklum anak rantau sukanya nyari gratisan. hihi.
Pikiran negatifku juga tentang bagaimana aku sebagai seorang
anggota LPM yang harusnya kritis, kok
bisa-bisanya seperti dimanfaatkan atau dibodohi oleh perusahaan Semen yang
seolah-olah sedang menarik perhatian agar kami sebagai mahasiswa bisa pro
terhadap pabrik semen. (maaf,
kelemahanku, bingung memposisikan kata ganti. Suka kecampur-campur: aku, kami,
kita. Halaah..banyak banget kelemahannya. W-k-w-k.)
Namun, pikiran negatif itu mulai memudar setelah tahu dari salah seorang peserta bahwa acara semacam ini juga diadakan pada tahun-tahun sebelumnya dengan inti serangkaian acara yang sama, hanya saja wisata hiburannya yang berbeda. Bahkan dia menjadi salah satu peserta WEGI 2 pada tahun sebelumnya. Jadi, menurutku, mungkin memang komitmen dari pabrik semen Indonesia untuk setiap tahun menyelenggarakan acara semacam ini bukan hanya karena lagi gencarnya isu penolakan pendirian pabrik semen di Rembang. Bisa saja niatnya murni untuk membekali peserta dengan pengetahuan mengenai pabrik semen. Entahlah, yang pasti sikap skeptis harus selalu ada dan berusaha bersikap biasa saja terhadap apapun, tak usah berlebihan. Hihi. Juga sikap adil, untuk bisa mendengar atau melihat lebih dekat dari berbagai pihak, apa yang menjadi problem akhir-akhir ini.
Pukul 10.30 rombongan bis kami sampai di kawasan pabrik semen Gresik yang sangat luas. Mba Gemilang, alumni Ilmu Komunikasi Unair yang cantik dan jago nyanyi masuk memandu perjalanan kami yang hanya muter-muter pabrik dari dalam bis. Bersama beberapa karyawan, menjelaskan beberapa hal yang dilewati selama berkeliling pabrik.
Pertama, kami diajak ke pinggir pelabuhan, tempat pengangkutan batubara dari Kalimantan, dan pengangkutan semen yang sudah siap dikirim ke pulau lain menggunakan kapal. “Ini jika kita lurus terus dari garis pelabuhan ini, menyeberang, kita akan sampai di Kalimantan Tengah,” jelas mba Gemilang sambil memeragakan tangannya mengikuti garis lurus yang dimaksud.
Di pinggiran pelabuhan juga banyak berjejer truk-truk pengangkut semen yang siap dibawa ke luar kota, dan juga kapal-kapal yang berisi gundukan batu bara. Dari kejauhan terlihat seperti gundukan pasir biasa, namun bedanya adalah gundukan batubara mengeluarkan asap dan dapat mengeluarkan api karena sangat panas. Fungsinya memang sebagai energi untuk pembakaran semen. Selain batubara, ada juga bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan serta hemat energi, yang masih berusaha dikembangkan oleh PT. Semen Indonesia, yaitu sekam padi dan limbah dari pembuatan rokok hasil pembelian dari PT. Sampoerna yang sudah menjadi mitra kerjasama.
Well, aku sendiri tipe orang yang gak suka baca tulisan panjang dalam satu halaman penuh, karena membuat mata lelah. Untuk baca keseruan cerita selanjutnya mending ganti halaman yuuuk...
Klik Selanjutnya




0 Response to " Cerita Perjalanan ke dan di Tuban #1 "
Post a Comment