Beberapa minggu yang lalu, saat aku pulang ke rumah, aku memutuskan untuk membereskan kamar. Memang, salah satu hal yang menyebalkan bagiku, adalah ketika melihat kamar pribadi berantakan dan menjadi memiliki bau tak sedap lantaran di huni beberapa hewan nakal. Tikus utamanya.
Berjam-jam aku membereskan kamar dan sebagian ruang tengah. Bantuan dari kakak dan adik sepertinya tak cukup ampuh untuk segera menyelesaikan agenda beres-beres.
Bagaimana mungkin cepat selesai, aku sendiri misalkan saja, saat menggeledah lemari di bawah meja kamar, aku membuka kotak yang berukuran kurang lebih 20 kali 15 cm. Entah berapa lama aku berkutat dengan isi yang ada di kotak itu. Membacanya satu-persatu; tersenyum, tertawa, manyun, gemas, berbagai ekspresi keluar dari satu sumber wajah lantaran membaca surat-surat cinta. Semasa aku duduk di bangku SD dan SMP komunikasi memang belum secanggih dan terjangkau seperti sekarang ini. Saling berkirim surat adalah metode yang tepat. Selain murah, juga indah. Indah saat mengirim, indah saat menerima, indah dibaca, dan indah dikenang!

Aku bersyukur dulu aku tak mengikuti jejak teman-temanku yang lain, di mana setelah putus dari hubungan ala remaja yang biasa disebut cinta monyet, mereka akan memilih untuk membakar semua surat yang pernah di kirim pasangannya. Aku bersyukur masih menyimpannya. Bukan berarti aku masih tak bisa menghilangkan rasa kepada seseorang itu, namun aku senang membaca surat-surat itu. Kenangan di dalamnya cukup ampuh dijadikan hiburan. Aku berniat suatu saat nanti setelah menikah, aku akan membaca surat-surat itu lagi bersama suamiku, berdua saja di kamar! Pasti lucu! hihihi. Oh ya, tak hanya itu saja. Masih banyak kotak-kotak lain yang berisi beberapa diary-ku. Aku bersyukur memiliki kebiasaan menulis apapun yang dirasa, sejak dulu. Lebih bersyukur lagi karena aku masih menyimpan semua itu dengan baik. Meski mungkin dulu bolpoint yang aku pakai untuk menulis bukan merk mahal, alhasil kini tintanya memudar dan membekas tak tentu. Sedikit disayangkan adalah ketika kini aku menyadari betapa jarangnya aku menulis di dairy. Tak heran semenjak kuliah, aku belum berganti diary. OhEmJi... -_-
Tulisan dalam bentuk analog memang memiliki rasa berbeda ketika dibaca dibandingkan dengan tulisan bentuk digital...
Maka, menulislah wahai sekalian manusia...! Ambil kertasmu! Genggam bolpoint kesayangan yang lucu nan cantik! Mulailah menulis! Simpan dengan baik kumpulan tulisanmu itu...! Maka tulisanmu itu akan dikenang sepanjang masa...! Menemanimu sampai tua nanti....! Wuahahahaha..! :D :D :D
***
...bersambung
0 Response to " Surat Cinta di Masa Lalu "
Post a Comment