Hari ini, senin, 4 Agustus 2014. Aku tak menyangka kisah
ini benar-benar berakhir (sepertinya dan semoga). Entah untuk nantinya.
Beberapa saat sebelum aku menulis ini, aku membuka dokumen
‘anniversary’ yang kutulis 7 februari
lalu. Aku tahu hari-hari saat itu menjadi sangat indah dengan hadirnya kamu di
momen liburan akhir semester 3, di hari ulang tahunku yang ke-19, berlanjut
hingga First Anniversary hubungan kau dan aku. Semua nampak jelas dari kalimat-kalimat
yang aku rangkai saat itu.
Salahkah jika
aku mengharap hubungan yang romantis layaknya drama korea
yang sedang dan yang pernah aku tonton? Benarkah semua drama yang menayangkan
adegan romantis itu hanya ada dalam khayalan sutradara yang membuatnya? Apakah
aku terlalu bodoh dan gila jika menginginkan hal semacam itu? Sepasang kekasih
yang saling mencintai, tak hanya ucapan, namun dibuktikan dengan tindakan.
Menunjukkan ‘perasaan yang teramat dalam’, seperti yang pernah kau ucapkan saat
dulu aku mintamu untuk melupakanku. Kau katakan tak bisa, ya karena perasaanmu
padaku sudah teramat dalam, begitu katamu, dulu.
Masih pantaskah aku bertanya, “Apakah perasaanmu padaku
masih sama seperti saat kau mengucapkan kalimat itu? Apakah perasaanmu padaku
masih teramat dalam? Sedalam apa perasaanmu kini padaku?”
Kau tahu? Aku memutuskan semua ini, bahwa hubungan kita
benar-benar harus diakhiri dengan jelas, dan memintamu untuk tidak
menguhubungiku lagi, apakah itu membuatku lega seketika? Tidak!
Aku bertanya-tanya pada semua yang aku lihat, harus dengan cara seperti apa agar aku bisa melupakanmu? Bagaimana mungkin aku bisa mudah melupakanmu? Kau lelaki yang baik. Aku tahu itu. Namun, hanya saja, mungkin kamu belum cukup bersikap layaknya pemeran utama laki-laki pada drama korea yang aku tonton. Ini hanya sebuah perumpamaan. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa seperti pemeran dalam drama itu. Aku tahu kau lebih baik dari mereka yang menjadi pemeran utama itu, karena kau nyata bukan hanya dalam adegan sebuah drama yang dibuat-buat.
Dalam diammu, dalam tindakanmu yang aku harapkan namun
kenyataannya nihil, apakah di sana kau masih memikirkanku? Apakah diammu juga
salah satu bentuk rasa cintamu padaku?
Aku bertanya pada seorang teman, mengapa bisa seseorang
datang membawa cinta lalu pergi meninggalkan luka?
Dia menjawab: “Ia datang membawa cinta, lalu pergi membawa
cintanya. Ia tak memberi apa-apa.” benarkah begitu? Benarkah kau pergi membawa
kembali cintamu yang sempat kumiliki? Lalu, akankah kau memberikan cintamu pada
wanita lain setelahku? Bahkan airmataku mengalir lebih deras saat menulis ini. Aku tak yakin dapat dengan ikhlas melihatmu bersama wanita lain-meski
kenyataannya aku mengatakan padamu semoga kau mendapatkan wanita yang lebih
baik dariku, namun sejujurnya, itu hanyalah ungkapan untuk sedikit mengurangi
rasa bersalahku.
Bagaimanapun, sejujurnya, aku masih kecewa dengan sikapmu
sampai pada detik terakhir aku membuat keputusan ini. Kau sungguh-sungguh sudah
tidak peduli padaku? Kau tidak ingin mempertahankanku menjadi bagian yang
penting dalam hidupmu? Kau katakan keputusanku ini adalah keputusan bulat yang
sepihak, karena mungkin aku kurang sabar dan terlalu tergesa-gesa. Jika memang
seperti itu, tak bisakah kau kembali padaku, merayuku, dan meyakinkanku kembali
bahwa keputusan yang aku buat ini salah? Tak bisakah kau membuatku kembali
berpikir ulang dengan keputusan yang aku buat? Sikapmu hanya menunjukkan bahwa
secara tidak langsung mengubah keputusan yang menurutmu sepihak itu berubah
menjadi ‘keputusan bersama’, lantaran kau dengan mudahnya berpasrah dengan
keputusan yang aku buat dan tidak berusaha mengejar hatiku kembali yang mulai
pergi menjauh darimu.

Apakah do’aku pada Tuhan tentangmu kini harus aku
pertahankan setiap hari seperti itu? Dari yang semula memohon yang terbaik
untuk hubungan kita, kini berubah menjadi permohonan untuk menghilangkan rasa
dan melupakanmu, karena menurutku itu cara terbaik menurut Tuhan untuk hubungan
kita.
Apakah setelah ini aku akan cepat melupakanmu, merasa bebas
dan kembali menemukan penggantimu? Ah aku benci kisah seperti ini. Seperti film
yang terus menerus diputar ulang. Aku lelah. Bukankah kita pernah merancang
masa depan berdua? Bukankah impian kita dulu kita akan menjadi satu untuk waktu
yang panjang?
Lagi lagi aku tak dapat menjawab pertanyaan seperti itu.
Semuanya adalah rahasia besar Tuhan, yang merujuk pada sebuah pertanyaan
‘siapakah jodohku nanti?’
Hari ini, apakah benar-benar menjadi pertanda dari Tuhan
bahwa kau bukan jodohku? Karena seperti yang kita tahu, kondisi seperti ini tak
hanya satu dua kali pernah kita alami. Aku sering meminta hubungan kita
berakhir dan kita tak berkomunikasi lagi selama berminggu-minggu bahkan pernah
berbulan-bulan, tapi apa? satu yang selalu kau tunjukkan, kau kembali padaku
dengan baik, dan mengajakku kembali bersama-sama. Kau begitu setia. Aku kira
setelah lama tak berkomunikasi, kau akan melupakanku dan mencari penggantiku.
Namun ternyata tidak.
Atau, ini semua benar-benar menjadi pertanda kita tidak berjodoh karena kita tidak seimbang? Kita tidak cocok? Aku percaya sekali bahwa jodoh itu cerminan diri. Apakah aku tak sebanding denganmu? Apakah aku tak pantas untukmu? Dalam kenyataan yang aku lihat di dunia kampus, aku tahu jawaban dari pertanyaan itu menunjukkan bahwa aku memang tidak pantas untukmu.
Atau, ini semua benar-benar menjadi pertanda kita tidak berjodoh karena kita tidak seimbang? Kita tidak cocok? Aku percaya sekali bahwa jodoh itu cerminan diri. Apakah aku tak sebanding denganmu? Apakah aku tak pantas untukmu? Dalam kenyataan yang aku lihat di dunia kampus, aku tahu jawaban dari pertanyaan itu menunjukkan bahwa aku memang tidak pantas untukmu.
Namun terkadang, jika diibaratkan seperti berlian, aku
merasa seperti berlian dengan harga yang sangat mahal. Aku bukan wanita
murahan. Terlebih jika aku sedang berada di kampung halaman, pikiran semacam
itu akan lebih sering muncul. Tak perlu aku jelaskan secara detail bagaimana
aku bisa berpikiran seperti itu. Toh itu hanya pandanganku pada diriku sendiri
yang belum tentu benar.
Aku tahu dan aku yakin, semua ini pasti ada hikmahnya. Jika memang yang terbaik menurut Tuhan aku harus melupakanmu, itu karena Tuhan tidak ingin aku terjebak berlarut-larut dalam dosa. Meski selama ini hubungan yang kita lalui jauh dari kata ‘maksiat’ apalagi yang berlebihan. Tapi aku tahu hubungan semacam apapun, tetap dilarangNya. Mungkin juga aku benar-benar harus fokus pada kegiatan-kegiatan positif selama kuliah, dan fokus bagaimana membahagiakan keluargaku dan teman-temanku. Asal kau tahu, mereka datang lebih awal sebelum kau datang ke dalam hidupku. Sewajarnya, mereka lebih berhak meminta waktuku, lebih berhak untuk aku pikirkan, lebih berhak untuk aku bahagiakan. Mungkin juga, ini sebuah alarm peringatan bahwa aku harus menghentikan ini semua untuk laki-laki yang telah dipersiapkan Tuhan untukku. Lelaki yang seimbang denganku.

Aku tahu dan aku yakin, semua ini pasti ada hikmahnya. Jika memang yang terbaik menurut Tuhan aku harus melupakanmu, itu karena Tuhan tidak ingin aku terjebak berlarut-larut dalam dosa. Meski selama ini hubungan yang kita lalui jauh dari kata ‘maksiat’ apalagi yang berlebihan. Tapi aku tahu hubungan semacam apapun, tetap dilarangNya. Mungkin juga aku benar-benar harus fokus pada kegiatan-kegiatan positif selama kuliah, dan fokus bagaimana membahagiakan keluargaku dan teman-temanku. Asal kau tahu, mereka datang lebih awal sebelum kau datang ke dalam hidupku. Sewajarnya, mereka lebih berhak meminta waktuku, lebih berhak untuk aku pikirkan, lebih berhak untuk aku bahagiakan. Mungkin juga, ini sebuah alarm peringatan bahwa aku harus menghentikan ini semua untuk laki-laki yang telah dipersiapkan Tuhan untukku. Lelaki yang seimbang denganku.

Meski aku
tak tahu jika ternyata laki-laki itu kamu. Semoga ini semua dalam rangka
menjagaku, agar nantinya ‘kenikmatan’ sebuah pernikahan bisa benar-benar aku
rasakan dengan maksimal. Agar aku dapat meraih salah satu keinginanku dulu,
yang menjadi daftar ‘catatan’ pertamaku di facebook: aku ingin dinyanyikan lagu
‘For The Rest of My Life’ oleh suamiku yang soleh. InsyaAllah, aku siap menjadi
istri yang solehah dan ibu yang baik.
Semoga keputusan ini bukan lagi menjadi keragu-raguan dan
harapan hampa yang seringkali menyelimutiku. Biarlah, kau turuti permintaanku,
jangan hubungi aku lagi, jangan hadir ke kehidupanku, sampai aku benar-benar
sudah menghilangkan rasa, sampai aku benar-benar bisa menganggapmu hanya
sebagai senior di sebuah organisasi. Terima kasih pernah hadir di hidupku… Terima
kasih pernah menjadi salah satu pemeran di cerita hidupku… Semoga hari-harimu
selalu indah…

0 Response to " Finally... #Story About You and Me "
Post a Comment