Ini menarik, sepenggal cerita di
suatu pagi. Ada tetangga yang biasa menjajakan pakaian dan gorden dengan
berkeliling ke rumah-rumah di kampungku. Pagi itu dia datang menawarkan gorden
ke ibuku, karena sebentar lagi lebaran, ibuku tertarik untuk membeli gorden
baru untuk menghiasi jendela-jendela rumah. Ibu meminta saranku memilih motif
dan warna untuk gorden yang akan dipesan. Lalu tetanggaku menyeletuk, ‘enak ya
bu, duwe prawan sing bisa nggo dijak rembugan’4 . Hi hi hi. Belakangan
ini ibuku begitu bersemangat ingin
mengubah model rumah menjadi gaya rumah
minimalis. Sebelumnya, aku dan kakakku sudah diperintah untuk mencarikan gambar-gambar
desain rumah minimalis lewat internet. Setelahnya, kakak laki-lakiku yang
mengurusi desain rumah kami, sehingga saat aku pulang benar-benar cukup
membuatku terkejut akan perubahan rumahku.
Kembali saat memilih gorden, ada
beberapa motif yang ditawarkan yaitu bunga tulip, bunga mawar, dan bentuk
persegi. Bentuk persegi inilah yang menjadi pilihan ku, karena di sampul desain
motif itu terpampang judul ‘gaya minimalis’. Aku pikir motif persegi adalah
yang paling pas untuk menunjang keinginan ibu yang merubah gaya rumah menjadi
minimalis. Eh, ternyata tanggapan ibu begitu menggelikan saat didengar, ‘emoh
kotak-kotak ah, kaya jokowi’ tanggapannya begitu lancar dan jujur. Hmm memang
akhir-akhir ini aku lihat ke-fanatikkan warga desaku begitu berlebihan menurut
pandanganku. Demam pilpres sangat masuk ke hati pendukung masing-masing calon
presiden. Sedikit memasuki privasi, mayoritas warga desaku memilih Capres
Prabowo-Hatta. Alasannya sederhana, tidak mau dipimpin oleh orang yang islamnya
masih simpang siur dan kurang kuat. Apalagi kebijakan-kebijakannya tidak
mendukung Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Begitu kata mereka.
Walaupun saat ini kita semua sudah tahu bahwa pemenangnya adalah pasangan
Jokowi-JK, mereka tetap saja mendukung Prabowo. Keputusan Prabowo untuk mundur
dari Pilpres 2014 karena dirasa memiliki banyak kecurangan, ditanggepi mereka
merupakan keputusan yang tepat. Aku hanya mampu memandang fenomena ini dengan
seulas senyum.
Beberapa minggu setelah
kepulanganku yang cukup bermanfaat untuk memberikan saran warna dan motif apa
yang cocok untuk gorden yang akan dipesan. Aku kembali dikejutkan saat pulang
untuk kesekian kalinya sebelum lebaran tiba. Warna cat rumahku menjadi begitu
pucat menurutku, perpaduan antara abu-abu tua dengan abu-abu muda. Semuanya.
Sudah hilang warna merah yang sebelumnya menghiasi tembok gerbang rumah, yang
belum lama diterapkan. Setelah aku tanya pada ibu, jawabannya masih saja
konyol, ‘ iyalah emoh abang maning, kaya PDIP-Jokowi. Emoh..’5 begitu
katanya. Lucu, lucu, lucu. Sekaligus memprihatinkan! Fanatisme akut! Grrrhh~
v_v
*Catatan:
‘enak ya bu, duwe prawan sing
bisa nggo dijak rembugan’4 artinya ‘enak ya bu, punya anak gadis yang
bisa diajak diskusi/sharing bareng’
‘ iyalah emoh abang maning, kaya
PDIP-Jokowi. Emoh..’5 artinya
‘iya dong gak mau merah lagi, kaya PDIP-Jokowi. Gakmau...’
0 Response to " Fanatisme Ibu pada Hal Anti Jokowi "
Post a Comment