Fanatisme Ibu pada Hal Anti Jokowi

adsense 336x280
Ini menarik, sepenggal cerita di suatu pagi. Ada tetangga yang biasa menjajakan pakaian dan gorden dengan berkeliling ke rumah-rumah di kampungku. Pagi itu dia datang menawarkan gorden ke ibuku, karena sebentar lagi lebaran, ibuku tertarik untuk membeli gorden baru untuk menghiasi jendela-jendela rumah. Ibu meminta saranku memilih motif dan warna untuk gorden yang akan dipesan. Lalu tetanggaku menyeletuk, ‘enak ya bu, duwe prawan sing bisa nggo dijak rembugan’4 . Hi hi hi. Belakangan ini ibuku begitu bersemangat ingin
mengubah model rumah menjadi gaya rumah minimalis. Sebelumnya, aku dan kakakku sudah diperintah untuk mencarikan gambar-gambar desain rumah minimalis lewat internet. Setelahnya, kakak laki-lakiku yang mengurusi desain rumah kami, sehingga saat aku pulang benar-benar cukup membuatku terkejut akan perubahan rumahku.
Kembali saat memilih gorden, ada beberapa motif yang ditawarkan yaitu bunga tulip, bunga mawar, dan bentuk persegi. Bentuk persegi inilah yang menjadi pilihan ku, karena di sampul desain motif itu terpampang judul ‘gaya minimalis’. Aku pikir motif persegi adalah yang paling pas untuk menunjang keinginan ibu yang merubah gaya rumah menjadi minimalis. Eh, ternyata tanggapan ibu begitu menggelikan saat didengar, ‘emoh kotak-kotak ah, kaya jokowi’ tanggapannya begitu lancar dan jujur. Hmm memang akhir-akhir ini aku lihat ke-fanatikkan warga desaku begitu berlebihan menurut pandanganku. Demam pilpres sangat masuk ke hati pendukung masing-masing calon presiden. Sedikit memasuki privasi, mayoritas warga desaku memilih Capres Prabowo-Hatta. Alasannya sederhana, tidak mau dipimpin oleh orang yang islamnya masih simpang siur dan kurang kuat. Apalagi kebijakan-kebijakannya tidak mendukung Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Begitu kata mereka. Walaupun saat ini kita semua sudah tahu bahwa pemenangnya adalah pasangan Jokowi-JK, mereka tetap saja mendukung Prabowo. Keputusan Prabowo untuk mundur dari Pilpres 2014 karena dirasa memiliki banyak kecurangan, ditanggepi mereka merupakan keputusan yang tepat. Aku hanya mampu memandang fenomena ini dengan seulas senyum.

Beberapa minggu setelah kepulanganku yang cukup bermanfaat untuk memberikan saran warna dan motif apa yang cocok untuk gorden yang akan dipesan. Aku kembali dikejutkan saat pulang untuk kesekian kalinya sebelum lebaran tiba. Warna cat rumahku menjadi begitu pucat menurutku, perpaduan antara abu-abu tua dengan abu-abu muda. Semuanya. Sudah hilang warna merah yang sebelumnya menghiasi tembok gerbang rumah, yang belum lama diterapkan. Setelah aku tanya pada ibu, jawabannya masih saja konyol, ‘ iyalah emoh abang maning, kaya PDIP-Jokowi. Emoh..’5 begitu katanya. Lucu, lucu, lucu. Sekaligus memprihatinkan! Fanatisme akut! Grrrhh~ v_v


*Catatan:
‘enak ya bu, duwe prawan sing bisa nggo dijak rembugan’4  artinya ‘enak ya bu, punya anak gadis yang bisa diajak diskusi/sharing bareng’
‘ iyalah emoh abang maning, kaya PDIP-Jokowi. Emoh..’5  artinya ‘iya dong gak mau merah lagi, kaya PDIP-Jokowi. Gakmau...’
adsense 336x280

0 Response to " Fanatisme Ibu pada Hal Anti Jokowi "

Post a Comment