Plompong, 25 Juli 2014.
Ada banyak hal yang baru aku rasakan kini begitu mengesankan. Hal-hal yang dulu begitu biasa aku jalani atau aku lihat, kini menjadi hal yang terkadang benar-benar membuatku terpukau, tersenyum karenanya, merasakan suatu kenikmatan yang berbeda. Kau tau apa itu? Ya, beberapa hal itu adalah
fakta-fakta yang aku rasakan saat berada di kampung
halaman tercinta. Setelah kini aku menjadi gadis yang bisa menyandang istilah
‘perantau’.Ada banyak hal yang baru aku rasakan kini begitu mengesankan. Hal-hal yang dulu begitu biasa aku jalani atau aku lihat, kini menjadi hal yang terkadang benar-benar membuatku terpukau, tersenyum karenanya, merasakan suatu kenikmatan yang berbeda. Kau tau apa itu? Ya, beberapa hal itu adalah
Saat aku mencuci baju di
belakang, betapa menyenangkannya melihat air yang tumpah ruah dari kolam yang
ukurannya cukup besar. Bahkan tak kutemui di Semarang kolam sebesar itu.
Rata-rata ukuran kolam di kota-kota hanya seperempat dari kolam yang aku miliki
di bagian belakang rumah.
Padahal pemandangan semacam itu
sudah sejak kecil aku lihat, namun entah mengapa kini begitu menyenangkan
melihat pemandangan seperti itu, dan mendesakku untuk bertanya pada Bapak, ‘Pa,
kolame wis luber, mbok dialihna ning balong apa ningdi.’1Jawaban
Bapakku yang semestinya sudah aku ketahui, ‘Lha ya wis nyala kabeh, emang
ningdi-ningdi luber’.2 Subhanallah, sudah semestinya aku bersyukur
berkali-kali atas kenikmatan yang Allah berikan ini. Tak perlu membayar air
mahal-mahal tiap bulannya, cukup Rp 3000.00 sudah memberikan air yang
berlebihan.
Yang cukup menyejukkan mata lagi,
bagaimana setiap hari di masyarakat desaku jiwa sosialisasi masih cukup tinggi
aku lihat. Selama ramadhan di rumah, tak pernah ada hari dimana keluargaku tak
mendapat kiriman makanan dari tetangga. Bahkan, seringkali keluargaku kebanjiran
kiriman. Aku yakin, ini juga hasil sikap ibuku yang suka bersedekah kepada
warga. Betapa baiknya tetangga-tetanggaku pada keluargaku. Sering aku lihat,
tiba-tiba ibuku bingung melihat kantong plastik berisi sayuran begitu banyak
yang tergeletak di depan pintu belakang, kadang pisang satu tundun, dll. Ibu tak tahu siapa
yang mengirimnya. Terkadang juga, ibu bingung kenapa punya kacang hijau, atau
kembang pacar di dapur. Padahal ibu tak pernah merasa membelinya. Sampai-sampai
aku bosan mendengar betapa seringnya ibu terheran-heran dan bertanya sambil
bergumam pada anak-anaknya, ‘kye sih sing sapa yah?’3 begitulah
pemandangan yang kini cukup membuatku tersenyum bahagia.
*Catatan:
‘Pa, kolame wis luber, mbok
dialihna ning balong apa ningdi.’1 (bahasa
desaku, Plompong) artinya ‘Pa, air di bak mandi sudah tumpah, coba dialihkan ke
kolam ikan atau ke mana.’
‘Lha ya wis nyala kabeh, emang ningdi-ningdi
luber’.2 artinya ‘Lha ya
sudah semua dinyalakan, emang dimana-mana airnya tumpah.’
‘kye sih sing sapa yah?’3 artinya
‘ini sih dari siapa ya?’
‘enak ya bu, duwe prawan sing
bisa nggo dijak rembugan’4 artinya ‘enak ya bu, punya anak gadis yang
bisa diajak diskusi/sharing bareng’
‘ iyalah emoh abang maning, kaya
PDIP-Jokowi. Emoh..’5 artinya
‘iya dong gak mau merah lagi, kaya PDIP-Jokowi. Gakmau...’
0 Response to " Nikmatnya Tinggal di Desa "
Post a Comment