adsense 336x280
Aku terlahir di sebuah perkampungan yang cukup jauh dari perkotaan. Keluargaku adalah salah satu yang terpandang dan sukses di desaku. Kedua orangtuaku sama-sama sibuk, itu yang aku rasakan sejak awal mulai memahami mereka. Saat hendak masuk ke SMA aku memilih untuk bersekolah di kota yang lumayan jauh dari tempat tinggalku, ingin menambah wawasan dan kehidupan dengan pemikiran yang lebih luas, pikirku kala itu.
Karena jarak rumah-sekolah cukup jauh dan medan yang dilewati cukup menantang, akhirnya aku memilih
untuk tinggal di kos bersama orang-orang baru, tentu dengan karakter yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.
Setelah melewati penyesuaian dan mencoba betah tinggal di lingkungan baru, hari-hariku menjadi penuh warna dengan hadirnya sahabat-sahabat satu kos yang ternyata memiliki kepribadian luar biasa. Aku sangat menyayangi mereka. Bagiku, mereka telah membuat cara pandangku tentang masa depan berubah drastis. Tak ada lagi rasa pesimis, yang ada rasa optimis yang muncul untuk selalu berusaha menggapai impianku.
Salah satu sahabat yang terdekat dan terhebat adalah Sabila, dia yang menemaniku tidur setiap malam di kos. Bermimpi tentang masa depan diiringi pelukan hangat darinya, adalah satu yang selalu aku rindukan. Biasanya sebelum tidur aku dan sabila bersama-sama menatap langit-langit kamar. Sambil terus saling menggenggam erat tangan, aku dan dia akan bercerita panjang lebar tentang apapun yang dialami selama di sekolah hari itu, keluarga, teman-teman yang lain,
dan tentu tentang lelaki pujaan hati. Sering aku dibuat iri dengan ceritanya. Sabila wanita yang cantik, populer, dan selalu menjadi juara kelas. Aku dan dia memang berbeda kelas. Memasuki kelas XI dia mengambil jurusan IPS, sedang aku IPA. Meski akupun selalu masuk peringkat lima besar, tapi aku tak sepopuler dan secantik dia. Itu tak seberapa, yang membuatku begitu iri adalah kedekatan sabila dengan kedua orangtuanya. Setiap hari dia bercerita bagaimana ibunya berkali-kali telepon untuk menanyakan kabarnya, memastikan bahwa dia tak telat makan, menunggu cerita dia tentang perkembangan sekolahnya. Sedang aku? aku akan menelepon orangtuaku jika memang membutuhkan kiriman uang. Itupun aku seperti dianggap mengganggu, kesan mereka selalu ingin cepat mengakhiri perbincangan di telepon. Aku rasa mereka memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ah, sudahlah. Aku berusaha tetap berpikir positif, “mereka sibuk bekerja juga untuk biaya sekolahku, untuk masa depanku, untuk kesejahteraan keluargaku,” satu pemikiran yang selalu menghiburku.
---
Hari ini adalah pelepasan siswa-siswi kelas XII SMA-ku. Sabila tampil bak bintang sekolah yang begitu bersinar ditengah teriknya matahari siang itu. Dia tampil di atas panggung yang megah dengan mempertunjukkan bakatnya; menyanyi, menari, serta memainkan peran utama disebuah drama. Dengan make up serta balutan kostum yang menawan membuatnya makin terlihat cantik saja. Aku bersama teman-teman yang lain hanya bisa tersenyum bangga dari bangku para penonton. Melihat Sabila, sahabatku sendiri begitu lincah dan memukau di atas panggung. Meski iri melihat dirinya menjadi pusat perhatian banyak penonton, bagaimanapun juga dia sahabatku yang amat baik. Aku berusaha selalu
mendukungnya dan berusaha menjadikan rasa iri itu sebagai motivasi untuk bisa berprestasi seperti dia, meski seringkali rasa iri itu menyiksa diriku sendiri.
Acara selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah penobatan peringkat tiga terbaik dari masing-masing jurusan di sekolahku, yakni IPA, IPS dan Bahasa. Aku yang masih duduk dibangku kelas XI ikut merasa deg-degan kala peringkat tiga terbaik semakin dekat dibacakan. Betapa terlihat raut muka penasaran kakak-kakak yang sedang menunggu pembacaan sesuatu yang amat diinginkan karena membanggakan itu. Menit demi menit waktu berputar, akhirnya panggung pelepasan yang megahpun terisi belasan siswa-siswi perprestasi. Masing-masing dari mereka naik ke atas panggung bersama perwakilan orangtua masing-masing; menerima piala, piagam penghargaan, dan berfoto bersama kepala sekolah, di atas panggung yang megah tepat dihadapan ratusan penonton siswa dan wali siswa yang lain. Betapa bangga dan bahagianya jika aku bisa mempersembahkan panggung megah itu untuk orangtuaku, tahun depan nanti. “Aku pasti bisa, dan aku harus bisa. Tak ada kata terlambat untuk mewujudkan mimpi ini,” Aku begitu optimis mengucapkan kata-kata itu dalam hati
. Padahal, yang aku dengar, cukup sulit syarat yang harus dipenuhi untuk bisa masuk ke peringkat tiga besar saat pelepasan. Mereka yang aktif organisasi, memberikan banyak kontribusi untuk sekolah, serta nilai akademik dihitung sejak kelas X sampai XII lebih unggul dari siswa lain.
---
Sepulangnya dari acara pelepasan kelas XII itu, ternyata tak hanya aku, namun kawan-kawan satu kos pun memiliki keinginan yang sama. Dengan rasa optimis
yang menggebu-gebu, bersama-sama aku dan mereka ingin saling mendukung untuk berusaha memperjuangkan satu impian yang membanggakan itu: mempersembahkan panggung pelepasan yang megah untuk orangtua, tahun depan nanti. Wajar bila mereka juga menginginkannya. Walau aku merasa orangtuaku tak peduli denganku, tapi aku tetap ingin mempersembahkan panggung itu untuk mereka. Justru mungkin keinginanku lebih besar dibanding teman-teman yang lain. Aku ingin menarik perhatian orangtuaku yang selama ini aku butuhkan, serta membuktikan pada mereka bahwa aku anak yang membanggakan. Meski dua diantara teman kos itu satu kelas denganku, namun kami bersaing sehat. Aku sangat menyukai suasana persaingan penuh dukungan di hunian yang jauh dari keluarga itu. Membuatku tak merasa sendiri dan memiliki keluarga baru.
---
Hari demi hari aku dan kawan-kawanku lewati bersama, penuh perjuangan akan impian yang tak pernah terabaikan. Aku belajar lebih giat dari sebelumnya, beribadah dan berdoa lebih dalam, dan membudayakan amalan-amalan sunnah yang dicontohkan Rasul. Itu pesan dari seorang guru di SMA, katanya untuk memperlancar sekolah dan mempermudah dalam setiap menghadapi ujian. Suasana malam hari yang syahdu, berkutat dengan buku-buku dan soal-soal yang tak mudah dikerjakan hingga larut malam, diiringi musik klasik atau nasyid dari grup favorit. Semua itu dilakukan karena satu kekuatan motivasi untuk satu tujuan: mempersembahkan panggung untuk orangtua. Tentunya banyak manfaat yang lain di dapat atas kerja keras belajar itu.
---
Satu hari sebelum hari H pelepasan angkatanku, saat semua siswa angkatanku sibuk latihan geladi bersih untuk wisuda, tiba-tiba pihak sekolah memanggil aku untuk masuk ke ruang kepala sekolah. Aku menurut. Sesampainya di ruangan, aku terkejut. Beberapa teman-teman yang bagiku tak asing lagi wajahnya ternyata ada di dalam ruangan itu. Bahkan diantara mereka adalah sabahat-sahabat seperjuangan yang amat dekat denganku. Setelah dipersilakan duduk, tak lama kemudian salah seorang guru mulai berbicara, “Kirana, selamat kamu masuk peringkat tiga terbaik untuk program IPA. Silakan beritahu keluargamu, dan besok salah satu dari keluargamu harus hadir untuk naik ke atas panggung,”. Segala puji bagi Allah. Ingin saat itu juga aku menangis haru dan bersujud syukur atas anugerah yang Tuhan berikan. Perasaan bahagiaku tak terbendung lagi, segera kupeluk Sabila dan beberapa kawan lain yang saat itu juga masih menangis bahagia.
---
Sepulang dari acara geladi bersih, aku tak sabar ingin segera memberitahukan kabar bahagia itu ke orangtuaku. Sesampainya di rumah kekecewaan menyambutku, mereka tak ada. Padahal hari sudah sore, tapi mereka masih sibuk bekerja. Aku berusaha sabar menunggu. Malam harinya, ketika mereka sibuk di meja kamarnya, mengurusi pekerjaan, aku mulai berbicara. Meski perasaan bahagia yang menggebu itu sudah berkurang.
Setelah kuceritakan semuanya dengan raut muka yang berseri-seri, dua jawaban yang sama kudapatkan dari mereka yang tengah sibuk di ruang yang terpisah. “Besok? Waduh… Ibu ada acara, Na, nanti kamu minta tolong bulik saja yah
untuk datang ke acara pelepasanmu itu. Biar saja bulik yang naik ke atas panggung. Ibu tidak apa-apa,” kalimat yang kurang lebih sama dilontarkan oleh Ayahku.
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya mampu menahan tangis dihadapan mereka, lalu pergi ke kamar untuk menangis sejadi-jadinya. Satu hari ini, dua perasaan yang amat kontras kurasakan. Siang tadi, kebahagiaanku amat membuncah, kemudian malam ini, kurasakan kesedihan yang amat mendalam. Langit di luar seolah gelap gulita tak berbintang, padahal ku tengok dari balik jendela, banyak sekali bintang yang bersinar terang secerah impianku yang kini baru dimulai. Aku terus menangis sambil berpikir, sia-sia usahaku selama ini untuk mempersembahkan panggung untuk mereka, membahagiakan mereka. Tak lama kemudian aku sudah terbang ke alam mimpi. Aku bermimpi ibu atau ayahku hadir ke acara pelepasanku besok, naik ke atas panggung persembahan putrinya.
---
Hari yang di nantipun tiba. Aku sudah sangat cantik mengenakan kebaya berwarna merah dengan make up hasil riasan salon. Dua jam sudah berlalu dimulainya acara perpisahan. Kini tiba saatnya pembacaan peringkat tiga terbaik untuk masing-masing jurusan. Satu per satu naik ke atas panggung beberapa kawanku yang berprestasi. Hingga tiba saatnya aku untuk naik ke atas panggung. Saat aku sudah berdiri anggun di atas panggung dengan senyum yang kubuat secantik mungkin, guru yang membacakan peringkat menanyakan sesuatu yang membuatku ingin menangis lagi. “Kirana? Adakah ibu, ayah, tante, om, mbah, atau buyut, mungkin, yang akan naik ke atas panggung?” penonton yang
menyaksikan tertawa saat guru itu mengeluarkan sedikit gurauan ditengah perasaanku yang tak karuan. Aku jawab dengan tetap berusaha tersenyum, “tidak ada pak,”. Guru itu berubah menjadi bingung. Kemudian tak lama kemudian, datang pahlawanku, dialah guru yang paling dekat denganku, Bu Reni. Tiba-tiba dia naik ke atas panggung dan mengatakan bahwa dia menjadi wakil dari keluargaku. Aku senang melihat kejutan yang dibuatnya. Sebelumnya memang aku sempat bercerita tentang kesedihanku; ibu, ayah, bahkan bulikku tak bisa hadir dalam acara pelepasan. Kemarin bu Reni hanya menjawab, “tenang saja, ibu pastikan besok baik-baik saja, jika ibu sudah tak sibuk dengan tanggung jawab ibu besok, ibu yang akan menggantikan keluarga Kirana,” senyumku kembali merekah, kesedihan perlahan hilang. Meski tak mungkin sepenuhnya hilang, karena orangtua yang aku harapkan kehadirannya malah alpa.
---
Acara pelepasanpun usai. Aku berjalan pulang dengan masih membawa kekecewaan. Sesampainya di gerbang sekolah, betapa terkejutnya aku, sahabat-sahabatku memberikan kejutan yang benar-benar membuatku tak mampu berkata apa-apa lagi. Hanya air mata bahagia dan senyuman tulus yang dapat aku persembahkan. Mereka muncul dengan menyanyikan lagu kebahagiaan, membawakan bunga-bunga, serta kue berbentuk hati berwarna merah muda kesukaanku, bertuliskan, “Kirana, don’t be sad, we will always beside you,”. Kutatap mereka satu per satu dengan senyuman dan tetesan air mata tanpa suara. Lalu kutatap langit yang siang itu masih berwarna biru sangat cerah. “Oh Tuhan, betapa adilnya Engkau pada hambaMu, aku bersyukur atas segala kenikmatan yang Kau beri ini,”.

*seperti biasa, buangan dari ikutan lomba yang belum beruntung -____-
susah banget ngilangin sifat DL-er, malesan sii >,<

oh iya, mungkin juga karena curang kali yah...disuruh cerita asli yang dialami, ehh malah ini cerita asli yang dibuat-buat. jadi agak dirubah gituu... pdahal pada kenyataannya keluargaku dateng koq... malah sepupu, kakak, adik, semua nyusul. orangtua juga lengkap.. hihi.. alhamdulillah.. love u all ^_^ { }

mau bukti? nihh :p *sebenere males ngepost foto pas perpisahan SMA, salah kostum (tepatnya krudung, jadi jelek bangeet, keliatan buletnya :'( hiks )
















By: Kirana Diyah Prameswari adsense 336x280

2 Responses to " Tuhan Maha Adil* "

  1. Ngakak bacanya, itu di luar skenario yah :D. Yg ga naik panggung malah abahku, datang telat. kalo cerita asli pasti lebih asyik lagi, kan ada adegan H-1 pelepasan bareng2 mnum dulcolax wkwkwk
    *bunuh diri saking bangganya wkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. hihi, iya itu ceritanya campur aduk, ada benernya dibumbui sedikit kebohongan :p
    oh iya yah, mba hampir lupa xD
    yg waku itu perut jadi gak karuan banget, terus sama keluarga mba dimarahi, mba cuma jawab, "bila yang ngajarin". wkwkwk xD

    ReplyDelete