“Bersikaplah optimis,
sekalipun Anda berada di dalam sumber badai.”
(DR. ‘Aidh al-Qarni)
“Ini! Dari pada nyolong, mending ngemis tau!” ujar
seorang gadis remaja seraya melempar lembaran uang kertas lima ribu rupiah di teras
rumah salah seorang tetanggaku. Remaja itu ku taksir baru berumur sekitar 13
tahun. Dia mengunjungi satu rumah ke rumah yang lain di perkampunganku, dengan
harapan ada yang mau memberikan uang untuknya. Dia tak sendiri, di sampingnya
ada seorang ibu paruh baya yang mengenakan jilbab pendek, kutaksir umurnya
kurang dari 50 tahun.
Siang itu aku sedang menyembulkan kepalaku keluar
pintu rumah. Aku sedang mencari adikku yang seharusnya sudah pulang dari
sekolahnya. Tiba-tiba aku melihat kejadian itu persis di sebelah rumahku.
Tetanggaku yang didatangi pengemis ibu-ibu dengan anaknya, memberikan uang lima
ribu rupiah seraya berkata, “Maaf bu, bukannya tidak ikhlas, saya cuma heran,
ibu kan masih segar bugar, kenapa tidak berusaha mencari kerja dulu? Kenapa malah
memilih mengemis?” Dan rasa amarah itu lah yang ditunjukkan anak pengemis itu.
Akhir-akhir ini memang banyak sekali pengemis yang
mengunjungi rumah-rumah penduduk di perkampunganku. Ada saja setiap hari orang
yang mengetuk pintu untuk meminta belas kasihan.
Aku sependapat dengan tetanggaku. Dengan kondisi fisik
yang masih segar tanpa suatu kecacatan, mestinya ibu dan anak pengemis itu
dapat melebihkan usaha untuk bekerja di bidang yang lebih menjaga martabatnya.
Mengemis, meminta-minta, menurutku hanya menunjukkan bahwa “saya lemah, saya
tidak bisa mencari pekerjaan lain, saya memang sudah ditakdirkan Allah untuk
menjadi pengemis,”.
Semestinya juga si pengemis tadi dapat memerangi
keputusasaan dalam hidupnya. Kesempatan untuk sukses terbuka bagi siapa saja
yang mau berusaha. Jangan berputus asa selama kaki masih mampu melangkah.
Selain itu, ingatlah selalu bahwa seluruh rezeki hamba itu telah diatur
oleh-Nya. Bukankah Allah sudah berfirman dalam Q.S. Hud : 6, yang artinya, “Dan, tidak ada suatu binatang melatapun di
mukabumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” Disitu Allah
menegaskan, jangankan rezeki hambanya, seekor hewan melatapun, yang hidupnya di
tanah yang rendah dan terinjak-injak manusia, secuil rezeki yang didapatnya
tetap atas kehendak Allah. Terlebih bagi seorang hamba yang yakin akan
Kuasa-Nya.
Apakah dia tidak malu dengan orang-orang yang cacat
secara fisik tapi masih mampu berusaha dengan mencari pekerjaan yang lebih
‘pantas’ dari pada mengemis, bahkan tak sedikit diantara mereka yang mampu
menorehkan prestasi ditengah kekurangan fisiknya.
Akan ada rezeki yang didapat selama kita mau berusaha
dan selalu berkhusnudzon kepada-Nya. Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada
kemudahan, dan Allah tidak mungkin membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Dua ayat Al-quran itu seharusnya menjadi acuan kita untuk
selalu optimis menjalani hidup. Masih banyak ayat-ayat lain yang berisi janji
Allah kepada mahluk-Nya. Tugas kita hanyalah untuk percaya dan optimis membuktikan,
setelah itu maka rasakanlah sebuah kenikmatan saat Allah menepati janji-Nya.
*lagi, karya dadakan untuk ikut lomba, dibuang di blog karena belum beruntung :p
biasa, mungkin karena kebiasaanku yang DL-er jadi hasil yang dikirim pun kurang matang :/
yah, dibaca ajha, siapa tahu bermanfaat :)
oya, terima kasih untuk lelaki yang baikhati di sana, yang mau bantuin ngirim tulisan ini pas udah mepet dan di rumah gak ada wifi :)
meski ujung2nya gak menang -____-
By: Kirana Diyah Prameswari
0 Response to " Optimis Dong, Guys! * "
Post a Comment