Ceritanya hari ini (24 Maret 2015) bisa
dikatakan hari spesial buatku. Pada 2013, aku hanya membutuhkan dua kali mengirim
tulisan pada rubrik Debat Mahasiswa ke Suara Merdeka. Nah pada kiriman kedua
itu tulisanku dimuat. Cukup singkat untuk sebuah persaingan media masa lokal
yang sudah cukup terkenal. Entah untuk masalah kualitas tulisan dalam rubrik
itu loh yaa. Hehe.
Aku merasa senang, tentu. Apalagi saat
melihat keluarga bangga, terutama Bapak yang seharian itu
menenteng Koran Suara
Merdeka kemana-mana. Ditambah ibu yang pandai bercerita membangga-banggakan
prestasi (kecil)ku itu ke beberapa rekan yang dijumpainya. Ah, tingkah kedua
orangtuaku kadang membuatku malu, geli, sekaligus terharu bahagia.
Bagiku pribadi, kepuasaan saat itu karena
aku berpikir bahwa tulisanku dianggap layak untuk kelas redaksi Suara Merdeka.
Satu tantangan pada tataran media lokal daerah berhasil aku lewati. Saat sudah berhasil
memecahkan tantangan, aku berpikir harus segera mencoba media yang lebih tinggi
dan menguji kemampuan menulisku. Rubrik Argumentasi Kompas Kampus menjadi
sasaranku selanjutnya. Aku coba beberapa kali. Tidak selalu rutin setiap
minggu, namun hanya saat aku mempunyai ide atau gagasan dan bisa mengalahkan
rasa malas. Tentu adanya kesempatan juga. Hehee.
Belasan kali aku coba mengirim, namun
masih belum mendapat kesempatan dimuat. Sedih pastinya. Apalagi saat minggu
demi minggu, beberapa kawan seperjuangan di Pers Mahasiswa semakin banyak
bermunculan. Bahkan adik tingkat di bawahku. Tekanan dari para senior juga
cukup membuat perasaanku campuraduk, “Masa kalah loh sama adik tingkat.” Namun kesedihan
itu tidak kubuat menjadi berlarut-larut. Aku buat santai saja tapi juga tidak
mau menyerah. Aku terus mencoba berusaha: melihat Kompas setiap selasa untuk
melihat tema Argumentasi edisi minggu depan, mencoba berpikir sampai muncul ide
dan ada kesempatan, lalu menulis.
Hingga akhirnya… Tadaaa…! Pada hari ini
(24/03/15) tulisanku dimuat. Mungkin sudah waktunya. Aku percaya kok, usaha itu
pasti membuahkan hasil. Hanya saja waktunya dirahasiakan Tuhan.
Aku jadi teringat dengan pendamping baru UKM yang malam hari sebelumnya baru saja aku dan teman-teman singgahi rumahnya. Pak Saratri Wilonoyudho, tak ku sangka karya tulisannya yang dimuat di media masa sampai pada angka ribuan. Daebak! Sembari guyon dia berceletuk, "Coba saja cari, apa ada dosen Unnes yang sudah melebihi saya seperti ini. Nek ono tak parani mba, njaluk buktine," Hihi. Waah ini Bapak benar-benar keren. Resepnya katanya "Bukankah di Al-quran sudah disebutkan 'iqra', bacalah. Ya, pandai-pandailah membaca keadaan. Lebih peka pada kondisi sekitar. Menulislah dari hati." Begitu katanya. Pak Saratri juga pandai sekali menata dokumen-dokumen bukti tulisan-tulisannya pernah dimuat di media masa. Aku betul-betul terinspirasi olehnya. Aku juga pasti bisa seperti beliau! Aku harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulisku!
Aku jadi teringat dengan pendamping baru UKM yang malam hari sebelumnya baru saja aku dan teman-teman singgahi rumahnya. Pak Saratri Wilonoyudho, tak ku sangka karya tulisannya yang dimuat di media masa sampai pada angka ribuan. Daebak! Sembari guyon dia berceletuk, "Coba saja cari, apa ada dosen Unnes yang sudah melebihi saya seperti ini. Nek ono tak parani mba, njaluk buktine," Hihi. Waah ini Bapak benar-benar keren. Resepnya katanya "Bukankah di Al-quran sudah disebutkan 'iqra', bacalah. Ya, pandai-pandailah membaca keadaan. Lebih peka pada kondisi sekitar. Menulislah dari hati." Begitu katanya. Pak Saratri juga pandai sekali menata dokumen-dokumen bukti tulisan-tulisannya pernah dimuat di media masa. Aku betul-betul terinspirasi olehnya. Aku juga pasti bisa seperti beliau! Aku harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulisku!
![]() |
| Pak Saratri, pendamping kami yang baru, pendamping yang katanya tidak mau hanya dilibatkan untuk membuka acara dan menandatangani SPJ. Harus dilibatkan pada proses redaksi, katanya. Waah! Pak! |
Memang tidak ada yang tidak mungkin jika
Tuhan sudah berkehendak. Padahal, jika mau menilik, aku mengirim tulisan itu
telat dari deadline. Mestinya maksimal dikirim sabtu (21/03/15), aku mengirim
pada minggu dini hari. Karena baru ingat, maklum pelupa. Mendadak dan telat.
Intinya seperti itu. Namun aku nekat saja mengirim, toh belum telat banget
juga. Hihi.
Tak salah saat tulisanku dimuat, ada
kawan yang berceletuk, “Itu karena ngirimnya terakhir sih… Soalnya biasanya
redaksinya males mbuka yang awal-awal, jadi ngeh-nya
ya cuma yang akhir-akhir.” Aish! Aku gak setuju 100% dengan pernyataan dia. Enak
aja! Menurutku kualitas juga menentukan.
Sebelumnya juga aku sering sengaja ngirim
akhir-akhir dan kadang tak disengaja telat. Tapi sesering itu pula tulisanku
gak dimuat. Tapi yaa… its no problem.
Yah, akhirnya aku berhasil kembali puas
untuk tataran yang lebih tinggi. Bukan puas hanya lantaran mendapatkan jaket
biru yang siap aku terima. Hihi. Namun, lebih dari itu, untuk mengevaluasi
tingkat kemampuan menulisku. Berarti tulisanku sudah dianggap layak jajaran
rubrik di Kompas tersebut. Kalau masalah hadiah sih, itu menurutku bonus. Saat
dimuat di Suara Merdeka, aku tidak medapat kabar mendapatkan ini itu. Padahal
kata teman, jika dimuat mendapat duit beberapa ratus ribu. Sebenarnya lumayan.
Tapi, karena setelah dikonfirmasi, aku harus mengambil sendiri di kantor Suara
Merdeka di Kaligawe, dan juga ada saja halangan hingga berbulan-bulan lamanya
aku tak mengambil, ya akhirnya sampai sekarang aku relakan saja uang tersebut
tidak sampai ke tanganku.
![]() |
| Sengaja ditaruh di tengah, mungkin karena foto yang lain pada gelap yaa. Bukan karena cantiknya loh. Hihi |
Tak tahu lah, yang pasti aku ingin melanjutkan impian. Untuk menulis lebih banyak lagi, syukur lebih sering menang lomba atau dimuat di rubrik dan media yang lebih keren, menginspirasi, mencerahkan. Lebih jauh lagi, aku ingin mengejar impian, jika saat ini aku masih menjadi pihak yang berusaha masuk media dengan cara berkompetisi, suatu saat aku ingin menjadi sosok yang dibicarakan diberbagai media karena sebuah prestasi atau karya yang aku miliki. Aamiin. Mugi barakah.
-Di rumah kedua yang riuh ramai setiap
malam rabu-
Salam,
Kirana.




subhanallah, inspiratif ya jadi pengen nulis juga kaya gitu, karena selama ini jika pun dpt ide ora kata2 yang bagus susah ngembanginnya
ReplyDeleteIyaa, Semangat ayoo. yang penting nulis! :)
DeleteEh baru ngeh kalo "prof" saratri sekarang sudah beneran prof.
ReplyDelete