Hati-hati Memilih Pasangan, Jangan Sampai Jadi Korban Selanjutnya!

adsense 336x280
(KISAH NYATA)
Kamis (29/01) lewat takdir Allah menurunkan hujan, aku jadi tahu sesuatu. Mungkin benar kehadiran wanita yang tiba-tiba muncul di televisi memberikan pengakuan sebagai istri nikah siri atau istri yang sah dinikahi dan belum cerai oleh salah seorang public figure.
Awalnya aku akan pulang dari tempat magang, tiba-tiba langkahku terhenti karena melihat keadaan di luar ternyata masih hujan deras. Akhirnya aku putuskan untuk duduk di lantai di pojokan ruang untuk menikmati wifi gratis sambil menunggu hujan reda. Aku perhatikan beberapa saat, ibu yang sedang mengepel ruangan itu. Kami saling menyunggingkan senyum.
Tiba-tiba ibu pengepel ruangan itu berjalan mendekatiku lalu ikut duduk tak jauh dari tempatku duduk. Lagi-lagi aku hanya menyunggingkan senyum. Tetapi, entah kenapa, tiba-tiba ibu yang rambutnya dikucir kuda itu mengajakku bercerita. Tepatnya, meminta aku mendengarkan ceritanya. Aku pikir setiap orang pasti mempunyai sisi menarik dari dirinya yang bisa aku ambil sebagai pelajaran atau wawasan baru.
“Sebenarnya andai suami saya bertanggung jawab pasti saya tidak akan menjadi seperti ini mbak…” begitu kalimat pembukanya, menggantung.
Aku tertarik untuk mendengarkan ceritanya. Sayang, suara hujan membuat suaranya terkadang kalah dan tak bisa kudengar meski sudah kudekati.
“Mungkin mbaknya juga seperti kebanyakan orang-orang yang gak akan percaya dengan cerita saya,” lanjutnya. Waah semakin membuatku penasaran.
Akhirnya ibu yang baru kuketahui namanya adalah Nani, bercerita panjang lebar. Tentu dengan bahasa khas Semarangan. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik dan sesekali mengajukan pertanyaan. Baiklah aku tuliskan cerita Ibu Nani. Di sini aku hilangkan panggilan “ibu atau bu” untuk mempermudah bercerita.
Nani sekarang berusia 48 tahun. Usia yang tak jauh berbeda dengan ibuku. Saat muda, Nani pernah berpacaran tiga kali. Lalu, ibunya menyuruh Nani untuk menikah dengan seorang yang bekerja di Pelayaran. Itu adalah harapan Ibu Nani sejak dulu. Namun, meski kehidupan ekonomi keluarganya sulit, Nani tetap mengedepankan cinta. Ia tidak mau dinikahkan dengan lelaki yang tidak dicintainya.
Hingga pada suatu hari, seorang laki-laki yang mengaku duda beranak satu mendekati Nani. Mereka berpacaran selama tiga tahun sebelum akhirnya menikah. Keberanian si lelaki mengakui dirinya duda beranak satu lah yang membuat Nani tertarik sejak awal. Mereka menikah pada tahun 1989 (Duh ingatanku buruk sekali, semoga tidak salah).

menikah, awal komitmen untuk bahagia bersama. meski tak tahu pada akhirnya...

Lelaki itu adalah salah satu pemain peran yang tergabung dalam Grup Srimulat yang sudah malang melintang di tanah air. Sebut saja namanya Gending.
Gending selalu mengajak Nani kemanapun pergi. Mengajak Nani untuk menemaninya pentas dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu hari mereka sampai Jakarta. Karir Gending terus menanjak. Nani disuruh pulang ke Semarang dan setia menunggu Gending.
Bertahun-tahun Nani menunggu, tidak ada kabar dari Gending. Uangpun tidak dikirim. Sedang anaknya yang sudah masuk TK butuh uang untuk berbagai macam kebutuhannya. 1999 (semoga ga salah), Nanipun nekat kembali ke Jakarta mengecek kondisi Gending yang sudah lama tak memberi kabar. Berbekal informasi dari teman Gending yang juga anggota Srimulat, dia pergi ke Jakarta untuk tujuan utama ke sebuah studio terkenal. Pagi-pagi sekali Nani sudah sampai di lokasi yang disebutkan temannya. Katanya, Gending akan shooting pagi.
Sampai lokasi dan setelah lama menunggu shooting selesai, Gending menemuinya sesaat sebelum kemudian menghilang. Lalu, salah seorang kerabat dari Srimulat memberi tahu Nani, bahwa Gending sekarang tinggal di kos tak jauh dari lokasi shooting itu. Akhirnya Nani melangkah menuju tempat yang ditunjukkan. Nani memilih untuk tidak langsung ke kos Gending yang telah disebutkan. Dia malah mampir di warung makan dekat kos Gending itu.
“Oh, mas Gending yang istrinya muda dan cantik itu.. Iya, kosnya sebelah sana. Mbaknya siapanya mas Gending ya?”
“Saya saudaranya,” Jawab Nani singkat. Jawaban sekaligus pertanyaan dari penjual di warung makan itu begitu membuat Nani terpukul.
Tak lama kemudian Nani segera ke tempat kos yang dimaksud. Betapa kagetnya dia melihat perempuan di dalam kos itu. Perempuan yang sudah tidak asing lagi baginya. Dia lah mantan istri Gending yang katanya sudah dicerai.
Nani tak mampu mengontrol dirinya yang sudah dikuasai emosi. Dia mencaci maki perempuan itu, dia maki-maki juga Gending. Nani merasa stress. Tiba-tiba dia pergi tak tentu arah, membiarkan anaknya tak terurus. Bergaul dengan lingkungan bebas. Merokok, minum, dan dia menjadi berwatak keras pada siapapun.
Setelah mulai menyadari apa yang seharusnya dia lakukan, dia memutuskan untuk kembali ke Semarang setelah tahu Gending tidak akan bergeming dan berubah untuk bertanggung jawab.
Dia kecewa pada beberapa teman yang dulu pernah dibantunya, berubah tidak peduli pada nasibnya dan tidak mau menolong dirinya yang sedang jatuh. Nani berusaha bertahan dengan kerja kerasnya seoarang diri untuk membesarkan anak laki-laki semata wayangnya. Anak hasil buah cintanya dengan Gending yang sekarang tak acuh. Nani pernah bekerja menjadi pencuci piring di warung makan kecil pinggir jalan, hingga sekarang menjadi cleaning service di salah satu universitas swasta di Semarang.
Sedang Gending? yang Nani tahu dia kini sudah menjadi artis pemain peran yang sudah dikenal hampir seluruh masyarakat Indonesia dan tampil di layar kaca dengan memperkenalkan istri mudanya yang cantik. “Hallah mbak, artis emang ngono, iku paling jeg akih wedo-wedo nang mburine,” tutur Nani.
Sekarang anaknya yang sudah besar, menjadi peran pembantu acara-acara yang dipandu Tukul Arwana. Sesekali anaknya mengirim uang untuk menambah pemasukan biaya hidup Nani dan ibunya.
Hingga saat ini, setelah 16 tahun dirinya hidup sebagai seorang wanita yang hidup tanpa ada tanggung jawab dari suami, tanpa ada kepastian perpisahan dari suami, dia sama sekali tidak tertarik untuk kembali merajut ikatan pernikahan dengan lelaki manapun, “Saya trauma mbak,” katanya dengan mata berkaca-kaca mengakhiri pembicaraan.


#yaaAllah… begitu banyak cerita pernikahan yang menyedihkan seperti itu. Saat aku membaca buku “Catatan Hati Seorang Istri”-nya mbak Asma Nadia, saya juga disadarkan. Betapa harus benar-benar mencari suami soleh. Suami yang kuat iman sehingga tidak mudah goyah oleh kenikmatan duniawi semata. Tetapi, lelaki soleh yang memiliki jiwa ihsan, yang tahu jika Allah, Tuhannya, melihat saat dia berjanji di depan penghulu, yang melihat saat dia akan melakukan perzinaan dengan wanita lain, yang takut jika menelantarkan istri dan anaknya.
...Karena, begitu banyak cerita yang diawali dengan romantisme cinta yang kuat, pada akhirnya buruk dan dihujani penyesalan karena ketidaksabaran dan ketidakmampuannya menahan hawa nafsu. Naudzubillah…

By: Kirana D. Prameswari
adsense 336x280

2 Responses to " Hati-hati Memilih Pasangan, Jangan Sampai Jadi Korban Selanjutnya! "

  1. Tulisan/kisah ini sangat hidup. Saya bisa menjadi penulis, dan kemudian menjadi Nani. Teruslah menulis...

    Kang Syukron

    ReplyDelete