(KISAH NYATA)
Kamis (29/01) lewat takdir Allah menurunkan hujan, aku jadi tahu sesuatu. Mungkin benar kehadiran wanita yang tiba-tiba muncul di televisi memberikan pengakuan sebagai istri nikah siri atau istri yang sah dinikahi dan belum cerai oleh salah seorang public figure.
Kamis (29/01) lewat takdir Allah menurunkan hujan, aku jadi tahu sesuatu. Mungkin benar kehadiran wanita yang tiba-tiba muncul di televisi memberikan pengakuan sebagai istri nikah siri atau istri yang sah dinikahi dan belum cerai oleh salah seorang public figure.
Awalnya aku akan pulang dari tempat magang,
tiba-tiba langkahku terhenti karena melihat keadaan di luar ternyata masih
hujan deras. Akhirnya aku putuskan untuk duduk di lantai di pojokan ruang untuk
menikmati wifi gratis sambil menunggu hujan reda. Aku perhatikan beberapa saat,
ibu yang sedang mengepel ruangan itu. Kami saling menyunggingkan senyum.
Tiba-tiba ibu pengepel ruangan itu berjalan
mendekatiku lalu ikut duduk tak jauh dari tempatku duduk. Lagi-lagi aku hanya
menyunggingkan senyum. Tetapi, entah kenapa, tiba-tiba ibu yang rambutnya
dikucir kuda itu mengajakku bercerita. Tepatnya, meminta aku mendengarkan
ceritanya. Aku pikir setiap orang pasti mempunyai sisi menarik dari dirinya
yang bisa aku ambil sebagai pelajaran atau wawasan baru.
“Sebenarnya andai suami saya bertanggung jawab pasti
saya tidak akan menjadi seperti ini mbak…” begitu kalimat pembukanya,
menggantung.
Aku tertarik untuk mendengarkan ceritanya. Sayang,
suara hujan membuat suaranya terkadang kalah dan tak bisa kudengar meski sudah
kudekati.
“Mungkin mbaknya juga seperti kebanyakan orang-orang
yang gak akan percaya dengan cerita saya,” lanjutnya. Waah semakin membuatku
penasaran.
Akhirnya ibu yang baru kuketahui namanya adalah
Nani, bercerita panjang lebar. Tentu dengan bahasa khas Semarangan. Aku
berusaha menjadi pendengar yang baik dan sesekali mengajukan pertanyaan.
Baiklah aku tuliskan cerita Ibu Nani. Di sini aku hilangkan panggilan “ibu atau
bu” untuk mempermudah bercerita.
Nani sekarang berusia 48 tahun. Usia yang tak jauh
berbeda dengan ibuku. Saat muda, Nani pernah berpacaran tiga kali. Lalu, ibunya
menyuruh Nani untuk menikah dengan seorang yang bekerja di Pelayaran. Itu
adalah harapan Ibu Nani sejak dulu. Namun, meski kehidupan ekonomi keluarganya
sulit, Nani tetap mengedepankan cinta. Ia tidak mau dinikahkan dengan lelaki
yang tidak dicintainya.
Hingga pada suatu hari, seorang laki-laki yang
mengaku duda beranak satu mendekati Nani. Mereka berpacaran selama tiga tahun
sebelum akhirnya menikah. Keberanian si lelaki mengakui dirinya duda beranak
satu lah yang membuat Nani tertarik sejak awal. Mereka menikah pada tahun 1989 (Duh ingatanku buruk sekali, semoga tidak
salah).
| menikah, awal komitmen untuk bahagia bersama. meski tak tahu pada akhirnya... |
Lelaki itu adalah salah satu pemain peran yang
tergabung dalam Grup Srimulat yang sudah malang melintang di tanah air. Sebut
saja namanya Gending.
Gending selalu mengajak Nani kemanapun pergi.
Mengajak Nani untuk menemaninya pentas dari satu tempat ke tempat lain. Hingga
suatu hari mereka sampai Jakarta. Karir Gending terus menanjak. Nani disuruh pulang
ke Semarang dan setia menunggu Gending.
Bertahun-tahun Nani menunggu, tidak ada kabar dari
Gending. Uangpun tidak dikirim. Sedang anaknya yang sudah masuk TK butuh uang
untuk berbagai macam kebutuhannya. 1999 (semoga
ga salah), Nanipun nekat kembali ke Jakarta mengecek kondisi Gending yang
sudah lama tak memberi kabar. Berbekal informasi dari teman Gending yang juga
anggota Srimulat, dia pergi ke Jakarta untuk tujuan utama ke sebuah studio
terkenal. Pagi-pagi sekali Nani sudah sampai di lokasi yang disebutkan
temannya. Katanya, Gending akan shooting
pagi.
Sampai lokasi dan setelah lama menunggu shooting selesai, Gending menemuinya
sesaat sebelum kemudian menghilang. Lalu, salah seorang kerabat dari Srimulat
memberi tahu Nani, bahwa Gending sekarang tinggal di kos tak jauh dari lokasi shooting itu. Akhirnya Nani melangkah
menuju tempat yang ditunjukkan. Nani memilih untuk tidak langsung ke kos
Gending yang telah disebutkan. Dia malah mampir di warung makan dekat kos
Gending itu.
“Oh, mas Gending yang istrinya muda dan cantik itu..
Iya, kosnya sebelah sana. Mbaknya siapanya mas Gending ya?”
“Saya saudaranya,” Jawab Nani singkat. Jawaban sekaligus
pertanyaan dari penjual di warung makan itu begitu membuat Nani terpukul.
Tak lama kemudian Nani segera ke tempat kos yang
dimaksud. Betapa kagetnya dia melihat perempuan di dalam kos itu. Perempuan yang
sudah tidak asing lagi baginya. Dia lah mantan istri Gending yang katanya sudah
dicerai.
Setelah mulai menyadari apa yang seharusnya dia
lakukan, dia memutuskan untuk kembali ke Semarang setelah tahu Gending tidak
akan bergeming dan berubah untuk bertanggung jawab.
Dia kecewa pada beberapa teman yang dulu pernah
dibantunya, berubah tidak peduli pada nasibnya dan tidak mau menolong dirinya
yang sedang jatuh. Nani berusaha bertahan dengan kerja kerasnya seoarang diri
untuk membesarkan anak laki-laki semata wayangnya. Anak hasil buah cintanya
dengan Gending yang sekarang tak acuh. Nani pernah bekerja menjadi pencuci
piring di warung makan kecil pinggir jalan, hingga sekarang menjadi cleaning service di salah satu universitas
swasta di Semarang.
Sedang Gending? yang Nani tahu dia kini sudah
menjadi artis pemain peran yang sudah dikenal hampir seluruh masyarakat
Indonesia dan tampil di layar kaca dengan memperkenalkan istri mudanya yang
cantik. “Hallah mbak, artis emang ngono, iku
paling jeg akih wedo-wedo nang mburine,” tutur Nani.
Sekarang anaknya yang sudah besar, menjadi peran
pembantu acara-acara yang dipandu Tukul Arwana. Sesekali anaknya mengirim uang
untuk menambah pemasukan biaya hidup Nani dan ibunya.
Hingga saat ini, setelah 16 tahun dirinya hidup
sebagai seorang wanita yang hidup tanpa ada tanggung jawab dari suami, tanpa
ada kepastian perpisahan dari suami, dia sama sekali tidak tertarik untuk
kembali merajut ikatan pernikahan dengan lelaki manapun, “Saya trauma mbak,” katanya
dengan mata berkaca-kaca mengakhiri pembicaraan.
#yaaAllah… begitu banyak cerita pernikahan yang
menyedihkan seperti itu. Saat aku membaca buku “Catatan Hati Seorang Istri”-nya
mbak Asma Nadia, saya juga disadarkan. Betapa harus benar-benar mencari suami
soleh. Suami yang kuat iman sehingga tidak mudah goyah oleh kenikmatan duniawi
semata. Tetapi, lelaki soleh yang memiliki jiwa ihsan, yang tahu jika Allah,
Tuhannya, melihat saat dia berjanji di depan penghulu, yang melihat saat dia
akan melakukan perzinaan dengan wanita lain, yang takut jika menelantarkan
istri dan anaknya.
...Karena, begitu banyak cerita yang diawali dengan
romantisme cinta yang kuat, pada akhirnya buruk dan dihujani penyesalan karena
ketidaksabaran dan ketidakmampuannya menahan hawa nafsu. Naudzubillah…
By: Kirana D. Prameswari
By: Kirana D. Prameswari

nice... thanks
ReplyDeleteTulisan/kisah ini sangat hidup. Saya bisa menjadi penulis, dan kemudian menjadi Nani. Teruslah menulis...
ReplyDeleteKang Syukron