adsense 336x280
#Gak nyaman banget baca tampilan blog ditulisan ini dan tulisan-tulisan lain yang sudah lama. Banyak tanda ">>" yang muncul sendiri. Aneh.

Semarang, 24 Januari 2015
Kebetulan, ada lomba bertema patah hati. Aku rasa pas dengan apa yang sedang aku rasakan. Meski pada awalnya aku memilik ide cerita sendiri, entah mengapa lagi-lagi hasilnya berupa cerita nyata yang sedikit modifikasi (hanya dalam hal teknis). Aku memang kerap kali kesulitan membuat cerita murni ide yang bukan dari pengalaman pribadi. Setelah menulis, tadinya aku mengurungkan niat untuk diikutkan dalam lomba karena malah terlalu curhat. Tapi yasudah, dicoba saja (padahal males nungguin pengumuman, udah keburu pengen langsung ngepost ini di blog. Haha) Yah, bagi yang minat, nikmati saja lah ceritanya… #eh, curhatannya. =D

Aku Rasa Hukum Karma Benar-benar Ada (?)

“Aku lelah. Biarkan aku sendiri dulu.
Jangan hubungi aku lagi. Please…”
Seperti itulah isi pesan terakhirku padanya. Setelah itu, aku sudah enggan membalas sms darinya yang masuk bertubi-tubi. Sudah sebulan lebih aku memutuskan hubungan dengan kekasihku. Itu hal yang sudah sering aku lakukan. Dan aku yakin tak lama lagi dia pasti menghubungiku kembali, mengajak balikan. Ah aku tak perlu khawatir kehilangan dia. Toh dia selalu kembali mengajakku menjalin hubungan yang tak pernah kami sebut dengan istilah ‘pacaran’ itu.
Aku mudah saja memutuskan hubungan sesuka hati, semauku. Tentu saat aku merasa bosan dan jengkel dengan tingkahnya. Tapi tak lama pasti aku menyesal dan tak kuasa menahan untuk kembali menjalin hubungan. Yah, emosiku memang tidak stabil. Tak heran jika banyak yang menjulukiku ‘ababil’. *(lihat saja di blogku ini, setelah postingan judul “Finally, the story about you and me” ehh gak lama kemudian muncul postingan “rasanya jadi pasanganmu, pasanganku” yang isinya penuh kebahagiaan dan optimisme langgeng sampai mati. #preet
***
Hari ini adalah tepat satu hari sebelum ulang tahunku ke-20. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu aku sudah tidak tahan untuk kembali menghubunginya. Aku sudah teramat rindu ingin berbincang lagi dengannya, meski hanya lewat sms. Namun, seperti biasa. Rasa gengsi yang aku miliki mengalahkan perasaan rinduku padanya.
Aku mencoba bersabar menunggu sms darinya untuk mengajak menjalin hubungan kembali. Beberapa kali aku tersenyum sendiri membayangkan sesuatu yang sebenarnya mustahil terjadi namun sulit ditepis dari pikiranku. Aku membayangkan dia sengaja tak menghubungiku karena ingin memberikan surprise di hari ulang tahunku ke-20 besok. #efek nonton dramkor -_-


Namun tiba-tiba senyum itu berubah menjadi rasa khawatir. Aku takut jika ternyata dia benar-benar sudah tidak mau lagi menghubungiku. Ah, aku hanya bisa berusaha menepis semua pikiran yang melelahkan dan tak memiliki kepastian. Lebih baik memasrahkan semuanya pada Tuhan.

*untuk masalah surprise, sebenarnya kadang aku mikir gak berlebihan juga harapanku. Nih, tetanggaku, yang ulang tahun 26 januari kemarin juga bisa bahagia karena pacarnya. hmmh apapun itu, aku berpikir saja memang ini yang terbaik untukku. :')


hiks. seneng banget yah git :')
*maaf yaa tak screenshot. nanti izinnya kalo ketemu langsung aja. ihihihi.

***
22 Januari 2015
Aku terbangun pukul 02.00 pagi. Beberapa sms sudah masuk ke handphone-ku berisi ucapan-ucapan selamat ulang tahun. Namun aku tak mendapati isi pesan darinya. Perasaan sedih menguasaiku. Hingga hari ulang tahunku hampir berakhir, aku masih belum mendapatkan tanda-tanda akan adanya kejutan spesial yang sudah aku harapkan.
Karena tak sabar lagi menunggu, aku putuskan untuk menghubungi dia. Betapa terkejutnya aku mendapati balasan sms darinya. Tubuhku langsung lemas. Pandanganku kabur. Ingin saat itu juga aku mati. Aku benar-benar tak kuasa menahan rasa sedih dan kecewa. Hingga suara tangis yang keluar tak bisa terdengar lagi.
Ternyata benar pernyataan seseorang yang awalnya tidak ku percayai. Katanya, tak ada laki-laki yang mampu terus-menerus bersabar ditarik ulur perasaannya. Begitupun dia. Ternyata dia masuk ke dalam golongan lelaki yang tak mampu bersabar itu. Aku tahu ini memang salahku. Inilah hukum karma dari Tuhan. Aku hanya bisa menerima kenyataan mendapati hari ulang tahun terburuk. Biarlah aku mengorbankan kebahagiaan di hari ulang tahun ke-20 ku ini yang semestinya spesial. Daripada harus menanggung karma yang lebih parah. 
Aku memang pantas mendapatkan ini semua. Berbeda dengan hari ulang tahunmu ke-20 tahun lalu. Aku yakin saat itu kau benar-benar bahagia mendapati kejutan sederhana dariku. Kau memang pantas mendapatkannya. Sedang aku? hanya kata-kata menyakitkan yang pantas untuk menggenapi ulang tahunku. Bukan berarti aku tidak ikhlas dan ingin kau membayar kebahagiaan yang setimpal di hari ulang tahunku, namun setidaknya kepedulian akan perasaan seseorang yang pernah menemani hari-harimu, apakah tak tersisa?


***
Esok hari aku terbangun dengan mata sembap sisa tangis semalam. Lama sekali aku merenung. Masih banyak ‘seandainya-seandainya’ yang berkelebat dipikiranku. Aku berpikir menyesal telah melewati hari ulang tahun ke-20 di perantauan dengan segala kekecewaan yang aku dapatkan. Tahu bakal seperti ini lebih baik aku paksakan pulang. Di rumah aku yakin aku akan lebih menemukan kedamaian. Meski tak ada kejutan atau pesta meriah, dekat dengan kedua orangtua memiliki sensasi kebahagiaan sendiri.
Lalu pikiran lain muncul, mengapa dia begitu tega membiarkan aku melewati hari ulang tahun ke-20 dipenuhi kesedihan. Tidakkah dia berpikir tindakannya akan sangat membuatku terpukul. Tidak bisakah dia menunda. Lebih sabar sedikit, setidaknya untuk hari ulang tahunku saja. Biarkan aku bahagia dengan kepeduliannya dengan membuat kejutan sederhana. Atau bahkan tak usah kejutan, tapi waktu yang dia luangkan dalam sehari saja. Setelah itu, silakan beri pernyataan jujur bahwa dia sudah lelah dan tak ingin lagi menjalin hubungan bersamaku. Dengan begitu setidaknya dalam catatanku, aku tetap melewati hari ulang tahun dengan perasaan bahagia. Tanggal 22 Januari sungguh bermakna bagiku, tanggal lahir pasti lah memiliki makna yang begitu berarti bagi pemiliknya. Ah, mungkin dia sudah tidak peduli akan hal itu. Akan semua tentangku. Begitu cepat perasaan seseorang berubah. Tuhan memang yang menghendaki itu semua.

***
Beberapa saat aku baru menyadari bahwa masih ada orang-orang yang peduli denganku. Menyayangiku secara tulus. Akupun memaksakan diri bertekad untuk menghilangkan rasa dan melupakannya. Aku berterima kasih pada Tuhan yang telah memberiku pelajaran berharga tepat di usiaku yang ke-20 ini. Kado berupa ujian kedewasaan. Tamparan halus dari Tuhan agar aku tidak lagi mengulang kesalahan yang sama: mempermainkan perasaan orang (yang sebenarnya tak pernah aku berniat buruk seperti itu). Aku yakin apa yang aku alami adalah yang terbaik menurut Tuhan. Tak mungkin juga aku dan dia menjalin hubungan yang terus-menerus tak memiliki kejelasan. Di dalamnya pun dipenuhi kekecewaan dan tarik ulur perasaan. Aku hanya perlu mengambil pelajaran dari semua ini.
***
Dia sudah lelah dan membuatku juga terbawa virus lelah darinya. Aku dan dia sama-sama lelah. Meski kata seseorang, jika benar-benar cinta mestinya tidak ada kata lelah. Aku tak tahu, mungkin Tuhan juga lelah melihat tingkahku dan dia.
Yup. Akhirnya, kisahku dengannya benar-benar berakhir. Aku ingin memulai hidup baru, aku ingin meminimalisir penggunaan gadget karena itu hanya akan membuatku kembali teringat padanya: foto, pesan, ingin kembali menghubungi, dan apapun itu. Aku ingin menyibukkan diri dengan hal-hal yang sudah lama tak ku sentuh. Hal-hal yang lebih bermanfaat untuk masa depan, dunia akhirat tentunya. Meski berat, tapi dengan bantuan Tuhan aku yakin aku bisa. Bismillah…~
THE END

NB: Do’ain yaa…, kawan! :’)
Spasiba Balshoi! ^_^
#Oya, cerita di atas udah dapet banyak tambahan. Lha yang dilombain cuma disuruh maksimal 500 kata -_-
Pesan untuk kamu yang dalam cerita menjadi pemeran “dia” (ya barang kali aja baca), terima kasih telah kembali membuatku merasa menjadi wanita terburuk di dunia dengan kenyataan yang kau buat pada hari ulang tahunku. Jangan salahkan aku bila aku mengabaikan ajakan berteman di bbm. Aku bukan tipe orang yang bisa membedakan antara cinta dua pasangan dan teman. Lagi pula aku sudah tidak berminat dengan apapun yang berhubungan denganmu. Waah sepertinya aku mati rasa. Haha. Semoga jangan trauma saja. Aamiin.

Hmm seperti yang kamu pesankan padaku juga, oke lah ayo saling memperbaiki diri saja. Tentu niat karena ingin menggapi ridla Allah. Berharap dapet bonus jodoh yang terbaik juga. Mungkin bukan aku untuk kamu dan kamu untuk aku. Tapi benar-benar yang “pas” untuk kita. Semangaaat! Kalo jodoh gak kemana, kan? :’D \m/


#Tadaaa. Kemarin pengumuman lombanya. Ternyata lolos loh.. Meski bukan pemenang. Wkwk. (Tumben lolos, mungkin karena dari hati banget yaa. Haha. Jane ini ragu mau ngepost, tapi tak apalah lagian udah banyak yang berubah dari yang dikirim untuk lomba. Hihi.) :D

By: Kirana D. Prameswari
adsense 336x280

0 Response to " KARMA (?) "

Post a Comment