#Gak nyaman banget baca tampilan blog ditulisan ini dan tulisan-tulisan lain yang sudah lama. Banyak tanda ">>" yang muncul sendiri. Aneh.
Semarang, 24 Januari 2015
Semarang, 24 Januari 2015
Kebetulan,
ada lomba bertema patah hati. Aku rasa pas dengan apa yang sedang aku rasakan.
Meski pada awalnya aku memilik ide cerita sendiri, entah mengapa lagi-lagi
hasilnya berupa cerita nyata yang sedikit modifikasi (hanya dalam hal teknis).
Aku memang kerap kali kesulitan membuat cerita murni ide yang bukan dari
pengalaman pribadi. Setelah menulis, tadinya aku mengurungkan niat untuk
diikutkan dalam lomba karena malah terlalu curhat. Tapi yasudah, dicoba saja
(padahal males nungguin pengumuman, udah keburu pengen langsung ngepost ini di
blog. Haha) Yah, bagi yang minat, nikmati saja lah ceritanya… #eh, curhatannya. =D
Aku Rasa Hukum
Karma Benar-benar Ada (?)
“Aku
lelah. Biarkan aku sendiri dulu.
Jangan
hubungi aku lagi. Please…”
Seperti itulah isi pesan terakhirku padanya. Setelah
itu, aku sudah enggan membalas sms darinya yang masuk bertubi-tubi. Sudah
sebulan lebih aku memutuskan hubungan dengan kekasihku. Itu hal yang sudah
sering aku lakukan. Dan aku yakin tak lama lagi dia pasti menghubungiku
kembali, mengajak balikan. Ah aku tak
perlu khawatir kehilangan dia. Toh
dia selalu kembali mengajakku menjalin hubungan yang tak pernah kami sebut
dengan istilah ‘pacaran’ itu.
Aku mudah saja memutuskan hubungan sesuka hati,
semauku. Tentu saat aku merasa bosan dan jengkel dengan tingkahnya. Tapi tak
lama pasti aku menyesal dan tak kuasa menahan untuk kembali menjalin hubungan. Yah, emosiku memang tidak stabil. Tak
heran jika banyak yang menjulukiku ‘ababil’. *(lihat saja di blogku ini,
setelah postingan judul “Finally, the story about you and me” ehh gak lama
kemudian muncul postingan “rasanya jadi pasanganmu, pasanganku” yang isinya
penuh kebahagiaan dan optimisme langgeng sampai mati. #preet
***
Hari ini adalah tepat satu hari sebelum ulang
tahunku ke-20. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu aku sudah tidak tahan
untuk kembali menghubunginya. Aku sudah teramat rindu ingin berbincang lagi dengannya,
meski hanya lewat sms. Namun, seperti biasa. Rasa gengsi yang aku miliki mengalahkan
perasaan rinduku padanya.
Aku mencoba bersabar menunggu sms darinya untuk
mengajak menjalin hubungan kembali. Beberapa kali aku tersenyum sendiri
membayangkan sesuatu yang sebenarnya mustahil terjadi namun sulit ditepis dari
pikiranku. Aku membayangkan dia sengaja tak menghubungiku karena ingin
memberikan surprise di hari ulang
tahunku ke-20 besok. #efek nonton dramkor -_-

Namun tiba-tiba senyum itu berubah menjadi rasa
khawatir. Aku takut jika ternyata dia benar-benar sudah tidak mau lagi
menghubungiku. Ah, aku hanya bisa
berusaha menepis semua pikiran yang melelahkan dan tak memiliki kepastian.
Lebih baik memasrahkan semuanya pada Tuhan.
*untuk masalah surprise, sebenarnya kadang aku mikir gak berlebihan juga harapanku. Nih, tetanggaku, yang ulang tahun 26 januari kemarin juga bisa bahagia karena pacarnya. hmmh apapun itu, aku berpikir saja memang ini yang terbaik untukku. :')
*untuk masalah surprise, sebenarnya kadang aku mikir gak berlebihan juga harapanku. Nih, tetanggaku, yang ulang tahun 26 januari kemarin juga bisa bahagia karena pacarnya. hmmh apapun itu, aku berpikir saja memang ini yang terbaik untukku. :')
| hiks. seneng banget yah git :') *maaf yaa tak screenshot. nanti izinnya kalo ketemu langsung aja. ihihihi. |
***
22 Januari 2015
Aku terbangun pukul 02.00 pagi. Beberapa sms sudah
masuk ke handphone-ku berisi
ucapan-ucapan selamat ulang tahun. Namun aku tak mendapati isi pesan darinya.
Perasaan sedih menguasaiku. Hingga hari ulang tahunku hampir berakhir, aku
masih belum mendapatkan tanda-tanda akan adanya kejutan spesial yang sudah aku
harapkan.
Karena tak sabar lagi menunggu, aku putuskan untuk
menghubungi dia. Betapa terkejutnya aku mendapati balasan sms darinya. Tubuhku
langsung lemas. Pandanganku kabur. Ingin saat itu juga aku mati. Aku
benar-benar tak kuasa menahan rasa sedih dan kecewa. Hingga suara tangis yang
keluar tak bisa terdengar lagi.
Ternyata benar pernyataan seseorang yang awalnya
tidak ku percayai. Katanya, tak ada laki-laki yang mampu terus-menerus bersabar
ditarik ulur perasaannya. Begitupun dia. Ternyata dia masuk ke dalam golongan
lelaki yang tak mampu bersabar itu. Aku tahu ini memang salahku. Inilah hukum
karma dari Tuhan. Aku hanya bisa menerima kenyataan mendapati hari ulang tahun
terburuk. Biarlah aku mengorbankan kebahagiaan di hari ulang tahun ke-20 ku ini
yang semestinya spesial. Daripada harus menanggung karma yang lebih parah.
Aku memang pantas mendapatkan ini semua. Berbeda
dengan hari ulang tahunmu ke-20 tahun lalu. Aku yakin saat itu kau benar-benar
bahagia mendapati kejutan sederhana dariku. Kau memang pantas mendapatkannya.
Sedang aku? hanya kata-kata menyakitkan yang pantas untuk menggenapi ulang
tahunku. Bukan berarti aku tidak ikhlas dan ingin kau membayar kebahagiaan yang
setimpal di hari ulang tahunku, namun setidaknya kepedulian akan perasaan
seseorang yang pernah menemani hari-harimu, apakah tak tersisa?

***
Esok hari aku terbangun dengan mata sembap sisa
tangis semalam. Lama sekali aku merenung. Masih banyak ‘seandainya-seandainya’
yang berkelebat dipikiranku. Aku berpikir menyesal telah melewati hari ulang
tahun ke-20 di perantauan dengan segala kekecewaan yang aku dapatkan. Tahu
bakal seperti ini lebih baik aku paksakan pulang. Di rumah aku yakin aku akan
lebih menemukan kedamaian. Meski tak ada kejutan atau pesta meriah, dekat
dengan kedua orangtua memiliki sensasi kebahagiaan sendiri.
Lalu pikiran lain muncul, mengapa dia begitu tega
membiarkan aku melewati hari ulang tahun ke-20 dipenuhi kesedihan. Tidakkah dia
berpikir tindakannya akan sangat membuatku terpukul. Tidak bisakah dia menunda.
Lebih sabar sedikit, setidaknya untuk hari ulang tahunku saja. Biarkan aku bahagia
dengan kepeduliannya dengan membuat kejutan sederhana. Atau bahkan tak usah
kejutan, tapi waktu yang dia luangkan dalam sehari saja. Setelah itu, silakan
beri pernyataan jujur bahwa dia sudah lelah dan tak ingin lagi menjalin hubungan
bersamaku. Dengan begitu setidaknya dalam catatanku, aku tetap melewati hari
ulang tahun dengan perasaan bahagia. Tanggal 22 Januari sungguh bermakna
bagiku, tanggal lahir pasti lah memiliki makna yang begitu berarti bagi
pemiliknya. Ah, mungkin dia sudah tidak peduli akan hal itu. Akan semua
tentangku. Begitu cepat perasaan seseorang berubah. Tuhan memang yang
menghendaki itu semua.

***
Beberapa saat aku baru menyadari bahwa masih ada
orang-orang yang peduli denganku. Menyayangiku secara tulus. Akupun memaksakan
diri bertekad untuk menghilangkan rasa dan melupakannya. Aku berterima kasih
pada Tuhan yang telah memberiku pelajaran berharga tepat di usiaku yang ke-20
ini. Kado berupa ujian kedewasaan. Tamparan halus dari Tuhan agar aku tidak
lagi mengulang kesalahan yang sama: mempermainkan perasaan orang (yang
sebenarnya tak pernah aku berniat buruk seperti itu). Aku yakin apa yang aku
alami adalah yang terbaik menurut Tuhan. Tak mungkin juga aku dan dia menjalin
hubungan yang terus-menerus tak memiliki kejelasan. Di dalamnya pun dipenuhi
kekecewaan dan tarik ulur perasaan. Aku hanya perlu mengambil pelajaran dari
semua ini.
***
Dia sudah lelah dan membuatku juga terbawa virus
lelah darinya. Aku dan dia sama-sama lelah. Meski kata seseorang, jika
benar-benar cinta mestinya tidak ada kata lelah. Aku tak tahu, mungkin Tuhan
juga lelah melihat tingkahku dan dia.
Yup. Akhirnya, kisahku dengannya benar-benar berakhir. Aku
ingin memulai hidup baru, aku ingin meminimalisir penggunaan gadget karena itu hanya akan membuatku
kembali teringat padanya: foto, pesan, ingin kembali menghubungi, dan apapun
itu. Aku ingin menyibukkan diri dengan hal-hal yang sudah lama tak ku sentuh. Hal-hal
yang lebih bermanfaat untuk masa depan, dunia akhirat tentunya. Meski berat,
tapi dengan bantuan Tuhan aku yakin aku bisa. Bismillah…~
THE END
NB: Do’ain yaa…, kawan! :’)
Spasiba Balshoi! ^_^
#Oya, cerita di atas udah dapet banyak tambahan. Lha
yang dilombain cuma disuruh maksimal 500 kata -_-
Pesan untuk kamu yang dalam cerita menjadi pemeran
“dia” (ya barang kali aja baca), terima kasih telah kembali membuatku merasa
menjadi wanita terburuk di dunia dengan kenyataan yang kau buat pada hari ulang
tahunku. Jangan salahkan aku bila aku mengabaikan ajakan berteman di bbm. Aku
bukan tipe orang yang bisa membedakan antara cinta dua pasangan dan teman. Lagi
pula aku sudah tidak berminat dengan apapun yang berhubungan denganmu. Waah
sepertinya aku mati rasa. Haha. Semoga jangan trauma saja. Aamiin.
Hmm seperti yang kamu pesankan padaku juga, oke lah
ayo saling memperbaiki diri saja. Tentu niat karena ingin menggapi ridla Allah.
Berharap dapet bonus jodoh yang terbaik juga. Mungkin bukan aku untuk kamu dan
kamu untuk aku. Tapi benar-benar yang “pas” untuk kita. Semangaaat! Kalo jodoh
gak kemana, kan? :’D \m/
#Tadaaa. Kemarin pengumuman lombanya. Ternyata lolos loh.. Meski bukan pemenang. Wkwk. (Tumben lolos, mungkin karena dari hati banget yaa. Haha. Jane ini ragu mau ngepost, tapi tak apalah lagian udah banyak yang berubah dari yang dikirim untuk lomba. Hihi.) :D
By: Kirana D. Prameswari
0 Response to " KARMA (?) "
Post a Comment