Cerita Pe Ka El #JilidSatu

adsense 336x280
Ceritanya, kemarin temen serombelku update status isinya begini, “PKL ku asik banget. Alhamdulillah..” tentu disertai emotikon beraneka gaya. Membaca status dia membuat perasaanku campur aduk. Ada iri, kenapa PKL/magangku sepertinya ga seasik dia, sebel kenapa dia pamer seperti itu. Tentu juga bahagia lihat temenku seneng dengan PKLnya. Tapi, apapun yang aku rasakan dan bagaimanapun PKLku, aku ingin bercerita sedikit. #atau banyak barangkali. Hihi.

19 Januari 2015
Awalnya aku bingung akan seperti apa nanti sampai tempat PKL alias magangku di Televisi Kampus Udinus, Semarang. Pasalnya aku benar-benar belum tahu gambaran awal kondisi kerja di tempat magangku. Saat akan berangkat saja aku bingung memilih baju yang cocok untuk aku kenakan. Awalnya aku akan memakai rok hitam dengan atasan batik. Namun tiba-tiba aku ingat, aku bukan mau magang di sekolah untuk menjadi guru. Tapi aku mau magang di stasiun televisi. Omegot. Untuk aku cepat sadar. Segeralah aku berganti mengenakan pakaian yang menurutku netral. Kembali mengenakan celana-pakaian bawahan yang sudah sangat jarang aku kenakan. Aku ingin melihat dulu seperti apa kondisi di lapangan. Setelah itu aku pasti akan menyesuaikan. Ini karena kebodohanku tak pernah bertanya mengenai kostum saat dulu bolak-balik ngurusi administrasi. Hips.

Selfie hari pertama. Sambil ngumpet-ngumpet malu kaloketahuan. Eh, tetep aja ada yang ngliat: Justin. Malu banget (karena waktu itu belum kenal deket). Setelah beberapa hari sih, dia malah yg sering ngajakin selfie, Haha. Kirain cuma aku yang doyan selfie. xD


Sepanjang perjalanan ke kantor, aku sedikit demam panggung (istilah tok ki..). Aku kembali menyadarkan diri bahwa jalur yang akan selalu aku lewati selama 40 hari ke depan ini berbeda dari biasanya. Yes, gak lagi lewat jalan yang jauh, nanjak, sepi. Ihiir sekarang muter-muternya tengah kota aja nih. Kurang dari lima belas menit sudah bisa sampe tujuan. Horray! *dengan catatan: kalo lagi bejo nggak papasan sama bangjo alias lampu merah lalu lintas. Maklum, tengah kota ramai. Angka lampu merahnya juga ramai bangeet… ratusan lebihnya banyak gitu deeh. :/

***
Sampai di tempat magang, aku celingukan bingung mau ngapain. Aku berangkat terlalu pagi. Mestinya pukul 09.00, aku sudah sampai kantor pukul 08.40. Maklum, namanya juga hari pertama magang. Ceritanya masih polos gituu. Kalo hari-hari selanjutnya? Ah, jangan tanya pada orang yang santai ini. Haha.
Tak lama kemudian, ada dua orang pemuda yang aku tahu mereka pasti mahasiswa. Benar, setelah diperkenalkan, ternyata mereka sama denganku, mahasiswa magang (dan sama-sama hari pertama!). Mereka berasal dari Universitas Merdeka Malang. Nama yang masih asing di telingaku.

Awalnya aku bingung membedakan salah satu di antara mereka. Apakah laki-laki atau perempuan. Pasalnya, dari segi penampilan, dia cowok bingiiit… (Ah, maaf, di tulisan murni curhat seperti ini aku sengaja menggunakan kalimat-kalimat tidak baku dan asal-asalan. Tolong dimaafkan dan tetap dinikmati yaa. Hiks.)
Akhirnya, setelah berbisik menanyakan pendapat siswa SMK magang yang baru aku kenal, aku memberanikan diri untuk memanggil dia “mba”. Untung saja tebakanku tak salah. Dia memang perempuan. Yeey!

Baik, aku belum menyebutkan nama kedua mahasiswa yang pada akhirnya menemani hari-hariku selama magang. Tadaa..! mereka adalah Justin (perempuan) dan Vincent (laki-laki).
Mereka berdua asli Malang, dan…sama-sama berdarah Tiongkok!
Dari segi nama tentu teman-teman tahu apa agama yang mereka anut. Pastinya di luar Islam. Ya, mereka beragama Kristen. (Waah saat aku menulis Kristen tiba-tiba otomatis huruf K-nya jadi kapital. Pas nulis Islam kok engga… uhuhu -_-)

***
Justin, mas-mas yang ga sengaja ikut ke foto,
aku, dan Vincent di ruang Kontrol. Ahihihi. :D
Hari pertama, kedua, dan seterusnya aku, Justin, dan Vincent selalu ke kantin kampus untuk sarapan plus ngero*ok. Jangan-jangan kalian juga berpikir aku ikutan ngro*ok? Waah. Jangan yaa, cukup Justin saja yang mempertanyakan hal itu padaku. Hiks.

Awalnya, setelah makan Vincent melirik Justin, dia bilang “Eh, pencitraan yo koe” lalu Justin sambil malu-malu malah balik bertanya, “Maksudmu opo ta, Cen?” Vincent haya menjawab dengan mengacung-acungkan rokok di tangannya.
Akhirnya, Justin meminta izin padaku, “Hehe maaf yaa Kirana, aku ngro*ok, ngga papa kan? Kamu ngga ngro*ok ta?” hahaha kami semua tertawa. *belum happy ending hluu. :D

Yasudah, dilanjut Cerita Pe Ka El #JilidDua saja yaa. Biar teman-teman yang baca gak capek. Hehee. ^_^
adsense 336x280

0 Response to " Cerita Pe Ka El #JilidSatu "

Post a Comment