“Hmm, pukul 20.45.” jawabku datar. Untuk
kesekian kalinya aku melihat empat digit angka yang berbaris rapih mengartikan
antara jam dan menit di hp-ku. Bukan apa-apa, temanku yang menanyakan. Mungkin
dia tak membawa hp, atau mungkin dia memakai jam tangan namun jarum penunjuknya
tak bisa terlihat.
---
Ruangan memang begitu gelap. Tak ada satu
pun bola lampu yang terlihat berpijar menyala terang. Hanya ada temaram cahaya
dari layar besar berbentuk persegi di depanku. Entah sudah berapa kali teman
disampingku mengeluhkan ingin segera
pulang dan beberapa yang lain menguap begitu lepasnya karena rasa kantuk yang sulit ditolak. Namun banyak pula yang masih asyik mengadahkan kepalanya ke layar besar. Aku dan beberapa temanku malam ini tengah memiliki salah satu agenda organisasi kami. Agenda yang bagi sebagian besar anggota merupakan agenda yang cukup mengasyikkan dan tentu jarang dilakukan. Walau pada akhirnya tetap terjadi kegiatan bertukar pendapat yang selalu menuntut untuk kritis. Ya, menonton film, yang kemudian didiskusikan bersama. Itu agendanya.
pulang dan beberapa yang lain menguap begitu lepasnya karena rasa kantuk yang sulit ditolak. Namun banyak pula yang masih asyik mengadahkan kepalanya ke layar besar. Aku dan beberapa temanku malam ini tengah memiliki salah satu agenda organisasi kami. Agenda yang bagi sebagian besar anggota merupakan agenda yang cukup mengasyikkan dan tentu jarang dilakukan. Walau pada akhirnya tetap terjadi kegiatan bertukar pendapat yang selalu menuntut untuk kritis. Ya, menonton film, yang kemudian didiskusikan bersama. Itu agendanya.
Meski film yang diputar bukan termasuk genre film yang aku suka, karena yang
diputar adalah film action/detektif,
entahlah. Namun aku cukup menikmati dan tak merasa bosan. Yaa karena aku
menonton film dari awal pemutaran. Jadilah aku paham dengan runtutan cerita
yang disuguhkan itu.
Singkat cerita, empat digit angka di hp ku sudah
menunjukkan pukul 21.15.
Temanku melucutkan bentuk perhatiannya.
“Kirana, kamu pulang?”
“iya,” jawabku sekenanya.
Serentak beberapa teman disampingku langsung
menoleh dan berkomentar
”hey, sudah malam. Apa kau yakin tetap
pulang?”
“di luar hujan… dan cerita beberapa teman,
di jalan dekat tanjakan trankil itu sering ada orang jahat yang keluarnya
malam-malam begini. Apa tak sebaiknya menginap saja?”
Bla… Bla…Bla…
“tak apa. Sudah biasa… Hehe” jawabku dengan
senyum yang sok tegar.
“asiiik… Wanita tangguh kamu..” celetuk
salah seorang teman. Yang entah tulus reflect
atau hanya ungkapan yang dibuat-buat.
Namun, tanpa penjelasan dia pun aku sudah
merasa demikian. Menjadi wanita tangguh yang memang jarang kutemui pada wanita
lain yang seperti aku. Malam-malam masih di kampus dengan beberapa rutinitas
yang terkadang sebenarnya tak begitu penting, namun dipenting-pentingkan oleh
diri yang merasa masih berstatus ‘pengangguran’ ini. Padahal jarak yang harus
ku tempuh dari kampus sampai kost-ku cukup jauh. Kurang lebih menghabiskan
waktu 30 menit untuk perjalanan. Dengan medan yang naik-turun-bergelombang
serta sedang diperbaiki besar-besaran. Ditambah pula medan yang kutempuh
beberapa kilometer menyuguhkan suasana sepi yang jarang terlihat bangunan,
hanya dipenuhi pepohonan besar.
---
Sesaat setelahnya, film pun selesai diputar.
Diskusi sudah berjalan beberapa menit lamanya. Kemudian aku bolak-balik bangkit
dari posisi dudukku. Menerawang dari balik jendela di ruangan itu, ‘apakah
hujan sudah reda?’. ‘oh belum’. Kemudian duduk kembali ke lingkaran yang
dipenuhi ocehan bentuk kekritisan anggota.
Setelah beberapa kali ‘mengintip’ akhirnya
aku memutuskan untuk berkemas dan berpamitan. Aku izin pulang. Tepat pukul
21.45.
Dan sampai kepalaku menyembul keluar dari
pintu depan gedung, gelap dan sepi yang ku rasakan. Hujan belum sepenuhnya
hilang. Masih ada rintikan-rintikan kecil yang tetap akan membuatku basah dan
kedinginan.
Bagaimana perasaanku? Apa tidak takut? Oh
jangan salah. Malam itu rasanya berbeda. Mungkin karena saat menonton film
dipenuhi aksi-aksi yang menegangkan sekaligus mendebarkan. Ditambah pula hujan
deras diiringi petir yang beberapa kali terdengar dan kilatnya terlihat begitu
cepat dari dalam ruangan.
Karena semua itu, jujur, Aku jadi merasa
sedikit takut. Dan juga tiba-tiba merasa ‘nelangsa’.
Sambil terus berjalan ke arah parkiran
untuk menjemput motor kesayangan, aku membayangkan sesuatu yang menyebalkan
karena muncul saja dipikiran saat itu. Namun aku yakin akan kudapatkan nanti di
waktu yang tepat dengan kemasan yang lebih indah. Sesuatu yang dibayangkan itu
adalah bentuk perhatian dari seseorang yang berperan sebagai tambatan hati.
“nduk*, sudah malam, kenapa tetap mau
pulang?”
“ya sudah kalo maumu begitu, mas iringi yah
sampai mas memastikan kamu benar-benar masuk ke kost”
“jangan lupa pakai jaketmu dan penghangat
tubuh yang lain, perjalanan jauh dan gerimis, tubuhmu akan kedinginan”
Oh….! Hush hush hush ! Segera ku tepis
angan-angan yang hanya melenakan itu.
Ha ha ha… Gelak tawaku pecah karena semua
angan-angan kosong tadi. Kembali berganti raut muka ini menjadi murung. Lalu sesegera
mungkin aku berusaha menyadarkan diri untuk bersikap normal seperti biasanya. Sepertinya
angan-angan tadi hanya akan membuatku semakin merasa ‘nelangsa’.
Motorku, Kawaii, sudah siap melaju dan
ingin gasnya ditancapkan sedalam mungkin. Sepertinya dia tahu kalau si empunya,
aku, sedang ketakutan dan ingin segera sampai tujuan. Meski tubuhnya yang
bergradasi biru-hitam itu telah lusuh, terkena goresan-goresan yang membuatnya
terluka, cipratan tinta cokelat dari jalanan yang tumpah kepermukaan yang sama
sekali tak rata. Dia tetap setia mengantarkanku menyusuri jalanan yang sama
setiap harinya, tanpa ada rasa bosan. Tanpa ada keluhan.
“Bismillahi tawakkaltu alallah, laakhaula
walaakhuwwata illabillahilaliyyiladziim…”
Satu do’a wajib mengawali perjalanku. Ya,
aku selalu siap melakukan perjalanan karena satu yang kuyakini, dengan do’a
yang selalu aku lantunkan di sepanjang jalan akan menjauhkanku dari segala
marabahaya. Dan selalu membuatku tenang karena aku merasa Allah selalu
tersenyum mengiringiku. :D
---Aku ingat salah satu isi sebuah buku
yang pernah ku baca, yang intinya, jika perjalanan kita diiringi dengan
lantunan do’a dan dzikir, maka malaikatlah yang akan menemani perjalanan kita.
Ikut mendoakan agar perjalanan kita dilancarkan dan tak dilanda malapetaka.
Namun sebaliknya, jika perjalanan kita diiringi musik-musik terntentu yang
membuat kita terlena dan lupa dengan-Nya, maka setan-lah yang akan menemani
perjalanan kita dan malapetaka pun lebih mudah menghampiri serta perjalanan
kita kurang mendapat berkah. Hii… mengerikan yah? Ckck.
Nah, kalo perjalanan kita tak hanya
sendiri, namun bersama kawan yang jumlahnya tak sedikit, sedang mereka mungkin
karena belum tahu, atau berbeda prinsip dengan kita, tetap menyalakan musik,
maka tak ada salahnya kita untuk menghargai, namun kita tetaplah harus sadar dan
ingat, jangan sampai terlena. Dalam hati kita harus tetap berdo’a dan berdzikir
mengingat-Nya. He he he J
---
Berbelok memasuki jalanan dari gerbang yang
kokoh sebagai penanda keluar area kampus, ingin rasanya lebih dalam menancapkan
gas motor, namun tak semudah itu aku lakukan. Mata minus yang kumiliki
memaksaku untuk tetap pelan dan hati-hati. Ditambah pula beberapa pengendara
lain yang kemunculannya sangat menjengkelkan. Karena mereka tak menyalakan
lampu depan motor, entah lupa atau bagaimana. Ah andai saja mereka tahu
bagaimana menderitanya aku harus memicingkan mata lebih dari biasanya untuk
tahu bahwa mereka memang ada. Sekelebat bayangan hitam yang lebih sering aku
tahu setelah berada tepat beberapa meter di depanku. Bahwa ternyata mereka
adalah satu kesatuan antara motor dengan pengendara yang cukup melatih
kesabaranku. Okay.
Semakin lama ku gas motorku, tiba-tiba
lampu di pinggiran jalan dimatikan secara bergantian. Loh, loh, loh. Meski yang
dimatikan selang-seling, namun tetap saja, membuat jalanan tak lagi begitu
terang.
Terus ku gas motorku. Bbbrrrr…. Dingin
sekali rasanya. Kaos kaki, kaos tangan, keduanya memang kutanggalkan sejak awal.
Aku tau jika keduanya tetap aku pakai hanya akan menambah rasa dingin, karena kaos
kaki basah terkena cipratan air pengendara di seberang, atau rintikan gerimis
yang secara pelan tapi pasti tetap saja membuat basah keduanya.
Beberapa kali aku usap permukaan kaca
mataku dengan tangan yang basah. Sudah buram sekali terkena serangan air
gerimis yang jatuh tepat di area wajahku. Eh, kata orang yang seperti ini istilahnya
‘bak makan buah simalakama’. Serba salah. Di tutup helmnya, jalanan dengan
segala yang berlalu lalang di depan tak terlihat jelas. Di buka helmnya, mata
ini tak mampu menangkis serangan air gerimis itu. Terlebih jika hujan lebat
datang.
Ow ow… Beberapa meter mendekati lampu lalu
lintas, aku lihat warnanya hijau dan beberapa pengendara menancapkan gasnya
untuk sesegera mungkin melaju. Cukup sepi. Lampu lalu lintas yang sering membuatku
menggerutu. Dengan komposisi lampu merah yang berdurasi menyentuh angka ratusan
detik, namun lampu hijau tak ada 20 detik. Menyebalkan bukan?
Namun aku memilih berhenti karena di
perempatan jalan itu memang mengerikan. Jadi lebih baik sabar yang penting
selamat. Setelah satu arah selesai gilirannya, sebenarnya bisa saja aku
langsung tancap gas sebelum giliran yang lain. Toh, malam-malam begini, gerimis
pula, apa iya masih ada polisi rajin yang bersiaga mengamankan lalu lintas?
Namun, aku tetap memilih menunggu. #tumben bener. He he he…
Beberapa menit berlalu, memasuki jalan
Veteran, senang rasanya karena sebentar lagi aku akan sampai ke tempat yang
meneduhkan-kos. Ups, hujan tiba-tiba datang dengan lebatnya. Mengguyur tubuhku
yang tak mau menghentikan laju motor. Aku memang tak suka jika tiba-tiba harus
turun dari motor dan memakai jas hujan saat sebentar lagi sampai tujuan.
Aku memilih ngebut dan tetap membiarkan tubuhku basah oleh derasnya hujan.
Lampu lalu lintas di perempatan memasuki Jalan Pahlawan rupanya sudah
dimatikan. Semua kendaraan yang melintas bebas berjalan tanpa harus menunggu.
Jalan Pahlawan begitu sepi, dan malam itu terlihat menyeramkan. Gelap, diguyur
hujan lebat dan seperti tertutupi kabut yang tebal. Sangat kontras dengan
malam-malam biasanya. Terlebih malam minggu. Mungkin hampir semua warga yang
tinggal di Semarang memilih keluar untuk melupakan rutinitas harian,
menghilangkan sejenak rasa penat. Salah satunya memilih menghabiskan malam
minggu di jalan Pahlawan yang terkenal mengasyikkan.
Dan akhirnya aku sampai di kos dengan
pakaian yang sudah setengah basah !
Wis, gitulah intinya ! ngantuuuk !
>,<
Terimakasih sudah membaca ^_^
Semarang, 05 Des 2013 – setelah nobar
“Inside Man” bareng temen-temen BP2M dan anggota calon magang.
@PKMU lt.2
0 Response to " Lagi, yang Kurasakan disebuah Perjalanan "
Post a Comment