Ingin saja aku tabrak truk besar yang melintas di seberang
jalan. Aku ingin mati. Pertunjukan-pertunjukan yang dipentaskan di panggung
kampus setiap harinya membuatku muak. Aku lelah dengan semua ini. Kenapa Engkau
skenariokan hidupku menjadi seperti ini?
Namun aku ingat orangtua, kakak, adik, semua keluarga yang masih
sayang padaku. Meski sedikit.
Akhirnya, aku tetap mengendarai motor sambil terus beristighfar,
gerimis yang turun menyamarkan derasnya air mata yang mengalir dipipi. Badanku
menggigil, gerahamku beradu sampai menimbulkan bunyian ‘keletuk-keletuk’. Hasil perpaduan gerimis dan angin yang cukup
besar. Dingin sekali rasanya.
Tiba-tiba telingaku berdengung, penglihatanku sayup-sayup
menjadi buram, mata ini tak mampu melihat dengan fokus. Hanya bisa menunduk ke
arah tempat roda motorku berputar.
Tak tahu harus bagaimana. Tak pernah kurasakan gejolak hati yang
seperti ini. Begitu kontras dengan kehidupan pergaulanku yang dulu pernah ada.
Dan aku tahu betul, salah satu yang menyebabkan ini semua ada pada diriku
adalah mereka, dua orang yang benar-benar telah membuatku jatuh, tak lagi
merasa percaya diri untuk bergaul dengan orang-orang baru.
Namun, terkadang aku juga berpikir, ini salahku. Apakah
hablumminannas-ku terlalu buruk? Ataukah ini yang sering orag sebut dengan
‘karma’?
Padahal Aku ingin menjadi orang yang menginspirasi dan membuat
orang yang berbincang denganku bertambah keimanannya. Ah, itu mungkin terlalu
tinggi, bahkan hanya pantas dijadikan mimpi.
Hari yang membuatku ingin mati. Pergi dari dunia yang kejam ini.
Kamis, 12 Desember 2013

0 Response to " Aku Ingin Mati "
Post a Comment