Bismillahirrahmaanirrahiim…
Agaknya
semakin sulit memotivasi diri untuk menulis lagi. Entah harus menggunakan cara
apa lagi untuk mendorong diri ini menulis lagi. Memang benar, musuh terbesar
bagi kita bukanlah siapa-siapa melainkan diri sendiri... #edjian motivator dadakan
Beberapa
waktu lalu, saya membuka
beberapa postingan di blog. Tiba-tiba saya merasa
kangen menulis, kangen memposting tulisan, meski saya tidak tahu apakah ada
pembaca blog saya yang kangen dan menantikan tulisan saya. Yah, setidaknya apa yang saya tulis dan saya posting akan menjadi
jurnal kehidupan pribadi dan akan saya kenang di masa tua (barangkali).
Baiklah,
setelah sekian abad tak menulis, saya ingin mengawali dengan bercerita mengenai
suatu hal. ;)
Mengapa
belakangan ini saya tidak produktif menulis? Tentu ada beberapa alasan yang
melatarbelakanginya. Pertama dan yang paling utama, kini saya sedang cukup
sibuk mengurusi hobi sekaligus bisnis baru yaitu pelukis henna art. Mentransformasikan
hobi yang satu ini menjadi bisnis awalnya sangat sulit, beralasan keluarga yang
hampir keseluruhan menjadi pegawai, membuat saya sulit mendapat motivasi dan
mengambil langkah. Bisa dikatakan saya di dunia bisnis hanyalah seonggok
manusia awam yang tak tahu apa-apa. Tentunya yang dirasakan hanya bingung dan
tak punya gambaran. Namun, perlahan Allah menitipkan anugerah ide yang sedikit
demi sedikit muncul, juga dukungan dari orang-orang terdekat yang dikirim Allah
untuk membantu saya memulai bisnis. Alhamdulillah...
![]() |
| monggo barangkali ada yang berminat atau butuh... bisa hubungi kontak di atas yaaa.. hehe |
Kini, entah kenapa, dunia henna ibarat
pacar baru bagi saya. Dimana-mana selalu memikirkan, selalu ingin
mengembangkan, dan selalu bergairah setiap kali mengurusinya.
Berkat henna, entah mengapa saya merasa
menjadi wanita yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Banyak lelaki yang
memuji, bahkan lelaki yang dulu sangat saya kagumi (cinta monyet maksudnya. Hihi.) Jangankan lelaki, yang paling
membuat terharu adalah kebanggaan orang tua dan keluarga pada kegiatan baru
saya ini.
Sedikit banyak kegiatan baru ini membuat saya belajar mandiri. Sejauh ini bisnis baru saya ini sangat menjanjikan. Terlebih semakin marak dan kian banyak dicari. Tidak merepotkan pula modalnya. Cukup modal bahan henna, kreasi, waktu, tenaga, dan beberapa barang tetek bengek lainnya. Terkadang saya membayangkan betapa repotnya jika bisnis yang lain, seperti jualan makanan. Ya, bakat yang satu ini memang harus saya syukuri. Meski masih terhitung sangat murah patokan harga jasa saya saat ini, tetap saja saya tetap mendapatkan untung dan bisa sedikit-sedikit menabung untuk mewujudkan beberapa keinginan saya. Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan bisnis saya menjadi besar dan profesional. Saya ingin bisa membuat banyak desain kreasi sendiri dan semakin dibayar mahal. Karena jika sudah malang melintang dan profesional, bisnis ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi sumber penghasilan yang sangat cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Hobi yang satu ini juga telah membuat rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi mudah mengeluh dan pesimis. Saya semakin yakin bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa tujuan atau dengan sia-sia. Bahkan jika ada pemuda yang hidupnya selalu dipenuhi hura-hura dan meninggal dengan cara yang tragis dan memprihatinkan: kecelakaan akibat ngebut di jalan, dia bukanlah bentuk kesia-siaan penciptaan Allah. Barangkali pemuda itu diciptakan memang hanya untuk memberi peringatan kepada anak manusia lain yang tahu akan kisahnya, dia juga membawa pesan bahwa jangan menyia-nyiakan hidup pada raga yang sudah dititipkan oleh Allah.
Sedikit banyak kegiatan baru ini membuat saya belajar mandiri. Sejauh ini bisnis baru saya ini sangat menjanjikan. Terlebih semakin marak dan kian banyak dicari. Tidak merepotkan pula modalnya. Cukup modal bahan henna, kreasi, waktu, tenaga, dan beberapa barang tetek bengek lainnya. Terkadang saya membayangkan betapa repotnya jika bisnis yang lain, seperti jualan makanan. Ya, bakat yang satu ini memang harus saya syukuri. Meski masih terhitung sangat murah patokan harga jasa saya saat ini, tetap saja saya tetap mendapatkan untung dan bisa sedikit-sedikit menabung untuk mewujudkan beberapa keinginan saya. Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan bisnis saya menjadi besar dan profesional. Saya ingin bisa membuat banyak desain kreasi sendiri dan semakin dibayar mahal. Karena jika sudah malang melintang dan profesional, bisnis ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi sumber penghasilan yang sangat cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Hobi yang satu ini juga telah membuat rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi mudah mengeluh dan pesimis. Saya semakin yakin bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa tujuan atau dengan sia-sia. Bahkan jika ada pemuda yang hidupnya selalu dipenuhi hura-hura dan meninggal dengan cara yang tragis dan memprihatinkan: kecelakaan akibat ngebut di jalan, dia bukanlah bentuk kesia-siaan penciptaan Allah. Barangkali pemuda itu diciptakan memang hanya untuk memberi peringatan kepada anak manusia lain yang tahu akan kisahnya, dia juga membawa pesan bahwa jangan menyia-nyiakan hidup pada raga yang sudah dititipkan oleh Allah.
Baiklah, lanjut ke cerita saya.
Dulu, saya sempat mengalami jatuh cinta dan
sangat bersemangat dalam dunia jurnalistik. Namun, saya rasa semakin lama
menggeluti, saya tidak merasakan ada progress yang cukup baik dalam hal
pengetahuan dan kemampuan menulis saya. Jaringan pun sama, tak banyak orang keren
dari dunia pers yang saya kenal dekat. Meski saya tetap memiliki rencana untuk
mendaftar menjadi wartawan atau pekerja jurnalistik lainnya. Namun, keraguan yang saya rasakan pun sebanding dengan ambisi
yang saya miliki. Saya bertanya-tanya, apa saya bisa menjadi wartawan
professional? Wong kemampuan nulis aja
masih begini, pengetahuan cetek, bla…bla…bla. (n)
Bukan berarti pesimis, tetapi terkadang
hidup memang harus realistis (benar
katamu).
Lalu tiba-tiba sesuatu yang tak
terbayangkan sebelumnya hadir dalam hidup saya, apa lagi kalau bukan henna. Siapa
sangka? Mungkin Allah menghadirkan henna untuk menemani saya berjuang dalam
proses move on. Henna menjadi
kesibukan baru saya hingga lupa bagaimana rasanya menangis karena seorang
lelaki. Mungkin juga, Allah mengarahkan jalan lain untuk masa depan saya, meski
saya tak pernah tahu pasti, karena yang saya tahu apa yang sudah direncankan
bagi masa depan selalu berubah dan kalah oleh takdir Allah.
Saya merasa Allah ingin mengalihkan atau
membuat saya meninggalkan dunia jurnalistik. Memang
benar, ridho Allah adalah ridho orang tua, dan sebaliknya. Sejak dulu, orang
tua saya tak pernah suka mengetahui anaknya ikut UKM jurnalistik, bahkan mereka
cenderung membenci kegiatan saya tersebut. Ketidaksukaan mereka tentu memiliki
alasan. Ibu saya pernah bercerita meski tak detail, bahwa dia sering sekali
dicari oleh wartawan yang datang mengancam dan memeras uang yang tak sedikit. (Sial. Hanya wartawan bodrek yang hadir di
kehidupan ibu. Hingga dia berpikiran sempit mengenai dunia wartawan yang
sebenarnya menyimpan sisi lain yang sungguh keren.)
Sedangkan
bapak, adalah orang yang kuat dalam agama. Dia berpikir anak perempuan tidak
cocok menjadi wartawan. Wartawan menuntut kerja tanpa melihat kondisi waktu.
Bisa-bisa saat saya sedang tidur terjadi tragedi tertentu yang mengharuskan
saya untuk meliput, katanya. Dan juga pergaulan di kalangan wartawan yang akan
membuka ruang untuk saya terlalu sering berinteraksi terlalu dekat dengan lawan
jenis.
Itulah alasan mengapa mereka tak pernah
setuju saya terjun di dunia jurnalistik, meski saat tulisan saya dimuat di
Koran orang tua sangat bangga. Namun jika membicarakan masa depan, pekerjaan
wartawan tak pernah ada di daftar yang diperbincangkan. Itulah alasan mengapa saya
jarang sekali bercerita tentang kegiatan saya di UKM, karena mereka sangat
tidak tertarik mendengarkan. Saya hanya menurut dengan
desain masa depan orang tua untuk saya. Karena hanya ridho mereka yang saya
harap, saya ingin menemani mereka di masa tua, dan saya mulai nyaman berinteraksi
dengan orang-orang di desa saya.
Awalnya
saya menganggap argumen mereka sangat menjengkelkan dan pantas dibantah. Saya
pernah pula dinasehati senior yang awalnya senasib dengan saya, untuk memberi
pengertian pada orang tua secara perlahan. Sudah saya coba, namun hati kedua
orang tua saya tetap tak tergoyahkan. Terkadang memberi pengertian pada orang
yang tinggal di desa memang sulit karena sifat kolot mereka. Namun, semakin
hari semakin tumbuh kesadaran dalam diri saya, bahwa apa yang dikatakan orang tua
pasti benar, mereka memiliki alasan kuat yang tak buruk, meski mungkin alasan
tersembunyi mereka hanya karena mereka tak mau jauh dengan anak nantinya. =D
Yap,
begitulah intinya. Saat ini, saya mempunyai rencana masa depan untuk menjadi
guru atau dosen sekaligus menjalani pekerjaan sebagai pelukis professional
henna art di daerah saya (dan
impian-impian besar lain tentunya). Meski sampai saat ini, masih tersisa
ambisi-ambisi besar dalam dunia jurnalistik yang membuat saya bersedih karena
semakin hari semakin jauh meninggalkan dunia jurnalistik. Saya tak pernah tahu apa skenario Allah
bagi masa depan saya. Yang jelas, dalam menjalani hidup, ikhtiar memang tak
pernah selesai.
***
Lanjut, alasan kedua adalah alasan
klasik. Saya beberapa waktu terakhir memiliki kesibukan dalam tahapan
perkuliahan yang membuat saya tidak bisa fokus menulis (ya kecuali nulis curhat sehari-hari sih gak pernah ketinggalan. Hihi.)
dari PPL, KKN, dan kini mulai skripsi. Internal UKM pun cukup bermasalah hingga
saya merasa kekurangan tugas menulis dan mandeg karena bingung harus menulis
apa. Walau sebenarnya banyak sekali hal-hal menarik yang seharusnya saya tulis
dengan rapih dan saya bagikan ke blog pribadi. Seperti cerita tentang
pengalaman PPL yang sangat berwarna. Itu sebenarnya cukup membuat saya merasa
bersalah juga karena pernah mengatakan pada salah satu murid bahwa saya akan
menulis dan memposting cerita tentang PPL namun hingga kini rencana itu belum
terwujud. Hingga saya sudah semakin lupa akan detail cerita PPL, dan hingga murid
saya lelah menagih janji. Semoga saya bisa menuliskannya segera. Aamiin. O:)
Dan alasan lain.... pada intinya bermuara
pada kurangnya motivasi, ide tulisan, rasa malas, dan terlalu banyak bersosial
media. Huft. Kenapa saya teracuni
teknologi, entahlah. Awalnya urusan binis, lama-lama menjadi candu, tak bisa
berlama-lama tidak memegang gawai. Sungguh menyedihkan.
Yaa...begitulah kurang lebih, meski
saya tak tahu benang merah tulisan ini. Saya hanya ingin mulai menulis rapih
dan memposting lagi. Jangan heran jika hasilnya tak karuan seperti ini. Dibaca
saja (jika berminat). :D X_X
Salam kangen,
Kirana D. Prameswari :*

0 Response to " Selamat Datang Henna, Maaf Jurnalistik… "
Post a Comment