Selamat Datang Henna, Maaf Jurnalistik…

adsense 336x280

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Agaknya semakin sulit memotivasi diri untuk menulis lagi. Entah harus menggunakan cara apa lagi untuk mendorong diri ini menulis lagi. Memang benar, musuh terbesar bagi kita bukanlah siapa-siapa melainkan diri sendiri... #edjian motivator dadakan

Beberapa waktu lalu, saya membuka
beberapa postingan di blog. Tiba-tiba saya merasa kangen menulis, kangen memposting tulisan, meski saya tidak tahu apakah ada pembaca blog saya yang kangen dan menantikan tulisan saya. Yah, setidaknya apa yang saya tulis dan saya posting akan menjadi jurnal kehidupan pribadi dan akan saya kenang di masa tua (barangkali).
Baiklah, setelah sekian abad tak menulis, saya ingin mengawali dengan bercerita mengenai suatu hal. ;)

Mengapa belakangan ini saya tidak produktif menulis? Tentu ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama dan yang paling utama, kini saya sedang cukup sibuk mengurusi hobi sekaligus bisnis baru yaitu pelukis henna art. Mentransformasikan hobi yang satu ini menjadi bisnis awalnya sangat sulit, beralasan keluarga yang hampir keseluruhan menjadi pegawai, membuat saya sulit mendapat motivasi dan mengambil langkah. Bisa dikatakan saya di dunia bisnis hanyalah seonggok manusia awam yang tak tahu apa-apa. Tentunya yang dirasakan hanya bingung dan tak punya gambaran. Namun, perlahan Allah menitipkan anugerah ide yang sedikit demi sedikit muncul, juga dukungan dari orang-orang terdekat yang dikirim Allah untuk membantu saya memulai bisnis. Alhamdulillah... 

monggo barangkali ada yang berminat atau butuh... bisa hubungi kontak di atas yaaa.. hehe

Kini, entah kenapa, dunia henna ibarat pacar baru bagi saya. Dimana-mana selalu memikirkan, selalu ingin mengembangkan, dan selalu bergairah setiap kali mengurusinya.
Berkat henna, entah mengapa saya merasa menjadi wanita yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Banyak lelaki yang memuji, bahkan lelaki yang dulu sangat saya kagumi (cinta monyet maksudnya. Hihi.) Jangankan lelaki, yang paling membuat terharu adalah kebanggaan orang tua dan keluarga pada kegiatan baru saya ini.

Sedikit banyak kegiatan baru ini membuat saya belajar mandiri. Sejauh ini bisnis baru saya ini sangat menjanjikan. Terlebih semakin marak dan kian banyak dicari. Tidak merepotkan pula modalnya. Cukup modal bahan henna, kreasi, waktu, tenaga, dan beberapa barang tetek bengek lainnya. Terkadang saya membayangkan betapa repotnya jika bisnis yang lain, seperti jualan makanan. Ya, bakat yang satu ini memang harus saya syukuri. Meski masih terhitung sangat murah patokan harga jasa saya saat ini, tetap saja saya tetap mendapatkan untung dan bisa sedikit-sedikit menabung untuk mewujudkan beberapa keinginan saya. Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan bisnis saya menjadi besar dan profesional. Saya ingin bisa membuat banyak desain kreasi sendiri dan semakin dibayar mahal. Karena jika sudah malang melintang dan profesional, bisnis ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi sumber penghasilan yang sangat cukup untuk biaya hidup sehari-hari.

Hobi yang satu ini juga telah membuat rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi mudah mengeluh dan pesimis. Saya semakin yakin bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa tujuan atau dengan sia-sia. Bahkan jika ada pemuda yang hidupnya selalu dipenuhi hura-hura dan meninggal dengan cara yang tragis dan memprihatinkan: kecelakaan akibat ngebut di jalan, dia bukanlah bentuk kesia-siaan penciptaan Allah. Barangkali pemuda itu diciptakan memang hanya untuk memberi peringatan kepada anak manusia lain yang tahu akan kisahnya, dia juga membawa pesan bahwa jangan menyia-nyiakan hidup pada raga yang sudah dititipkan oleh Allah.

Baiklah, lanjut ke cerita saya.
Dulu, saya sempat mengalami jatuh cinta dan sangat bersemangat dalam dunia jurnalistik. Namun, saya rasa semakin lama menggeluti, saya tidak merasakan ada progress yang cukup baik dalam hal pengetahuan dan kemampuan menulis saya. Jaringan pun sama, tak banyak orang keren dari dunia pers yang saya kenal dekat. Meski saya tetap memiliki rencana untuk mendaftar menjadi wartawan atau pekerja jurnalistik lainnya. Namun, keraguan yang saya rasakan pun sebanding dengan ambisi yang saya miliki. Saya bertanya-tanya, apa saya bisa menjadi wartawan professional? Wong kemampuan nulis aja masih begini, pengetahuan cetek, bla…bla…bla. (n)
Bukan berarti pesimis, tetapi terkadang hidup memang harus realistis (benar katamu).

Lalu tiba-tiba sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya hadir dalam hidup saya, apa lagi kalau bukan henna. Siapa sangka? Mungkin Allah menghadirkan henna untuk menemani saya berjuang dalam proses move on. Henna menjadi kesibukan baru saya hingga lupa bagaimana rasanya menangis karena seorang lelaki. Mungkin juga, Allah mengarahkan jalan lain untuk masa depan saya, meski saya tak pernah tahu pasti, karena yang saya tahu apa yang sudah direncankan bagi masa depan selalu berubah dan kalah oleh takdir Allah.

Saya merasa Allah ingin mengalihkan atau membuat saya meninggalkan dunia jurnalistik. Memang benar, ridho Allah adalah ridho orang tua, dan sebaliknya. Sejak dulu, orang tua saya tak pernah suka mengetahui anaknya ikut UKM jurnalistik, bahkan mereka cenderung membenci kegiatan saya tersebut. Ketidaksukaan mereka tentu memiliki alasan. Ibu saya pernah bercerita meski tak detail, bahwa dia sering sekali dicari oleh wartawan yang datang mengancam dan memeras uang yang tak sedikit. (Sial. Hanya wartawan bodrek yang hadir di kehidupan ibu. Hingga dia berpikiran sempit mengenai dunia wartawan yang sebenarnya menyimpan sisi lain yang sungguh keren.)

Sedangkan bapak, adalah orang yang kuat dalam agama. Dia berpikir anak perempuan tidak cocok menjadi wartawan. Wartawan menuntut kerja tanpa melihat kondisi waktu. Bisa-bisa saat saya sedang tidur terjadi tragedi tertentu yang mengharuskan saya untuk meliput, katanya. Dan juga pergaulan di kalangan wartawan yang akan membuka ruang untuk saya terlalu sering berinteraksi terlalu dekat dengan lawan jenis.

Itulah alasan mengapa mereka tak pernah setuju saya terjun di dunia jurnalistik, meski saat tulisan saya dimuat di Koran orang tua sangat bangga. Namun jika membicarakan masa depan, pekerjaan wartawan tak pernah ada di daftar yang diperbincangkan. Itulah alasan mengapa saya jarang sekali bercerita tentang kegiatan saya di UKM, karena mereka sangat tidak tertarik mendengarkan. Saya hanya menurut dengan desain masa depan orang tua untuk saya. Karena hanya ridho mereka yang saya harap, saya ingin menemani mereka di masa tua, dan saya mulai nyaman berinteraksi dengan orang-orang di desa saya.

Awalnya saya menganggap argumen mereka sangat menjengkelkan dan pantas dibantah. Saya pernah pula dinasehati senior yang awalnya senasib dengan saya, untuk memberi pengertian pada orang tua secara perlahan. Sudah saya coba, namun hati kedua orang tua saya tetap tak tergoyahkan. Terkadang memberi pengertian pada orang yang tinggal di desa memang sulit karena sifat kolot mereka. Namun, semakin hari semakin tumbuh kesadaran dalam diri saya, bahwa apa yang dikatakan orang tua pasti benar, mereka memiliki alasan kuat yang tak buruk, meski mungkin alasan tersembunyi mereka hanya karena mereka tak mau jauh dengan anak nantinya. =D

Yap, begitulah intinya. Saat ini, saya mempunyai rencana masa depan untuk menjadi guru atau dosen sekaligus menjalani pekerjaan sebagai pelukis professional henna art di daerah saya (dan impian-impian besar lain tentunya). Meski sampai saat ini, masih tersisa ambisi-ambisi besar dalam dunia jurnalistik yang membuat saya bersedih karena semakin hari semakin jauh meninggalkan dunia jurnalistik. Saya tak pernah tahu apa skenario Allah bagi masa depan saya. Yang jelas, dalam menjalani hidup, ikhtiar memang tak pernah selesai.
***
Lanjut, alasan kedua adalah alasan klasik. Saya beberapa waktu terakhir memiliki kesibukan dalam tahapan perkuliahan yang membuat saya tidak bisa fokus menulis (ya kecuali nulis curhat sehari-hari sih gak pernah ketinggalan. Hihi.) dari PPL, KKN, dan kini mulai skripsi. Internal UKM pun cukup bermasalah hingga saya merasa kekurangan tugas menulis dan mandeg karena bingung harus menulis apa. Walau sebenarnya banyak sekali hal-hal menarik yang seharusnya saya tulis dengan rapih dan saya bagikan ke blog pribadi. Seperti cerita tentang pengalaman PPL yang sangat berwarna. Itu sebenarnya cukup membuat saya merasa bersalah juga karena pernah mengatakan pada salah satu murid bahwa saya akan menulis dan memposting cerita tentang PPL namun hingga kini rencana itu belum terwujud. Hingga saya sudah semakin lupa akan detail cerita PPL, dan hingga murid saya lelah menagih janji. Semoga saya bisa menuliskannya segera. Aamiin. O:)

Dan alasan lain.... pada intinya bermuara pada kurangnya motivasi, ide tulisan, rasa malas, dan terlalu banyak bersosial media. Huft. Kenapa saya teracuni teknologi, entahlah. Awalnya urusan binis, lama-lama menjadi candu, tak bisa berlama-lama tidak memegang gawai. Sungguh menyedihkan.
Yaa...begitulah kurang lebih, meski saya tak tahu benang merah tulisan ini. Saya hanya ingin mulai menulis rapih dan memposting lagi. Jangan heran jika hasilnya tak karuan seperti ini. Dibaca saja (jika berminat). :D X_X

Salam kangen,
Kirana D. Prameswari :*
adsense 336x280

0 Response to " Selamat Datang Henna, Maaf Jurnalistik… "

Post a Comment