hampir di semua kalender, Minggu ditandai dengan warna merah. Bukankah
jika perumpamaannya sama dengan lampu lalu lintas, itu sangat jauh berbeda?
Atau dalam artian warna merah secara umum: berani. Apakah maksudnya hari minggu
adalah waktu yang tepat untuk berani mengekspresikan diri? Apapapun itu lah.
Pasti ada nih pembaca yang mbatin, “Ngopo repot-repot mikiri arti warna merah pada hari minggu di kalender?” Hey, jangan salah. Ini efek baca novel filsafat Dunia Sophie karya Jostin Garder. Wkwk. Katanya, kita tidak bisa mempelajari filsafat, tapi filsafat mengajarkan kita untuk berpikir seperti seorang filosof. Ya peka, ya cerdas, ya kritis. Begitulah. Aku hanya mencoba-latihan berpikir seperti seorang filosof, meski hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Hehe.. :)
Pasti ada nih pembaca yang mbatin, “Ngopo repot-repot mikiri arti warna merah pada hari minggu di kalender?” Hey, jangan salah. Ini efek baca novel filsafat Dunia Sophie karya Jostin Garder. Wkwk. Katanya, kita tidak bisa mempelajari filsafat, tapi filsafat mengajarkan kita untuk berpikir seperti seorang filosof. Ya peka, ya cerdas, ya kritis. Begitulah. Aku hanya mencoba-latihan berpikir seperti seorang filosof, meski hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Hehe.. :)
Udah ya, itu prolog saja. Ibarat mau makan gado-gado sepiring
penuh, itu adalah buah sebagai awalan dan Sunnah Rosul. Sebenernya kali ini aku
mau cerita tentang perjalanan pada Minggu, 20 September 2015.

1. Cerita Perjalanan: Candi
Cetho yang Lumayan
Aku rasa ada benernya sih, omongan yang menyatakan bahwa lebih
baik tidak usah banyak rencana kalo mau jalan-jalan. Atau, ada lagi omongan
yang sering aku dengar bahwa apa yang sudah direncanakan biasanya berbeda dengan
yang terjadi di lapangan. Malam minggu itu aku dan keluarga mengadakan
musyawarah untuk menghasilkan mufakat. *lebay. Besok pagi, kami berencana ke
Solo karena suatu hal, lalu siangnya ke Pacitan. Pengen tilik Pantai Klayar
yang dinobatkan sebagai Pantai Terbaik versi majalah My Trip. Hehe.
Namun ya begitulah rencana, beginilah kenyataan. Sebab udah siang, dan jam 9 malem harus udah sampe Semarang lagi karena ada kakak yang harus shift malam. Alhasil jadilah kita hanya main ke Karanganyar. Tepatnya Candi Cetho, yang jujur, gak cetho banget. Haha. *duh maap ;)
Dan aku, sebagai adik yang merekomendasikan, jujur, diam-diam
merasa malu. Hihi. Dulu memang ada beberapa kawan yang main ke Candi Cetho dan
cuma pamer foto ke aku. Dari foto-fotonya ya keliatan kalo tempat itu harus aku
kunjungi. Titik.
![]() |
| makan bekal dari Camernya kakak. hihi |
![]() | ||
| narsis dulu di CFD Solo. hihi |
![]() |
| dimana-mana selfie. uwuwuwu |
![]() |
| Bahagia liburan sama keluarga... o,o |
Saat di Solo, setelah puas menikmati Car Free Day di sepanjang jalan Slamet Riyadi, mendadak kami bingung akan kemana. Akhirnya bertanyalah aku ke kawan yang pernah ke Candi Cetho itu, juga menanyakan wisata lain yang dia rekomendasikan. Dan kesepakatan terjadi, akhirnya kami ke Candi Cetho hanya berdasar petunjuk GPS. Sampailah kami ke daerah yang banyak terdapat petunjuk jalan menuju Candi Cetho. Yang cukup menjengkelkan, petunjuk itu seperti penipu. Di papan sebelumnya terpampang petunjuk Candi Cetho 15 km lagi. Setelah kami melewati jalan yang menurut kami sudah lebih dari 15 km, dengan medan yang menanjak dan berkelok-kelok. Gampangnya, kalian pasti tahu wahana Halilintar di Dufan? Ya kurang lebih seperti itu. *haha lebay lagi =D
Lalu, setelah itu muncul lagi si penipu, alias petunjuk jalan
betuliskan “Candi Cetho 5 km lagi”. Oh My.... X_X
Tak berhenti sampai situ, setelah berjalan yang menurut kami sudah 10 km, masih ada lagi si penipu! Kali ini bertuliskan “Candi Cetho 3 km”. Wah, kesabaran kami benar-benar diuji. Namun sebenernya tetep berasa asik aja sih, karena udara sepanjang jalan seger banget! Aku gak berhenti mengeluarkan tangan untuk menangkap angin yang semilir. Juga pemandangan sepanjang jalan, wah, asik pokoknya! Meski aku orang gunung, tetep aja menikmati. Pemandangannya dipenuhi kebun teh, gunung, tanaman warga, dll. Ada juga hamparan teh yang berjajar membentuk gunungan-gunungan yang tersusun rapih. Kalo teman-teman pernah nonton film kartun Teletubis, nah pemandangan yang aku maksud itu mirip banget lokasi shooting para member Teletubis itu. Hihi. Gak heran di situ ada papan petunjuk bertuliskan “Bukit Teletubis”. Tapi kami tidak teralihkan dari tujuan utama. ({})
![]() |
| Bukit Teletubbies KAWE 10. Haha |
Memang sepanjang
jalan menuju Candi Cetho banyak sekali petunjuk jalan yang mengarahkan berbagai
objek wisata. Ada beberapa curug, kebun teh, bukit teletubis itu, dan
lain-lain. Namun karena yang ada dipikiran kami hanya Candi Cetho dan belum
juga tiba di lokasi tujuan utama, jadi kami memutuskan untuk tidak mampir
kemana-mana dulu. Hee.
Setelah kurang lebih perjalanan satu jam dari titik awal
memasuki Karanganyar, akhirnya sampailah pada sebuah tempat yang bagaikan gula
dirubung semut. Hanya satu kalimat yang saat itu terlontar begitu saja dari
bibir manisku: “Wah rame buanget. Mana candinya?!” #:-s
Jujur Mans (panggilan sayangku buat kalian para pembaca. Kece
badai kan? Hihi), sekian menit aku terus bertanya-tanya. Bahkan saat sudah
beberapa lama memarkir mobil dan menaiki tangga yang jumlahnya tak sedikit. Aku
terus ribut menanyakan dimana candinya? Dimana candinya?
Oh iya, sebelum memasuki area Candi Cetho kita harus
mengenakan kain khusus berwarna hitam putih dengan motif persegi. Bersyukurlah
teman kalian dilahirkan di Indonesia. Karena tiket masuk candi sangat murah
untuk wisatawan lokal, hanya Rp 3000/orang. Untuk memakai kain yang wajib
dipasang, kita juga disuruh membayar uang seikhlasnya.
![]() |
| Awas loh ni ada peringatan |
Jujur lagi nih Mans, gak gampang bisa menaiki seluruh tangga di Candi Cetho dalam cuaca panas terik begini. Setelah berhasil menaiki bangunan tangga pertama, kami disuguhkan pemandangan bebatuan yang tersusun abstrak dan di kelilingi rerumputan hijau. Namun sayang, karena musim kemarau, rumputnya kering dan tak hijau segar seperti difoto teman-temanku yang pernah pamer foto keren di area candi ini. Mungkin teman-teman bisa lebih memperhatikan musim saat akan mengunjungi objek wisata, tentunya disesuaikan dengan objek yang akan kita kunjungi.
![]() |
| No Caption deh buat orang satu yang suka narsis ini. hhihi |
Di pinggiran juga ada relief-relief candi yang tentunya menceritakan sebuah legenda, tapi jangan tanya apa karena ku tak tahu. Ahihihi. =D
Untuk lengkapnya baca nih https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ceto :D
Kami kembali menaiki bangunan tangga kedua, sesampainya di
atas, ada papan petunjuk yang mengarahkan ke beberapa objek wisata lain. Karena
kami penasaran, kami pun bertanya ke petugas yang berjaga di loket. Katanya,
hanya 50 meter menuju Taman Saraswati. Okelah, kamipun mengeluarkan rupiah lagi
untuk bisa mengobati rasa penasaran. Biaya ke Taman Saraswati Rp 1500/orang.
Jalan menuju Taman Saraswati seperti kebun yang dikelilingi
banyak pohon besar dan jalanan setapak juga menanjak. Sama seperti sebelumnya,
kami kembali merasa ditipu, bukan 50 meter yang kami rasakan, tapi lebih dari
itu! Meski tak terlalu jauh, tetap saja membuat napas ngos-ngosan dan butuh
istirahat beberapa kali sebelum sampai lokasi (Ini nama tamannya bener-bener
ngingetin aku sama seorang sahabat lama yang nama belakangnya persis seperti
nama taman ini, Saraswati.)
![]() |
| Hello, Yayas...ahihihi |
Ealah Mans, sampe lokasi malah gak ada yang istimiwir. Biasa
aja. Cuma ada kolam plus patung cewe cantik tapi gatau siapa namanya, aku gak
sempet kenalan sama dia. Terus ada tulisan TAMAN SARASWATI. Udah, gitu aja.
Jadi di sana kami hanya duduk-duduk sambil melepas lelah.
Setelah puas istirahat, kami kembali turun ke area candi.
Kakak Uma mengajak untuk melanjutkan kembali menaiki bangunan tangga ke tiga,
tapi aku dan mamas Ayuh menolak karena cuaca yang panas dan isi setelah sampai
di atas yang udah ketebak pasti sama dengan area pertama dan kedua.
![]() |
| Boleh deh fokusnya ke bule aja di belakangku. hehe |
![]() |
| bersama kakak paling ganteng dhewe (karena cuma ada satu kakak cowo) haha |
Akhirnya kami berdua hanya duduk di bawah bangunan mirip Gazebo
tapi njawani alias jawa banget. Saat duduk-duduk itu, aku menemukan sesuatu
yang menarik saat menatap langit-langit Gazebo. Ternyata atap yang tersusun
dari persegi-persegi genting terbuat dari kayu, bukan genting yang terbuat dari
tanah liat. Mirip banget Mans, aku hampir tertipu!
![]() |
| Kayu semua ini, Mans...kereeen |
Selanjutnya Kakak Uma turun dan mengajak kami untuk pulang,
kembali ke Solo menemui Cakapar alias Calon kakak ipar yang sudah selesai
seminar. Tak lupa, sebelum pulang, kami berfoto-foto ria. Sedikit kecewa sih
karena terlalu ramai jadi setiap kali njepret, selalu ada orang lewat yang ikut
nampang. Hiks. Kaya foto ini nih, dilihatnya gak enak banget. Kaya ada mas-mas
yang liat seorang cewe berpose dan merasa jijik atau gak kuat, makanya tutup
mata. Huhu. X_X
Hmmm ya intinya sih, bagaimanapun pengalaman yang aku dapet selama perjalanan menuju dan di Candi Cetho, itu akan menjadi bagian sejarah yang tidak akan terlupakan. Selain pengalaman melihat kekayaan budaya dan wisata Indonesia, juga pasti selalu ada makna dan cerita yang akan menjadi kenangan manis saat tua nanti. Edjiaaan… :p
![]() |
| Ampun daaahhh |
Hmmm ya intinya sih, bagaimanapun pengalaman yang aku dapet selama perjalanan menuju dan di Candi Cetho, itu akan menjadi bagian sejarah yang tidak akan terlupakan. Selain pengalaman melihat kekayaan budaya dan wisata Indonesia, juga pasti selalu ada makna dan cerita yang akan menjadi kenangan manis saat tua nanti. Edjiaaan… :p
2. Rasanya Nonton Balapan
Eits. Teman-teman jangan
dulu berekspetasi tinggi atas judul di atas. Nonton balapan, waah kedengerannya
hebat banget ya?! Sekarang yang jadi pertanyaan, nonton balapan apa dulu?
Bukan, bukan nonton balapan MotoGP atau F1 kok… hihi.
Balapan yang aku maksud
adalah balapan mobil di Stadion Manahan Solo yang kelihatannya sih Legal kok..
soalnya aku melihat beberapa polisi di pinggiran area balapan.
Sebenernya gak sengaja
juga sih liat ada balapan di stadion yang baru pertama kali aku kunjungi ini.
Sebelumnya kami mencoba ke area yang katanya baru digelar Festival Payung yang
terkenal itu…siapa tahu masih ada, begitu.
Belum rejeki kali ya,
setelah tanya ke mbak-mbak penjual capcin di dekat area, ternyata acara
Festival Payung sudah berakhir. *backsong lagu melow, Pergi Saja. Wkwk.
Dengan kecepatan maksimal
berpikir dalam tempo sesingkat-singkatnya, akhirnya kami banting stir kea rah
Stadion Manahan. Di sana rame banget Mans, ya ternyata ada balapan mobil tadi.
Juga warga yang dengan gayanya yang ngehits banget, lagi pada jogging muterin
area stadion.
Oke aku deskripsikan
secara singkat ya gimana model balapan mobil itu. Bukan tipe balapan yang semua
peserta baris, lalu langsung ngebut saingan untuk sampai ke garis finish
duluan. Tapi tipe balapan yang aku tonton berupa mobil peserta yang bergantian
unjuk kemampuan dengan berbagai tantangan di medan balapan yang gak gampang.
Dan peserta harus bisa melalui dengan secepat yang dia bisa agar mendapat
durasi waktu seminimal mungkin. Karena mobil yang digunakan juga udah dimodif,
suara knalpotnya pun pas banget dengan suasana balapan, dan itulah yang bikin
jantungku serasa mau copot. Hihi. Padahal yang nyetir siapa, yang deg-degan
siapa. Hadeeh.
Intinya seru, ini
pengalaman pertama juga buat aku nonton balapan kaya gitu! <:-P
![]() |
| Tjiee pink ijo. Warna siapa tuh? Belum bisa mup on yeh bu.. hahaha |
Udah deh, lain kali lagi cerita perjalanannya. Baru aku sadari sebenernya banyak banget pengalaman seru yang bisa aku tulis dan aku bagi ke temen-temen. Semoga terealisasi yaa dan semoga menjadi Blogger sejati! Ihiihihi. (y)
By: KDP
By: KDP






















Ga asek blas.
ReplyDeleteGa asek blas.
ReplyDelete