Feature:
Tanah dengan Sejuta Keindahan
bahagia bisa kembali menikmati jalan yang penuh tantangan itu. Sampai ke sebuah jembatan, mataku berkeliaran menerawang jauh, melihat pemandangan yang disuguhkan di hadapanku. Dari atas jembatan sana terlihat hamparan pegunungan hijau yang sangat gagah, sungai di bawah jembatan yang begitu menawan, serta sawah hijau yang terhampar luas, jauh sampai tak terjangkau mata, indah bak permadani taman surga. Namun sempat ku lihat, sekarang gunungnya tak selebat dan sehijau dulu. Ada beberapa siluet berwarna cokelat diantara yang berwarna hijau, yang artinya itu tanah kosong, sudah banyak pohon yang ditebangi. Ah, aku menjadi sedih.
Dua puluh menit sudah perjalanan, udara sejuk pegunungan yang dingin menyambutku tatkala memasuki kawasan perkampungan. Kampungku adalah salah satu desa di Kecamatan Sirampog yang masuk ke dalam Kabupaten Brebes. Banyak hal yang ada di sini dan belum kutemukan di tempat lainnya. Itulah alasan mengapa aku tak pernah merasa tak rindu akan kampungku, dan kepulanganku ke kampung halaman menjadi sesuatu yang amat membahagiakan. Selain orangtua dan anggota keluarga lain yang dirindukan; udara, pemandangan, dan aktivitas warga kampung pun menjadi hal yang senantiasa kurindukan.
Pemandangan Waduk yang “Mirip Bedugul Bali”
Beberapa hari setelah di rumah, aku memutuskan untuk pergi ke salah satu objek wisata di daerahku yang sudah lama tak ku kunjungi. Bersama beberapa orang saudara, aku memilih motor untuk menemani perjalananku ke objek wisata tersebut. Jalanan yang aku lewati banyak menyuguhkan keindahan panorama alam yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang biasanya dipenuhi asap knalpot, panas tak bersahabat.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Waduk Penjalin, sebuah waduk yang menyandang usia sudah cukup tua, dibangun pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda.
Entahlah kapan terakhir kali aku mengunjunginya. Sepertinya saat awal masuk SMA dulu. Aku masih menyimpan foto berlatar belakang objek wisata ini, bersama beberapa teman masih mengenakan seragam sekolah. Dulu saat SMP aku juga pernah berkemah di lapangan dekat objek wisata ini, ah ternyata Waduk Penjalin yang aku kunjungi kali ini menyimpan banyak sekali kenangan. Aku edarkan pandangan begitu sampai ke lokasi. Terlihat begitu sepi, hanya ada rombonganku dan beberapa orang lelaki paruh baya yang menawarkan jasa dengan perahu mereka. Dan pada kesempatan ini, aku ingin mencoba mengarunginya dengan sebuah perahu tak bermesin yang ditawarkan mereka. Perasaan senang merambati jiwaku saat untuk pertama kalinya aku ikut mendayung perahu dengan sebuah kayu berukuran kurang dari dua meter yang terlihat sangat sederhana. Ini adalah kali pertamaku mengarungi waduk, meski dulu sudah beberapa kali mengunjunginya. Beberapa meter perahu yang aku tumpangi melaju, menantang arus air dan angin yang cukup kencang. Betapa indahnya pemandangan yang terlihat saat mataku mulai menerawang jauh, gunung-gunung menjulang tinggi mengitari waduk. Di sudut lain tampak beberapa rumah-rumah penduduk yang terlihat seperti mengapung di atas waduk, mungil berwarna-warni seperti tak terjangkau.“Wahh… Pemandangannya bagus banget… Mirip Bedugul di Bali.” Komentar saudaraku asal Semarang yang baru pertama kali berkunjung ke Waduk Penjalin. Aku tak begitu percaya. Apa iya? Aku memang belum pernah ke Bali. Namun jika benar iya, syukurlah, tanpa perlu jauh-jauh ke Bali aku sudah bisa menikmati salah satu objek wisatanya di daerahku sendiri. Bedugulnya Brebes. Mungkin seperti itu. Tapi memang akupun merasa pemandangan siang ini sangat mengagumkan. Perbukitan yang menjulang tinggi dikejauhan sana terlihat seperti akan berciuman dengan langit yang bergradasi putih biru sangat cerah. Dekat sekali jarak keduanya. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan perjalananku. Masih dengan perasaan kagum menikmati pemandangan alam yang mengitari waduk, aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang ada di depan mataku. Beberapa perahu berjalan begitu cepatnya melawan angin yang semakin kencang. Namun yang membuatku kaget adalah pengemudinya. Mereka anak-anak yang masih berseragam biru putih, laki-laki dan perempuan, terlihat begitu kompaknya. Dengan semangat sisa
lelah selama di sekolah, mereka terus mendorong dayung dengan gerak dan arah yang serentak bersamaan. Indah sekali dilihat dari sudut pandanganku. Menurut cerita seorang supir yang mengemudikan perahu yang aku tumpangi, mereka adalah anak-anak dari desa seberang yang setiap hari berangkat dan pulang sekolah menggunakan perahu bersama-sama.
Tempat tinggal mereka sudah masuk ke area Kabupaten Banyumas. Namun kegiatan itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka yang melaluinya setiap hari. Ah, kenapa aku baru tahu sekarang?
Baru beberapa menit saja, aku dan beberapa saudaraku cepat sekali merasa lelah mendayung perahu. Aku jadi penasaran dan ingin menanyakan sesuatu.
“Tidak diperbolehkan pemerintah di sini mbak, katanya nanti bisa meracuni ikan-ikan yang ada di dalam waduk.” Jawab salah seorang pekerja saat aku tanya mengapa masih menggunakan dayung untuk menjalankan perahu dan tidak menggunakan mesin. Mereka sudah terbias biasa mendayung perahu untuk ditumpangi para wisatawan, meski hasilnya tak seberapa. Memang begitulah seharusnya, polutan yang dihasilkan oleh bahan bakar mesin perahu memang akan menyakiti mahluk lain dan nantinya berdampak merugikan untuk kita sendiri. Aku semakin terkesan dengan semua yang kunikmati di perjalanan ini.
Matahari semakin jauh berjalan mendekati kawasan peristirahatannya. Hari semakin sore. Akhirnya aku dan saudara-saudaraku memutuskan untuk kembali ke rumah. Tetap dengan menikmati pemandangan yang begitu indah di sepanjang jalan yang aku lewati. Angin belum berhenti memberi kesejukan. Oh Tuhan, betapa Engkau tahu, aku akan sangat merindukan semua keindahan yang Kau ciptakan ini.
Sarapan ditemani Mahluk Alam
Lain hari, lain pengalaman baru yang aku dapat. Salah seorang tetangga dekat rumah mengajakku untuk pergi berkebun dengannya. Aktifitas harian lelaki paruh baya ini memang berkebun dan bertani, satu mata pencaharian sebagian besar warga kampungku selain menjadi guru dan pedagang. Aku yang tak pernah mencoba untuk melakukan kegiatan yang cukup menarik perhatianku itu langsung saja mengiyakan saat ditawari. Aku pikir tak ada salahnya mencoba hal baru. Suatu saat nanti pasti ada manfaatnya. Pagi-pagi sekitar pukul 06.00 WIB, sebelum berangkat ke kebun. Aku mengikuti aktifitasnya bersama peliharaan-peliharaan kesayangan di kandang belakang rumahnya. Ikut menebar makanan di kolam ikan, serta melihat gerak-gerik lincah kelinci
anggora saat diberi makan. Bulu-bulunya yang lebat dan raut wajahnya terlihat sangat menggemaskan. Aku tak henti-hentinya mengambil gambar kelinci-kelinci lucu di kandang yang cukup sederhana ini.
Sinar matahari mulai menerobos masuk ke kandang, sudah pukul 07.30 WIB. Aku mengikuti langkahnya menuju perkebunan miliknya. Dengan mengekor di belakangnya, aku mulai menaiki beberapa petak sawah yang berurutan dengan posisi seperti tangga. Ini jalan menuju perkebunannya yang terletak di atas persegi-persegi yang luas dan hijau itu. Begitu menggelikan saat aku disuruhnya untuk melepas sandal selama di kebun. Aku membayangkan bagaimana nanti jika bertemu dengan ulat yang sangat aku takuti itu, apalagi menginjaknya. Namun, ternyata aku dengan mudahnya melupakan yang semula aku khawatirkan itu. Panorama yang aku lihat dari balik semak di kebun begitu indah. Dibalut terpaan hangatnya sinar matahari pagi, berpantulan dengan hijaunya persawahan yang membentang luas, diselingi warna-warni rumah penduduk yang berbaris rapih, membuatku enggan mengedipkan mata barang satu detik.
Tak lama kemudian aku menuruni tangga petak-petak hijau yang harus aku lewati untuk berjalan pulang. Di sepanjang jalan aku terus berucap syukur. Mata ini cukup segar memandang semua yag disuguhkan di sepanjang jalan. Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberiku karunia untuk bisa menikmati semua keindahan di kampungku tercinta ini. Semua ini benar-benar menyadarkanku, bahwa aku terlahir di tanah yang penuh dengan sejuta keindahan.
Foto dan Teks: Kirana D. Prameswari
Perhatian! Dilarang Menyalin isi sebagian atau keseluruhan tanpa mencantumkan sumber.
Hargai Karya Orang Lain. Please, :)


0 Response to " Tanah Dengan Sejuta Keindahan "
Post a Comment