Kenangan di Moment Hari Ibu

adsense 336x280
Kami berangkat pagi-pagi sekali dari kos masing-masing (22/12/13), ada yang berjalan kaki ada pula yang menggunakan kendaraan bermotor. Kami berkumpul di depan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa ( UKM ) sekitar pukul 06.00. Kegiatan yang akan kami lalui adalah Kemah Jurnalistik, selama dua hari satu malam. Merupakan agenda rutin setiap tahun di UKM kami yang bergerak di bidang Jurnalistik dan ditujukan untuk menambah wawasan serta praktik mengenai jurnalisitik kepada anggota magang yang baru.
Tahun ini Aku menjadi panitia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Kemah Jurnalistik yang biasa disingkat KJ ini kembali diadakan di salah satu desa di
pegunungan yang suhunya terbilang cukup rendah.
Pukul 08.00 kami berangkat, meluncur dari depan gedung UKM untuk menuju lokasi. Menggunakan dua truk yang sama besar, kami begitu menikmati perjalanan.
Keluar dari gerbang kampus, truk kami melaju cepat ke arah Ungaran,  kemudian berbelok ke arah Salatiga dan menuju desa wisata Kopeng. Lokasi yang akan kami gunakan untuk acara Kemah Jurnalistik.
Dua jam kemudian, jalanan yang berkelok-kelok menyambut kami, ditambah pemandangan alam pegunungan menjulang tinggi, kumpulan kabut membuat mata sulit melihat gunung Merapi dan Merbabu yang mengapit lokasi ini. Disetiap mata memandang, hamparan hijau terlihat begitu menyejukkan.
Pukul 11.00 kami tiba di lokasi. Aku dan beberapa temanku yang menjadi panitia langsung berjalan menuju medan yang cukup jauh, mencari beberapa titik untuk dijadikan pos saat jelajah alam nantinya.
Indah sekali pemandangannya, pohon pinus berjejer rapih menghunus sudut-sudut pinggiran jalan yang kami lewati. Sambil sesekali berfoto kami terus berjalan naik, menikmati pemandangan pohon pinus yang gagah, meski dingin mulai menusuk ke tubuh.
Tak lama kemudian para peserta sudah berkeliling menacari pos-pos sembari liputan di desa setempat. Sesuai yang ditugaskan, malamnya para peserta membuat majalah dengan kelompok mereka masing-masing dari hasil liputan. Kegiatan tersebut bertujuan agar nantinya saat mereka terjun langsung di UKM kami, membuat buletin, tabloid serta majalah mereka sudah berpengalaman.
Besoknya, meski dingin sangat menusuk tulang, pagi-pagi sekali selepas subuh, kami melakukan senam bersama-sama dan dilanjutkan dengan berbagai macam permainan. Keseruan dalam bermain membuat kami tak sadar bahwa hari semakin mendekati siang dan cahaya matahari mulai menyapukan kehangatan di tubuh kami. Semua itu membuat kami para panitia, lebih mengenal dan semakin dekat dengan anggota magang yang baru.
Hari kedua dalam acara KJ ini benar-benar kami habiskan untuk bersenang-senang. Setelah puas menikmati berbagai permainan yang seru, kami lanjutkan dengan agenda pentas seni (pensi) dari para peserta dengan kelompoknya masing-masing. Panitia pun tak ketinggalan untuk ikut andil.
Satu dua dan seterusnya kelompok menampilkan sesuatu yang berbeda. Ada yang mementaskan drama, bernyanyi dengan diiringi alunan musik gitar yang dimainkan, sampai berjoget sambil bernyanyi. Beberapa panitia ditunjuk untuk menjadi juri layaknya kontes pencarian bakat yang sering ditayangkan di televisi. Semua terlihat begitu larut dalam suasana bahagia yang tercipta.
Akhirnya sampai ke penampilan dari panitia, empat orang temanku tampil membawakan sebuah musikalisasi puisi yang begitu menggetarkan hati semua yang mendengarkan. Apalagi saat temanku tiba-tiba muncul dari dengan alunan puisinya. Hampir semua yang mendengarkan menangis haru.
Hari itu memang masih hangat momen Hari Ibu yang jatuh tepat satu hari sebelumnya. Dengan suara lantang penuh kasih sayang, temanku membawakan sebuah karya salah satu teman panitia, Dewi Komariyah.
Goresan Pena Untuk Ibu
Untuk harimu pun aku bingung akan memberikan apa padamu.
Ketahuilah ibu, setiap anak memiliki cara sendiri untuk memberikan tanda cintanya pada ibu mereka. Ada yang membuat masakan, membersihkan rumah, memberikan kado, memberikan kartu ucapan, memberikan syair atau hanya sekadar memeluknya di Hari Ibu. Akupun sama dengan mereka, Bu…
Untuk ibuku sayang…maaf, hanya baitan do’alah yang bisa kuberikan padamu di hari spesialmu. Kenangan masa lalu masih tersimpan di alam pikiranku. Seribu bunga ingin kutaburkan di depan rumahmu. Tetapi waktu dan keadaan berkata lain.
Semoga…do’aku dapat menemani dan mencahayaimu di rumahmu sana…
Ini puisi untukmu, ibu…
Meski jurang yang dalam memisahkan kita, ketahuilah ibu…
Kasihmu tak terlupakan
Meski ku tak dapat memelukmu, ketahuilah ibu…
Do’aku selalu mengiringimu
Kau tetap seperti dulu,
Bagai matahari di kala siang
Bagai rembulan di kala malam
Bagai embun yang sejuk





 Bagai sutera yang lembut.
Ibu… Selamat Hari Ibu…


Setelah berfoto bersama, Kamipun pulang dengan membawa sejuta kenangan indah yang kan selalu teringat sampai tua nanti. 



adsense 336x280

0 Response to " Kenangan di Moment Hari Ibu "

Post a Comment